Selamatkan Danau Selamatkan Bali

Ada empat danau besar yang berada dipucuk-pucuk pulau Bali saat ini. Keempatnya berasal dari kawah gunung api, yang sebelumnya meletus. Hasil letusan mengakibatkan ruang-ruang terbuka berbentuk seperti kuali besar. Karena berbentuk seperti itu, maka sangat mudah menampung air didalamnya.

 Air yang terperangkap didalam cekungan, kini terlihat seperti danau dan dikenal dengan berbagai nama. Bagi orang Bali keempat danau itu disebut sebagai Catur Danu. Tiga danau berada tak jauh satu sama lain, yaitu danau Buyan, Tamblingan dan Beratan. Sementara satu danau yang lain terpisah lebih ke timur, dan menjadi yang terbesar dikenal dengan nama danau Batur.
Danau Buyan dan Tamblingan banyak disebut orang sebagai danau kembar. Bisa jadi karena posisinya berdekatan, dan berasal dari kawah gunung yang sama. Berada seperti di tengah atas pulau Bali, kedua danau itu tak berbeda jauh besar sama sekali.
Berjarak satu kilometer ke arah selatan, bertengger danau Beratan. Daerah ketiga danau ini terkenal masih sangat alami, dengan hutan terhitung masih lebat mendominasi.
Ketiga danau itu terletak diketinggian bervariasi antara 1.210 hingga 1.350 meter diatas permukaan laut (mdpl). Maka dapat dikatakan ketiga danau ini berada di atas gunung, menurut klasifikasi Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia.
Serupa juga dengan danau Batur. Danau yang terbentuk karena rekahan erupsi gunung Batur itu, terletak diketinggian 1.050 mdpl. Berhawa sejuk saat berkesempatan menjenguknya, minggu kedua November 2015.
Letak danau yang berada diketinggian ini yang membuatnya menjadi sangat strategis. Tampungan air danau, pada akhirnya akan menghasilkan sungai atau sumber mata air bagi manusia. Menjadikannya seperti nyawa yang harus dipertahankan, lantaran mengaliri keseluruhan sungai di Bali.
Terancam Hilang
Sayangnya saat ini kondisi keempat danau itu kini terus mengalami tekanan, baik dari manusia maupun dari lingkungan. Seperti danau Buyan, karena makin banyak manusia yang tinggal dipinggir-pinggirnya, membuat luas danau makin menyempit.
Belum ditambah dengan pendangkalan, akibat sedimentasi. Kini diketahui danau Buyan telah mengalami penyusutan sebanyak 60 hektare (ha), dari luas semula sebesar 478,33 ha. Penyusutan itu terjadi akibat sedimentasi yang telah terjadi selama bertahun-tahun.
Hal itu yang kemudian menyebabkan tiap berganti musim, penduduk disekitarnya menjadi bermasalah. Seperti saat musim hujan awal tahun lalu, tiba-tiba jumlah air bisa melonjak drastis. Lonjakan terjadi karena air tak tertampung di danau yang makin dangkal dan menyempit. Kemudian menyebabkan banjir di daerah sekitarnya.
Sementara saat musim kering, air danau bisa tiba-tiba menyusut drastis. Data terakhir menyebutkan air danau Buyan menyusut hingga 30 centimeter (cm), saat puncak musim kemarau terjadi di bulan Agustus.
Situasi di danau Batur tak jauh berbeda. Namun selain sebab sedimentasi, penyusutan danau Batur juga terjadi lantaran banyaknya gulma seperti eceng gondok.
“Eceng gondok yang mati akan tenggelam ke dasar danau, menyebabkan tingkat pendangkalan akan makin cepat,” kata Ni Luh Kartini, peneliti ilmu tanah Universitas Udayana Bali.
Sayangnya kurang diketahui tepatnya jumlah sebaran eceng gondok di danau Batur. Namun dalam pandangan mata saat melihat lokasi, terlihat eceng gondok memenuhi sebagian besar batas danau Batur.
Indikasi Pencemaran
Banyak orang saat ini dengan mudah berasumsi. Makin banyak eceng gondok, berarti menandakan tingkat nutrient didalam air tinggi. Tapi nutrient itu tak berasal secara alami, melainkan berasal dari polutan daerah disekitarnya.
Hal itu juga yang diamini Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara (PPE Bali Nusra) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rijaluzzaman. Menurutnya dampak pencemaran terbesar di danau Batur, justru berasal dari limbah penduduk disekitarnya.
Secara keseluruhan menurut penelitian yang dilakukan PPE, bekerjasama dengan PPLH dan Fakultas Pertanian Universitas Udayana tahun 2010 menunjukan sumber pencemar danau Batur bisa berasal dari pemukiman, pariwisata, perikanan dan pertanian. Setelah dilakukan penelusuran, perikanan menjadi penyebab terbesar karena adanya Karamba Jaring Apung (KJA).
Limbah nitrogen dari KJA merupakan unsur terbesar penyebab polusi, sebanyak 63.024 ton per tahun. Sementara aktivitas pemukiman penyumbang polusi terbesar kedua sebesar 229.558 meter kubik (m3) per tahun. Kegiatan wisata turut menyumbang polusi danau Batur juga, sebesar 4.594 m3 per tahun.
Akibat polusi tersebut maka baku mutu kesehatan air danau Batur kini semua sebenarnya sudah melewati batas aman. Sehingga direkomendasi agar pemakai air danau Batur, mengolahnya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi manusia.
“Selain itu sepertinya juga perlu diperkenalkan sistem pertanian organik, agar tak terlalu banyak limbah pestisida yang masuk ke dalam danau,” tambah Rijaluzzaman.
Pendangkalan dan pencemaran yang menghantui empat danau di Bali, pada akhirnya akan menyebabkan katastropi bagi masyarakat. Tak terbayangkan bila kondisi tersebut terus didiamkan, maka dapat dipastikan hanya dalam hitungan beberapa dekade ke depan, pulau Bali yang sentosa akan berubah menjadi bencana. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s