Dari Phonograph Hingga Musik Digital

Sekali lagi industri rekaman di Indonesia melangkah maju. Meninggalkan keping cakram bernama CD, dan meluncur menuju dunia musik digital.

Dalam sejarah dunia rekam merekam dimulai saat Thomas Alva Edison menemukan Phonograph pada tahun 1857. Saat itu Thomas yang sedang keranjingan teknologi telekomunikasi menemui kesulitan saat harus merekam suara lawan bicaranya, dan menyalakan kembali hasil rekaman tersebut. Kemudian terciptalah Phonograph yang memindahkan suara, menjadi bentuk-bentuk dinamik pada kertas yang taburi arang halus. Seperti mesin ketik setelahnya, hasil rekaman pada kertas itu akan diperdengarkan kembali melalui alat Phonograph.
Setelah penemuan tersebut, bermunculan alat perekam lain seperti  Graphophone. Para ilmuwan meyakini bahwa alat tersebut dibuat pada 9 April 1860 oleh ilmuwan Perancis, Edouard-Leon Scott de Martinville. Graphophone lebih maju, karena mulai meninggalkan teknologi rekaman diatas kertas, dan menggantinya dengan piringan hitam.
 
Tahun 1963, langkah teknologi rekaman terutama untuk urusan musik makin dipermudah, setelah perusahaan Philips berhasil membuat kaset pita pertama. Teknologi itu menggunakan pita kaset berukuran kecil, yang dengan mudah menggusur piringan hitam karena kepraktisannya.
 
Penggunaan kaset dengan pita untuk rekaman makin menggejala, setelah perusahaan Sony memperkenalkan pemutar kaset praktis, bernama Walkman. Tekonologi Sony keluaran 1979 itu akhirnya meledak kemana-mana, lantaran sangat praktis dan bisa dijinjing dengan mudah.
 
Baru kisaran awal era 80-an, penggunaan keping cakram bernama CD mulai diperkenalkan. Pada masa itu penggunaan CD dianggap sebagai solusi paling mengena. Teknologi CD ini terus meruyak ke berbagai industri rekaman. Mulai dari musik, film, dan perangkat lunak komputer. Hingga kemudian mulai meredup pada era 90-an, karena era musik digital mulai merambah masyarakat modern, dan mendominasi hingga saat ini.
 
“Sebab pada masa itu orang banyak ingin memiliki lagu-lagu dalam satu kaset, tapi kaset pita tak bisa memenuhi kebutuhan tersebut karena hanya bisa menyimpan puluhan lagu saja, sementara CD bisa ratusan lagu,” kata M Qadasa, seorang penikmat musik CD yang tinggal di Depok.
 
Di Indonesia sendiri sejarah penggunaan rekaman musik, sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Tepatnya tahun 1920, seorang pengusaha musik bernama Thio Tek Hong mulai menjual berbagai piringan hitam di Jakarta. Kala itu jenis musik yang digemari kebanyakan berirama kroncong, melayu dan gambus. Pemakaian piringan hitam yang hanya untuk kelas tertentu, membuat teknologi tersebut hanya dikenal dikalangan elit saja.
 
Pada masa pergerakan kemerdekaan, keberadaan industri rekaman tak hanya diam. Dengan memanfaatkan Radio Republik Indonesia (RRI), para pejuang yang memiliki minat pada dunia rekaman mempersembahkan lagu-lagu perjuangan, seperti Maju Tak Gentar atau Halo-Halo Bandung.
 
Barulah saat era Orde Lama terjadi di Indonesia dunia rekaman musik makin mendapatkan tempat dihati masyarakat. Salah satunya perusahaan rekaman musik Irama yang berdiri pada 1954, kemudian banyak melahirkan penyanyi pada masa itu. tak kurang maestro-maestro penyanyi pada masa itu lahir melalui tangan dingin pemilik rekaman Irama.
 
Dengan menggunakan kaset pita, Irama masa masa itu berhasil menjual hingga ratusan ribu kopi. Membuat ngiler banyak orang, lantaran jumlah keuntungan yang dihasilkan. Termasuk juga makin meluasnya pembajakan musik.
 
Pembajakan ternyata tak hanya dilakukan oleh para pelaku illegal. Bahkan karena tak turut menandatangani perlindungan hak cipta “The Berne Convention”, banyk perusahaan rekaman legal seperti Hing’s bisa merekam lagu-lagu dari Eropa dan Amerika dengan seenaknya.
 
Kini jalan keluar yang dihasilkan adalah dengan adanya anak dari perusahaan rekaman internasional seperti Warner, Aquarius dan Sony di Indonesia. Namun dengan cara tersebut ternyata tak juga bisa menghindari CD dari dunia kepunahan, lantaran makin kuatnya desakan musik digital yang bisa diunduh dengan mudah di internet.
 
Kembali ke Piringan Hitam
Kini banyak orang menyalahkan para pembajak, lantaran makin redupnya bisnis keping CD. Salah satu bukti keredupan tersebut merupakan fenomena akan ditutupnya sebagian besar gerai yang dimiliki penjual CD Disc Tarra, di seluruh Indonesia. Menurut penjelasan dari pihak Disc Tarra, tidak semua gerai akan ditutup. Terutama gerai di Jakarta akan tetap dipertahankan.
 
Namun tetap saja, bagi sebagai pecintanya tutupnya gerai Disc Tarra secara besar-besaran menunjukan keterkaitan pada makin meredupnya musik nasional Indonesia.
 
Diantara berbagai pesimisme tersebut, ternyata masih ada beberapa pengusaha rekaman musik yang justru melihat celah terang. Seperti juga yang diakui para penjual musik piringan hitam di wilayah Pasar Santa Jakarta. Menurut mereka, kemajuan teknologi tak bisa dihindarkan, tapi kalau pintar bisa dibuktikan ada beberapa hasil teknologi rekaman, seperti piringan hitam yang sangat sulit untuk dibajak.
 
Hal itu juga yang diakui oleh Samson Pho, salah seorang penjual piringan hitam di Pasar Santa. Menurutnya saat ini para pemusik tetap bisa memproduksi hasil karya mereka secara fisik, dengan kembali menggunakan piringan hitam. Sebab menurutnya CD merupakan bentuk produk rekaman yang sangat mudah dibajak.
 
“Budaya buruk pembajakan sudah mengakar dalam masyarakat, yang mengakibatkan toko-toko musik besar bangkrut. Sedangkan piringan hitam dan kaset sangat sulit dibajak, sehingga para pembajak malas mengopi ulang bentuk rilisan fisik tersebut,” ungkap Samson.
 
Selain itu menurutnya piringan hitam juga terbukti lebih tahan lama. Setidaknya ada piringan hitam yang sudah berumur 50 tahun, tapi tetap dalam kondisi baik saat diputar kembali.
 
Kini para pengguna manfaat dari rekaman, terutama musisi seperti dihadapkan kembali pada pilihan mengulang masa lalu. Sementara toko-toko musik yang tak dapat melihat masa depan, justru akan bergelimpangan tak berdaya. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s