Upaya Menyelamatkan Danau Bali

Dari Mengusir Hingga Memberdayakan Masyarakat
Eceng Gondok Danau Batur_slgBerbagai upaya telah atau sedang dilakukan saat ini, untuk mengurangi masalah yang mendera empat danau di Bali. Mulai dari pengerukan pendangkalan, hingga pemberdayaan masyarakat untuk turut serta mengurangi masalah. Satu solusi yang cukup keras juga diberlakukan melalui pengusiran masyarakat illegal yang tinggal dipinggir danau.

 Itu yang terjadi pada masyarakat dipinggir danau Tamblingan, belum lama ini. Pangkal masalah terjadi karena mekin membludaknya warga yang mendirikan pemukiman diwilayah tersebut. Menurut data yang ada, awal membesarnya pemukim di area itu terjadi pada tahun 1991. Saat itu keluar keputusan kalau warga Bendega yang berasal dari daerah Catur Desa diperbolehkan tinggal dipinggir danau Tamblingan. Awalnya izin hanya diberikan agar warga dapat bertugas menjaga dan memelihara tempat-tempat suci yang berada didaerah itu. Tapi kemudian makin banyak masyarakat luar yang datang, dan juga menetap disana.
Kondisi tersebut secara jangka panjang ternyata menyebabkan polusi dan pendangkalan di Tamblingan makin menjadi. Segala upaya kemudian dilakukan untuk merelokasi pendatang baru tersebut. Namun sangat sulit, karena kebanyakan warga telah beranak pinak diwilayah itu.
Ujungnya konflik besar justru terjadi. Pemerintah bersikeras memindahkan warga, sementara warga bersikeras tinggal. Hingga akhirnya mereka mau berpindah, dan peninggalan rumah mereka dibakar.
Pengerukan
Masalah utama mengenai pendangkalan danau sebenarnya telah diketahui puluhan tahun silam. Salah satu solusi paling mendasar ialah dengan mengeruk sedimen didasar danau sebanyak-banyaknya.
Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika menjelaskan kalau proses pengerukan tidak semudah membalikan telapak tangan. Seperti yang ada saat ini, ada pihak yang mau melakukan pengerukan namun dengan meminta imbalan hak guna lahan dipinggir danau Buyan, untuk usaha pariwisata.
Meskipun izin prinsip pengerukan danau sudah dikantongi, namun Mangku Pastika tampaknya masih belum memutuskan izin operasional pengerukan. Alasannya masih mempertimbangkan kelestarian kawasan danau, bilamana situs wisata berdiri dilokasi tersebut.
Pemikiran itu yang tampaknya sejalan dengan rekomendasi Ni Luh Kartini, seorang peneliti senior ilmu tanah di Universitas Udayana. Kartini yang ditemui disela aktivitasnya mengajak siswa sekolah SMK 2 Kintamani mengolah eceng gondok, mengatakan seharusnya pemerintah tak hanya memikirkan masalah ekonomi dalam solusi masalah danau di Bali.
Seperti pemberian kompensasi hak guna lahan untuk pariwisata, bila membantu proses pengerukan sedimen danau. “Bisa dibayangkan kalau semakin banyak orang membuka lahan wisata, justru akan semakin banyak penyebab polusi danau itu lagi,” analisa Kartini.
Menurutnya solusi masalah danau di Bali bisa dilakukan dari hal-hal yang kecil dulu. Seperti mengajak masyarakat untuk mengolah salah satu penyebab pendangkalan, seperti eceng gondok.
“Eceng gondok mungkin hanya sebagian kecil masalah yang ada di danau Batur. Tapi dengan menyelesaikan masalah kecil itu, bisa selesai urusan besar didalamnya,” kata Kartini.
Pemberdayaan Masyarakat
Bekerjasama dengan pihak sekolah SMK 2 Kintamani, bertahun-tahun Kartini mengajarkan cara mengolah eceng gondok menjadi humus. Produk itu yang nantinya akan menjadi pupuk bagi pertanian organik, yang seharusnya menjadi contoh model terbaik di masa depan.
Bila melihat daerah Kintamani secara keseluruhan, sebagian besar ternyata dipergunakan sebagai tegalan untuk bertani. Namun sayangnya sebagian besar pertanian tersebut masih menggunakan pestisida dan pupuk kimia didalamnya. Anasir kimia dan pestisida itu yang kemudian diperkirakan sangat mempengaruhi kualitas air danau Batur pada akhirnya.
Tingkat polusi yang tinggi terlihat jelas, dari banyaknya tumbuhan gulma seperti eceng gondok dipermukaan danau. Disatu sisi hal tersebut menjadi masalah, namun sebenarnya disisi lain bisa menguntungkan.
Bersama-sama dengan murid SMK 2 Kintamani, mereka bergotong royong mengambil eceng gondok yang banyak berada dipinggir danau. Kepala SMK 2 Kintamani, Nyoman Muliawan mengatakan kalau aktivitas itu sangat baik bagi siswa-siswanya.
“Mereka dari muda sudah diajarkan untuk melestarikan danau. Meskipun mungkin nilainya kecil, namun akan dibawa hingga mereka dewasa nanti, dan bisa ditularkan ke keluarga atau kerabat mereka,” ujar Muliawan.
Menurut penjelasan Muliawan bisa puluhan karung besar dalam sehari eceng gondok yang dikumpulkan. Baru kemudian dijemur, dihancurkan dan dibiarkan membusuk hingga mengering. Hasil itu yang kemudian dijadikan pupuk alami.
Sayangnya hingga kini saluran penggunaan pupuk alami tersebut masih tersendat, dan hanya dalam jumlah yang kecil. Bilamana kemudian pertanian organik menjadi dominan dikalangan masyarakat Tamblingan, mungkin hasil pupuk itu bisa disalurkan dengan lebih baik. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s