Berlari Untuk Kepuasan Diri

“Run Forrest…run,” demikian kata-kata yang terngiang-ngiang usai menonton film Forrest Gump. Tokoh idiot yang dibintangi oleh Tom Hanks tersebut memang kemudian benar-benar terus berlari, mengikuti anjuran ibunya. Ia berlari bahkan hingga jauh tak terkira. Membuat orang-orang kemudian mengikutinya, dan bahkan merubah sejarah.

Kalau pernah merasakan lari jarak jauh, mungkin benar saja seseorang bisa menjadi idiot seperti Forrest Gump. Rasanya otak tak bekerja lagi secara sempurna, dan gerak yang dilakukan otomatik terjadi hanya karena spontan.

Seperti itu juga yang dirasakan para pelari ultra yang pernah merasakan rute hingga sejauh 100 kilometer. Hampir mendekati jarak dua kali bolak-balik Jakarta-Bogor. Belum lagi masalah rintangan alam, karena kerap olahraga super itu dilakukan di gunung-gunung atau hutan terbuka.

“Sulit mengatakan mencari kesehatan bila mengikuti lomba seperti itu. Jarak yang ditempuh bisa ratusan kilometer, dengan istirahat yang kurang. Begadang saja sudah tak sehat, apalagi ini harus berlari paling tidak selama 40 jam, dan istirahat hanya 40 menit saja,” kata Fandi Ahmad, yang pernah merasakan salah satu kejuaraan bergengsi Ultra Marathon du Mont Blanc (UMTB).

Waktu itu Fandi Ahmad atau Agi bahkan berlari hingga 140 km. Dengan waktu yang terbatas, dan istirahat kurang. Namun setidaknya menurut Agi, ia berhasil memecahkan rekor peserta dari Indonesia sebelumnya. Dimana ia bisa lebih cepat empat atau lima jam, dari peserta dari Indonesia yang pernah mengikuti lomba serupa sebelumnya.

“Kalau sudah berlari sejauh seperti itu, otak sepertinya sudah berhenti bekerja. Yang bisa meneruskan hanya yang bermental kuat, dan meninggalkan logika jauh-jauh dibelakang,” ujar Agi.

Jadi seperti Forrest Gump yang idiot, lomba lari jenis ultra memang menuntut hal yang lebih dari hanya sekedar fisik yang kuat.

Tren Baru

Kini orang-orang memang mencari hal-hal yang diluar batas. Salah satunya dengan mengikuti lomba lari hingga ratusan kilometer seperti itu. Uniknya bukannya berkurang, justru peserta lomba lari seperti itu justru makin meningkat.

Awalnya tak dipungkiri pasti lantaran mengikuti tren. Dari mulai berlari biasa-biasa saja untuk menjaga kesehatan, hingga kemudian mencari sensasi dengan mengikuti lomba-lomba lari, yang menempuh jarak teramat jauh.

Hal itu juga yang tak dipungkiri oleh Agi. Ia yang mulanya seorang pendaki gunung, juga melirik tren baru tersebut. Tak ada yang bisa memuaskan dirinya, selain bisa lebih cepat dari yang lain saat mendaki gunung.

Makin lama makin banyak orang yang melakukan hal serupa. Nefo Ginting, salah seorang penyelenggara lari ultra seperti itu di Indonesia juga tak memungkirinya.

“Makin kesini, makin banyak peserta lomba lari jarak jauh di alam. Dulu pertama kali lomba seperti itu digelar di gunung Rinjani, hanya 115 orang saja yang mendaftar. Tahun 2015 ini bahkan peserta bisa mencapai 600-an orang,” kata Nefo, Kamis (12/11).

Berarti ada peningkatan lebih dari dua kali lipat, sejak lomba lari ultra pertama kali digelar. Terakhir lomba serupa juga dilakukan di kawasan gunung Bromo Tengger Semeru. Pesertanya jangan dikira sedikit, bisa ratusan jumlahnya.

Secara tren, jumlah peserta yang meningkat justru dikalangan usia lebih dari 40 tahun. Usia dimana seseorang mulai memikirkan sakit pinggang, atau sendi. Salah satu yang menarik, secara gender, peserta dari kalangan perempuan juga meningkat drastis.

“Prosentase pelari ultra dari kalangan perempuan memang masih kalah dari jumlah lelaki. Sekitar 60:40, tapi jumlah itu sudah lebih banyak dari sebelumnya,” tambah Nefo lagi.

Batas Diri

Bila ingin ditelusuri mengapa orang-orang melakukan hal tersebut, jawaban yang paling masuk akal hanya ingin mengetahui batas kemampuan diri, dan berusaha untuk melewatinya. Tanpa keinginan tersebut, nyaris tak ada pelari yang mampu menyelesaikan lomba yang sangat menguras tenaga seperti itu.

Namun yang jelas bagi kebanyakan pelari, hal-hal seperti latihan yang baik juga harus dilakukan untuk menyelesaikan hingga finish lomba.

“Sama seperti lomba lari lainnya, kita juga harus berlatih dengan baik. Bahkan bisa berbulan-bulan sebelumnya,” tambah Agi.

Selain latihan yang baik, juga diperlukan peralatan yang memadai. Menurut Agi banyak pelari gagal di lomba lari jenis ultra, lantaran alat yang dibawa teramat buruk. Termasuk didalamnya sepatu, dan perangkat pendukung lain.

Usai melakukan lomba, seorang pelari juga harus melakukan proses pemulihan yang sesuai. Bahkan yang ideal, seorang pelari ultra seperti itu, hanya bisa mengikuti lomba sebanyak dua kali selama setahun. Selama kurun waktu enam bulan, dapat digunakan untuk latihan, menjalani lomba dan melakukan pemulihan. Kalau sedikit saja menyeleweng dari formula tersebut, maka dapat dipastikan seorang pelari ultra tak akan menikmati waktu sehat yang lama. Justru akan mengalami cedera berkepanjangan, dan tak kunjung usai menjalani pengobatan. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s