Merubah Kemudi CSR Kearah Perbaikan Bangsa

Ada dua buah warung dibuka bersamaan, dengan posisi bersebrangan jalan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun kemudian, salah satu warung mangkrak dan ditutup karena terus merugi. Sementara satu warung yang lain terus maju, dan bertambah besar.

Ternyata warung yang mangkrak merugi karena pengunjung terus menurun. Kebanyakan pelanggan diketahui berpindah ke warung satunya yang terus maju dan besar. Usut punya usut ternyata kebertahanan warung yang terus maju dan besar, bukan lantaran produk yang dijual saja. Melainkan juga akibat partisipasi aktif pemilik warung terhadap kondisi sekitarnya.

Pemilik warung yang besar kerap datang dan memberi bantuan, saat salah seorang warga sekitar mengalami musibah. Ia juga sangat memperhatikan kebersihan sekitar warung, hingga pelanggan nyaman. Selain juga turut membantu dalam membersihkan mushalla dan menolong yatim piatu, terutama untuk urusan sekolah.

Hasil partisipasi itu kemudian akan menimbulkan kepercayaan dan pandangan baik. Menghasilkan reputasi yang kemudian berdampak pada usaha ekonomi yang dilakukan. Sehingga masyarakat lebih percaya membeli di warung satu, daripada yang lain.

Dalam konteks sebuah perusahaan besar, penumbuhan reputasi tersebut makin dirasa perlu dilakukan. Mengingat dalam berbagai studi disebutkan kalau persepsi subyektif pelanggan menentukan keputusan transaksi yang akan mereka lakukan. Sehingga diperlukan sebuah program untuk mendongkrak citra baik tersebut, dan pada akhirnya mengharapkan laba lebih tinggi untuk perusahaan.

Masa awal-awal konsep tersebut dijalankan, orang-orang mengenalnya dengan nama corporate philantropis. Dimana perusahaan bersicepat untuk menyumbangkan sebagian hartanya atas dasar sosial dan kemanusiaan. Baru kemudian berganti-ganti istilah hingga kini lebih dikenal dengan gaung Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibilities/CSR).

“Lebih dari setengah dari manusia di muka bumi ini sangat memperhatikan faktor kepercayaan, kekaguman dan pandangan baik terhadap sebuah perusahaan berdasarkan persepsi mereka terhadap CSR yang dilakukan perusahaan tersebut,” kata Kasper Ulf Nielsen dari Reputation Institute, yang berbasis di Amerika Serikat.

Ucapan tersebut diungkapkan Kasper usai mengumumkan 10 perusahaan internasional yang dianggap terbaik dalam mengimplementasikan program CSR perusahaan mereka, Oktober 2013. Dalam penghitungan nilai CSR tersebut, Reputation Institute menggunakan metode RepTrak. Dimana mereka menghitung nilai empat indikator emosional masyarakat terhadap sebuah perusahaan. Keempat indikator tersebut merupakan kepercayaan, keyakinan, penghormatan, dan pandangan baik. Sementara dimensi implementasi dinilai berdasarkan lokasi kerja, pemerintahan, warga negara, performa keuangan, kepemimpinan, jasa dan produk, serta inovasi.

Hasilnya empat perusahaan menempati peringkat pertama, karena memiliki nilai akhir yang tak jauh berbeda. Keempatnya merupakan The Walt Disney Company, BMW, Microsoft dan Google.

Salah satu pemenang, yaitu Google dianggap memenuhi kategori lokasi kerja. Dimana Google dianggap mampu membuat orang-orang merasa nyaman menggunakan produk mereka. Selain itu Google juga memberikan donasi bagi pengembangan perasaan nyaman tersebut, agar masyarakat juga turut berkembang seperti mereka.

Jacquelline Fuller, Direktur dari program Google Giving menampik eksklusifitas yang kerap dilontarkan orang-orang terhadap perusahaan mereka. “Kami berinvestasi besar untuk pengembangan kewirausahaan sosial, dimana nilai tersebut akan menjadi dasar seseorang terus berkembang seperti Google,” ujar Fuller.

Dalam tiga tahun terakhir saja, Google diketahui telah mendonasikan hibah sebesar US$ 353 juta untuk berbagai kalangan diseluruh dunia, untuk pengembangan kewirausahaan sosial. Sementara itu iklan gratis, aplikasi dan produk gratis Google senilai US$ 3 miliar, juga menjadi bagian dari program CSR Google yang harus diakui memang paling pas secara konteks bagi kemaslahatan masyarakat.

Di Indonesia, banyak perusahaan juga sudah menjadikan CSR sebagai salah satu nadi penting. Namun bedanya di Indonesia, nilai-nilai CSR sebenarnya telah dimahfumi sebagai salah satu budaya yang telah dijalankan turun temurun. Seperti sifat saling tolong menolong, gotong royong dan menyisihkan sebagian harta untuk kemanusiaan. Salah satu perusahaan yang paling terkemuka dalam menjalankan hal tersebut adalah PT Astra Internasional.

Yulian Warman, Kepala Hubungan Masyarakat PT Astra Internasional mengatakan nilai penghormatan terhadap kemanusiaan sudah ada sejak dulu, saat Astra pertama kali hadir di Indonesia. Menurutnya nilai dasar tersebut termaktub dalam filosofi perusahaan yang dikenal dengan nama Catur Dharma.

“Butir pertama Catur Dharma Astra tersebut rasanya isi yang terkandung dan bahkan turunannya, menurut kami, sudah lebih dari nilai-nilai hak asasi manusia, karena tidak mungkin Astra menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara kalau tidak menegakkan nilai-nilai hak asasi manusia,” urai Yulian melalui surat elektronik, Kamis (12/11).

Berbagai program digulirkan Astra untuk mencapai tujuan itu. Setidaknya ada empat pilar yang menjadi fokus program CSR mereka, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan dan Usaha Kecil Menengah.

Dalam implementasinya Astra telah mengadakan ambulans keliling sekitar perusahaan, untuk mengadakan layanan kesehatan gratis. Selain itu sudah memberikan 149.245 paket beasiswa bagi kalangan tak mampu. Mereka juga menanam hingga 3.333.456 pohon dan 805.346 mangrove. Dan setidaknya ada 671 kelompok masyarakat yang terus dibina untuk mengembangkan usaha kecil menengah mereka.

“Kami tak akan mampu menyelesaikan berbagai masalah bangsa ini sendirian. Tapi setidaknya dengan CSR ini, kami telah memberikan sesuatu hal yang baik kepada masyarakat,” tambah Yulian.

Program CSR pada kenyataan telah memberikan dampak baik bagi masyarakat. Salah satu yang mengakui hal tersebut adalah seorang tuna netra asal Surabaya bernama Tutus Setiawan. Ia merupakan salah satu penerima apresiasi Satu Indonesia 2015, yang digagas Astra.

“Saya melihat permasalahan teman-teman disabilitas tunanetra di Surabaya ini sangat banyak, terutama kami mengalami diskriminasi dalam banyak hal,” ujar Tutus

Tutus yang kecewa dengan stigma masyarakat terhadap kaum tuna netra, kemudian berinisiatif mendirikan Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT). Hasilnya, salah seorang asuhan mereka berhasil menjadi juara lomba bidang teknologi informasi, dalam kejuaraan Global IT Challenge di Jakarta beberapa waktu lalu.

Berbekal hati nurani yang baik, program CSR ternyata tak semata mencari keuntungan saja. Dengan arahan dan keterkaitan satu sama lain, seharusnya CSR bisa menjadi motor besar penggerak perbaikan bangsa. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s