Menggamit Empat Puncak Salju Indonesia

Dua jurnalis berhasil mengatasi rintangan berat mendaki Puncak Carstensz.

Wajah Maximus Tipagau sepertinya luruh. Ada titik air mata disana. Diantara garis-garis wajah keras khas Papua miliknya. Isaknya tak tertahan saat mengumumkan peserta ekspedisi tak memiliki harapan lagi. PT.Freeport Indonesia tak memberikan izin bagi tim ini menggunakan jalur lintasan kerja tambang mereka. Sehingga pintu menuju puncak tertinggi nusantara, gunung Carstensz Pyramid sepertinya kembali terhalang tembok tinggi.

Sebagian besar anggota tim Journalist Carstensz Expedition 2015 yang berhasil mencapai Sugapa, pertengahan Agustus 2015.

Sebagian besar anggota tim Journalist Carstensz Expedition 2015 yang berhasil mencapai Sugapa, pertengahan Agustus 2015.

Maximus, anak Papua yang memiliki pikiran berbeda. Namanya lama bergaung dikalangan petualang. Ia anak pribumi yang mendobrak pemikiran lokal, dan turut bersaing dalam kancah wisata minat khusus petualangan di Indonesia.

Gunung Carstensz Pyramid, yang merupakan salah satu gunung tertinggi di dunia, menjadi pusat upayanya mengembangkan tanah kelahiran. Ia lahir sebagai anak suku Moni, di Papua. Secara turun temurun suku Moni memiliki ikatan erat dengan gunung Carstensz. Bapak moyangnya mengklaim sebagian besar wilayah gunung itu adalah milik mereka. Lantaran itu daerah berburu dan melintas mencari garam.

Lalu pantas bila Maximus kemudian mengundang jurnalis untuk mendatangi gunung itu. Agustus 2015 ini, merupakan waktu yang tepat untuk menjalankan niat itu. “Biar jurnalis bisa tahu dan membicarakan mengenai gunung itu, beserta seluruh masalah didalamnya,” urai Maximus, saat menerima para jurnalis dikediamannya.

Ada sepuluh jurnalis kemudian tergabung dalam misi itu. Dengan nama “Journalist Carstensz Expedition 2015” kesepuluh jurnalis berangkat dengan keyakinan dan persiapan masing-masing menuju puncak kejayaan. Tanggal 9 Agustus, semua berkumpul di Timika, lengkap dengan ransel-ransel besar. Tercatat ada media seperti Kompas, Metro TV, Media Indonesia, Indopos, Bisnis Indonesia, Detikcom dan Sinar Harapan turut ambil bagian.

Kini kesepuluh jurnalis itu termangu. Sedah seminggu kini kami terkatung-katung tanpa nasib yang jelas di Timika. Penolakan PT.Freeport jelas membuat kami semua seperti diganjal dan tersungkur kembali. Dalam rapat terakhir yang diiringi isak tangis Maximus, tampak jelas masih ada beberapa jurnalis yang tetap ingin melanjutkan perjalanan. Tapi beberapa yang lain memutuskan mundur. Pilihan jalur lain menuju puncak Carstensz melalui jalur hutan Ugimba, jelas bukan pilihan sembarangan. Jalur itu terkenal tak kenal ampun, melintas hutan belukar lebat selama berhari-hari, bertemu dengan orang-orang suku Papua pedalaman, sebelum akhirnya menemui hutan purba dan tebing-tebing tinggi tajam dengan lapisan salju diatasnya.

Dihadang OPM

Baru tanggal 15 Agustus akhirnya pesawat perintis bisa membawa anggota tim menuju Sugapa. Kini anggota tim jurnalis tinggal berjumlah sembilan orang. Wakil dari Kompas sudah memutuskan kembali ke Jakarta, saat tim memutuskan akan melalui jalur Ugimba untuk menuntaskan misi ini.

“Sudah keputusan kantor, saya harus kembali ke Jakarta dan tak melanjutkan perjalanan ini,” kata Ambrosius Harto dari Kompas dengan muka sedih.

Mimpinya melengkapi koleksi tujuh pegunungan tertinggi di dunia pasti pupus sudah. Sebelumnya ia cerita pernah melihat dan mendaki gunung Elbrus di Rusia. Pernah juga mengunjungi gunung Kilimanjaro di Afrika. Sekarang saat kesempatan mampir ke Carstensz datang, justru hancur karena keterbatasan profesi dan kemampuan.

TImbang badan sebelum naik pesawat perintis ke Sugapa, Papua.

Timbang badan dan berat bawaan sebelum naik pesawat perintis ke Sugapa, Papua.

Saat akan naik pesawat perintis di ke Sugapa dari Timika, tiba-tiba dikabarkan pesawat itu rusak. Harus berganti ke pesawat yang lebih kecil. Sehingga beberapa barang logistik dan peserta tim harus dipisahkan dalam dua kali penerbangan. Ujungnya tiba di Sugapa dengan anggota tim yang kembali berkurang. Teman dari Bisnis Indonesia tak terbawa, serta urusan logistik jadi harus dilengkapi kembali.

Malam harinya usai mengenal sungai dan daerah Sugapa, kembali digelar taklimat. Diputuskan tim jurnalis yang tersisa di Sugapa, terus melanjutkan perjalanan ke Ugimba pada esok pagi. Perlu satu hari perjalanan dari Sugapa menuju Ugimba. Kembali tiga jurnalis dari Metro TV dan Media Indonesia memutuskan mundur.

Edy Pras, jurnalis paling senior dari tim Metro TV dan Media Indonesia jelas berpikir waras, untuk tidak melanjutkan perjalanan melalui Ugimba. Secara fisik perjalanan tidak akan mudah, tanpa persiapan yang baik maka sama saja cari penyakit melintas jalur tersebut. Maka ia dengan lapang dada memutuskan kembali, setelah meliput beberapa hal di Sugapa.

Kini hanya tersisa tiga jurnalis saja. Afif Farhan dari detikcom menjadi salah satu yang berkeras hati terus melanjutkan perjalanan. Satu yang lain adalah Tatang dari Papua Travel, yang juga berkeras ingin menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Satu lagi yang lain adalah saya sendiri dari Sinar Harapan.

Benar saja perjalanan ke Ugimba dari Sugapa, bukan rintangan yang mudah. Naik turun bukit, terpanggang panas karena hutan terbabat menjadi perkebunan dan tradisi palang pintu serta harus membayar menghiasi setengah hari perjalanan.

Ada beberapa desa harus dilewati sebelum mencapai Ugimba. Ada Galugama, Bulapa, dan Gamagai. Setelahnya melintas sungai Wayabu, yang membuat keram kaki bila berendam lama didalamnya. Baru setelahnya mendaki bukit Ugimba, dan turun ke lembah dalam yang melintas sungai Kemabu. Dimana dipinggir-pinggirnya menghampar ladang-ladang ubi dan sayur penduduk suku Moni di Ugimba.

Jalur Pendakian Carstensz via Ugimba

Jalur pendakian Carstensz Pyramid melalui Ugimba

Mencapai rumah Honai pertama di Ugimba, malam sudah merudung. Semua gelap, hanya senter di kepala membantu penerangan. Didalam Honai tampak Maximus yang mengantarkan berbicara dengan penduduk didalamnya. Suasana terasa ceria dan ramai, dan penduduk mengantarkan hingga ke jembatan bawah desa.

Di ujung jembatan, tiba-tiba rombongan dihadang sekelompok orang. Kebanyakan laki-laki dan membawa obor, parang, serta sejumlah senjata. Mereka kemudian berbicara keras dengan Maximus. Suasana sepertinya tidak kondusif sama sekali.

Tiba-tiba ditelinga saya, diantara keremangan malam ada berbisik. “Mereka orang OPM bapak,” katanya. “Tapi tenang saja bapak, semua pasti beres,” ujarnya lagi.

Desa Ugimba memang sebelumnya terkenal sebagai sarang separatis Papua. Organisasi Papua Merdeka (OPM), menjadi wadah politik gerakan separatis tersebut. Mereka sebelumnya terkenal dengan aksi berbagai penembakan di Papua. Tujuan organisasi tersebut jelas, ingin melepaskan diri dari Indonesia.

33a.Hari IV_Jembatan kemabu2

Melintas jembatan rotan diatas sungai Kemabu, sebelum mencapai daerah Endaiga.

Sebelum perjalanan Maximus memang sudah juga bercerita tentang hal itu. Tapi ia tetap menekankan agar kami tidak terpengaruh dengan isu tersebut. Menurutnya dulu memang Ugimba ada yang menjadi OPM, tapi sekarang tidak lagi.

Tapi kenyataannya, orang-orang yang menghadang ini jelas menunjukan sikap kasar. Sikap bermusuhan, dan mungkin benar merupakan bagian dari OPM yang tidak senang dengan kehadiran kami.

Semua anggota tim kemudian digiring ke perbukitan setelah jembatan. Sebelumnya jam tangan, kamera dan telepon genggam kami mereka sita. Suasana tegang belum hilang begitu saja. Hingga mencapai rumah penginapan tamu di Ugimba, mereka masih meminta kartu tanda penduduk dan membawanya.

Saya tak bisa berbuat banyak. Dalam kondisi kelelahan setelah berjalan jauh dari Sugapa dan Ugimba, membuat pilihan agar tak melawan hadangan ini menjadi yang terbaik. Hingga suasana kemudian menjadi melunak, baru kemudian kami tidur dikamar-kamar yang terpisah.

Sebelum tertidur, Afif Farhan dari detikcom membisikan sesuatu. “Saya harus pulang. Sesuai pesan redaksi di Jakarta, kalau bertemu OPM sebaiknya kembali saja ke Jakarta,” katanya dengan suara masih tertekan.

Ujungnya bukan Afif yang pulang, justru Tatang yang beranjak pergi. Tatang sepertinya naik turun emosinya dalam melanjutkan perjalanan. Sekali dia bilang, sekali berikutnya ia bilang ingin pulang. Akhirnya ia benar-benar pulang, mengikuti kurir dari Ugimba yang membawa flashdisk saya yang berisi artikel untuk Sinar Harapan.

Lihat artikel : Upacara Kemerdekaan di Kantong Bintang Kejora

Afif justru tetap bertahan, setelah melihat pesta 17 Agustus dan bakar batu di Ugimba. Tak pernah ia membicarakan lagi tentang pesan dari rekan redaksinya di Jakarta.

Sore hari di desa Ugimba, Papua, pertengahan Agustus 2015.

Sore hari di desa Ugimba, Papua, pertengahan Agustus 2015.

Jalur Tradisional

Tim susulan yang membawa logistik baru tiba tanggal 19 Agustus. Telat dua hari dari rencana semula. Dalam kelelahan, pemimpin pendakian, Hendricus Mutter memutuskan untuk menambah waktu perjalanan satu hari lagi, untuk pemulihan dan mengatur lagi jumlah porter pembawa barang.

Akhirnya dua hari setelahnya, pada pukul 7.20 pagi rombongan 13 porter, tiga pemandu, empat pendaki, satu peneliti dan dua jurnalis bergerak melanjutkan perjalanan menuju Carstensz. Pada hari itu perjalanan dipenuhi dengan lintasan kebun peladang dan menyusuri sungai Kemabu. Hingga akhirnya tiba di daerah bernama Kendaiga. Dipinggir sebuah anak sungai yang mengalir ke Kemabu. Empat tenda dibuka, dan satu perapian besar digelar.

Perjalanan dari Ugimba ke Endaiga harus ditempuh dengan melintasi berbagai sungai.

Perjalanan dari Ugimba ke Endaiga harus ditempuh dengan melintasi berbagai sungai.

Perjalanan hari kedua tambah berat saja. Setengah hari terakhir rombongan menemui hutan akar yang tanpa henti. Berulang kali kaki terjeblos diantara humus akar yang menipu. Kemalangan bertambah saat sudah gelap, seluruh rombongan masih berada disana. Rombongan porter ribut karena tak mau berjalan malam dan tak ada air. Akhirnya kami tidur tanpa membuka tenda, dan kehausan semalaman.

Hari berikutnya setelah berjalan setengah hari, aliran sungai Kemabu yang deras kembali ditemui. Daerah Jerni yang mencari incaran hari sebelumnya, baru ditemui setelah empat jam perjalanan dari hutan akar. Melihat air yang berlimpah kami semua memuaskan dahaga. Berpesta dan beristirahat. Rombongan porter malah melakukan adat bakar batu. Menyembelih tiga Kangguru pohon yang mereka dapatkan dari berburu hari sebelumnya.

Menjelang malam terjadi perselisihan antara porter dan pendaki. Malama, pemimpin porter dianggap tak adil membagi pemberian dari rombongan pendaki. Repotnya mereka juga tidak membawa panci untuk memasak air panas. Sehingga kopi yang diberikan kepada Malama, justru menjadi biang keributan.

“Satu orang Moni dikasih, semua harus juga dikasih,” kata Malama dengan agak keras.

Bagi kami itu justru bumerang, karena berarti persediaan logistik akan makin menipis. Tak ada logistik tambahan disiapkan untuk porter. Hendricus Mutter mengatakan agar kami tenang saja. Dalam keheningan malam kami masih dalam suasana bersitegang.

Esok paginya dicapai kesepakatan, air panas akan dibagi rata. Semua bisa mendapatkan air panas di dapur induk. Sementara kopi dan gula bisa berbagi, dengan jaminan kopi dan gula jatah porter memang telah habis atau menipis.

Hutan penuh lumut tebal menjadi menu perjalanan menuju Pegunungan Tengah, Papua.

Hutan penuh lumut tebal menjadi menu perjalanan menuju Pegunungan Tengah, Papua.

Sebelum tengah hari rombongan akhirnya tiba di dataran tinggi Tambua. Angin sudah mulai mendingin. Di bukit Tambua tanah terasa empuk diinjak. Ternyata dibawah tanah banyak terdapat sarang semut hitam. Diatasnya terlihat bekas-bekas rumah honai yang ditinggalkan.

“Dulu penduduk asli di Tembagapura banyak yang direlokasi kemari. Sayangnya proyek itu gagal total, penduduk tak bisa tinggal disini dan memutuskan berpindah ke Ugimba,” kata seorang gembala gereja, yang turut menjadi porter.

Sore hari setelah turun dari dataran tinggi Tambua, rombongan memutuskan menginap diatas tanah rawa dingin. Sebagian besar tanah merembeskan air dingin, hanya sedikit bagian yang kering. Kali ini hanya tiga tenda bisa dibuka, dan kami tidur dalam kelembaban tapi bersyukur karena air banyak berada disekitar.

Baru hari kelima, atau tanggal 26 Agustus rombongan ini mencapai padang sabana hutan purba. Hutan sudah mulai menipis, rata-rata angka penunjuk ketinggian yang dimiliki menunjukan angka diatas 3.500 meter diatas permukaan laut (mdpl). Hutan purba ini mengingatkan pada masa Jurassic. Hutan rumput sabana menghampar, diselingi dengan pohon pakis besar disana-sini.

Menjelang sore, akhirnya terlihat batuan keras khas Pegunungan Tengah menghampar. Semua anggota tim saling berteriak memberikan semangat. Setelah berhari-hari berjalan di hutan, akhirnya cadas Pegunungan Tengah dimana gunung Carstensz berada bisa ditemui. Sebuah penantian tidak terkira.

Sambil mengamati batuan keras itu, saya berpikir kembali. Akhirnya mimpi puluhan tahun ingin menyambangi daerah ini menjadi kesampaian juga. Pucuk gunung tertinggi di Indonesia sudah didepan mata, jangan sampai terlepas dan menjadi sirna.

Hutan purba di perjalanan menuju Pegunungan Tengah Papua.

Hutan purba di perjalanan menuju Pegunungan Tengah Papua.

Diantara kegembiraan dan kegamangan, seorang utusan porter tiba. Kembali mereka mengajukan beberapa komplain atas perjalanan. Menurut mereka perjalanan terlalu berat, dan mama-mama yang ikut dalam perjalanan menjadi kapok untuk melewati jalur itu lagi. Bahkan mereka sudah bersumpah, tak akan mau melewati jalur itu lagi.

Rombongan pemandu hanya tertawa mendengar sumpah tersebut. Ardhesir Yeffatebi, salah satu pemandu juga ikut menyatakan sumpah, sebagai rasa simpati terhadap cobaan tersebut. Sementara urusan lain, seperti stok makanan yang makin tipis, akhirnya disepakati akan dipenuhi lagi, bila bisa berbelanja di perbatasan PT Freeport nanti.

Empat Puncak

New Zealand Pass sekarang sudah didepan mata. Celah legendaris itu menjadi pintu masuk jalur-jalur tradisional sejak dulu kala. Bahkan ekspedisi sipil pertama dari Mapala UI, juga harus menembus celah itu pada tahun 70-an lalu usai melalui jalur Ilaga. Disusul ekspedisi Universitas Nasional Australia (ANU) dengan tajuk Carstensz Glacier Expedition (CGE). Dilanjutkan dengan aksi pendaki spesialis seorang diri Reinhold Messner beberapa tahun setelahnya.

Celah itu berisi tanjakan tajam dengan pemandangan danau-danau dibagian utara Pegunungan Tengah. Dibagian dalam celah terlihat jalur naik dan turun. Terasa indah, karena langit teramat biru, dan batuan cadas menghampar memenuhi mata.

Dipertengahan celah terdapat daerah dengan lorong besar, membuat angin menjadi seperti bertubrukan dan ribut menerpa muka. Sampai setengah hari untuk menembus celah tersebut menuju basecamp utama pendakian di lembah Danau-Danau.

Kemah utama di lembah Danau-Danau, Papua, 2015.

Kemah utama di lembah Danau-Danau, Papua, 2015.

Sebelum malam tiba, seluruh anggota rombongan tiba dibase camp, berketinggian 4.330 mdpl. Afif Farhan dan Bambang yang terus berada dibelakang, karena sakit kaki tiba juga menjelang malam. Lembah Danau-Danau yang berisi tiga buah danau berwarna hijau tampak menenangkan. Tepat didepan tenda dibuka, terhampar pegunungan tinggi berselimut salju. Puncak Ngga Pulu yang kini dikenal dengan nama Jaya dan Soemantri.

“Itu puncak Jaya dan Soemantri,” kata Hendricus. “Sekarang hanya puncak Jaya, Soemantri dan Carstensz Timur yang ada saljunya,” papar Hendricus lagi.

Esok harinya sebagian tim beristirahat untuk pemulihan, sementara saya dan Ali Rahman, salah seorang pendaki dari Mapala UI memutuskan mendaki Carstensz Timur.

Perjalanan menuju Carstensz Timur tak sampai dua jam lamanya dari basecamp Danau-Danau. Sebelum makan siang, kami sudah mencapai lapisan salju terluar Carstensz Timur. Kemudian mendaki lagi hingga mencapai titik terakhir yang bisa dicapai. Usai berfoto kami kembali ke basecamp lagi.

Melihat pemandangan ke arah Carstensz Pyramid dari Carstensz Timur.

Melihat pemandangan ke arah Carstensz Pyramid dari Carstensz Timur.

Hari berikutnya, sebagian besar tim memutuskan mendaki ke puncak tertinggi di wilayah tersebut, Carstensz Pyramid. Sementara saya memutuskan mendaki puncak Ngga Pulu seorang diri.

Lihat artikel : Menepis Ragu di Ngga Pulu

Hari itu juga kami kembali bertemu di basecamp. Kabar gembira segera tersiar, keseluruhan anggota tim yang pergi berhasil mencapai puncak tertinggi di Indonesia, Carstensz Pyramid. Terlihat muka-muka cerah, setelah berjuang lebih dari seminggu lamanya.

Tapi pesta belum berakhir. Dua anggota tim jurnalis menuntaskan satu hari setelahnya. Saya dan Afif Farhan menjadi wakil yang tersisa dari ekspedisi yang mengatasnamakan jurnalis ini. Perjalanan dimulai pukul 4 pagi. Melewati jalur dinding terjal, menggunakan teknik panjat tebing yang rumit, dan penuh dengan tali temali yang merepotkan. Ditambah udara dingin, dan batu-batu tajam terjal sepanjang perjalanan. Tepat pukul 10.43 siang, tanggal 29 Agustus, saya dan Afif menjejak puncak Carstensz Pyramid yang di perangkat GPS saya berketinggian 4.899 mdpl.

Melintas jembatan di igir puncak Carstens Pyramid, Papua.

Melintas jembatan di igir puncak Carstens Pyramid, Papua.

Afif tampak menangis sesenggukan saat mencapai puncak. Ia mencium-cium batu dipuncak. Rasa harunya pecah, karena berhasil melewati berbagai rintangan dan terpilih menjadi salah satu yang terbaik.

puncak carstensz

Dalam kabut dan dingin, saya bersyukur bisa menuntaskan misi ini. Semua cobaan bisa datang, tapi yang berhasil pasti yang terus maju dengan tegar dan penuh pemikiran paling rasional. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s