Upacara Kemerdekaan di Kantong Bintang Kejora

Upacara 17 Agustus yang pertama kali akhirnya bisa dilakukan pada tahun 2015. Gelap sudah mendominasi saat kaki melangkah memasuki Desa Ugimba. Desa di kaki Pegunungan Tengah Papua itu harus ditempuh sampai 10 jam dari Sugapa. Situasi semuanya serbagelap, tanpa bantuan senter di kepala. Namun, orang-orang tampak antusias menerima kedatangan kami.

Warga Ugimba saat melakukan upacara 17 Agustus 2015. Foto diambil melalui kamera telepon genggam yang dititipkan pada pemuda setempat. (sok. sulung prasetyo)

Warga Ugimba saat melakukan upacara 17 Agustus 2015. Foto diambil melalui kamera telepon genggam yang dititipkan pada pemuda setempat. (dok. sulung prasetyo)

Setelah melintasi jembatan Sungai Kemabu Atas, tiba-tiba sekelompok pemuda mengadang. Tampang mereka keras dan berteriak-teriak. Mulanya kami berpikir ini hanya masalah uang palang pintu yang banyak biasa ditemui apabila melintasi ladang-ladang di wilayah tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba seseorang berbisik jelas, meskipun tampangnya samar.

“Itu OPM, tenang saja, semua pasti beres,” ujarnya. OPM merupakan singkatan Organisasi Papua Merdeka, separatis yang ada di kawasan “Kepala Burung” itu.

Mendengar kata-kata OPM, sontak jantung ini mulai berdetak kencang. Ada perasaan gelisah dan merasa terintimidasi. Apalagi, rombongan yang menjaga seperti menyalahkan Maximus Tipagau, lelaki yang bernegosiasi di depan rombongan kami.

Dengan bahasa Suku Moni, Maximus terus berbicara. Hingga akhirnya ditemukan solusi, barang-barang kami akan digeledah.

Mereka memeriksa sebagian tas ransel yang kami bawa. Mereka juga menggeledah kantong-kantong baju dan celana yang melekat di badan. Beberapa orang yang merupakan anggota tim kami bahkan terpaksa menyerahkan kamera, jam tangan, dan telepon genggam. Barang-barang itu akan ditahan hingga nanti masalahnya jelas.

Aura keterpaksaan belum hilang, meski akhirnya kami berlima bisa melewati adangan orang-orang itu. Mereka tetap mengantarkan hingga ke rumah Maximus yang berada di seberang bukit setelah menyeberangi sungai.

Sesampai di rumah Maximus, ketegangan belum berakhir. Mereka meminta KTP dan kartu pengenal lain. Tapi malam itu juga, mereka mengatakan, kami boleh menginap dan bisa mengadakan acara 17 Agustus, esok harinya.

Bagi Desa Ugimba, pengibaran bendera pada 17 Agustus bukanlah hal lumrah. Bahkan menurut informasi, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, baru kali ini mereka melaksanakan upacara peringatan kemerdekaan Tanah Air tersebut.

Upacara 17 Agustus yang pertama kali akhirnya bisa dilakukan pada tahun 2015.

Upacara 17 Agustus yang pertama kali akhirnya bisa dilakukan pada tahun 2015.

Untuk Maximus, upacara itu harus dilakukan lantaran bagi Desa Ugimba, ini merupakan sejarah. Maximus mengungkapkan, insiden pencegatan tadi malam sungguh di luar dugaan. Sekelompok pemuda yang mencegat itu bukanlah OPM seperti yang disebutkan selama ini. Mereka adalah pemuda yang bertugas menjaga keamanan desa karena upacara kemerdekaan akan digelar esok pagi.

Karena kegiatan itu jarang dilakukan dan ada aturan pelarangan mengenai pergerakan di seputar kaki Pegunungan Tengah setiap acara peringatan proklamasi RI, mereka tak mau mengambil risiko dengan membiarkan kami melintas. “Mereka hanya pemuda yang bosan dan lelah karena terus dianggap OPM. Desa ini memang pernah dijadikan pelintasan para pejuang OPM, tapi bukan berarti kami OPM,” ucap Maximus menjelang upacara.

Berteriak dan Berputar-putar
Persiapan upacara dilakukan dengan unik, termasuk mengumpulkan babi dan berteriak sambil berputar-putar bersama. Ini untuk menyemangati dan memanggil penduduk desa di sekitar Ugimba.

Tak berapa lama kemudian, rombongan yang berputar-putar dan berteriak makin banyak. Semua datang dari delapan desa yang masuk ke Distrik (Kecamatan) Ugimba.

Saat mereka bernyanyi dan menari berputar-putar, tampak seorang keluar dari rombongan dengan bicara agak marah. Ia menunjuk-nunjuk kepala distrik dan mulai berlari ke sana dan kemari. Kemudian ia bersama beberapa orang lain seperti mengacungkan senjata yang ada di tangan. Tak berapa lama kemudian, mereka merobohkan pagar dan membuat suasana kembali memanas.

Memanah babi menjadi salah satu bagian acara adat yang dilakukan usai upacara 17 Agustus 2015 di Ugimba, Papua.

Memanah babi menjadi salah satu bagian acara adat yang dilakukan usai upacara 17 Agustus 2015 di Ugimba, Papua.

Mathius Zanambani, seorang kepala suku yang tak senang menjelaskan, mereka protes karena desa mereka belum masuk pemekaran wilayah. Ternyata dari delapan desa yang ada di Ugimba, dua desa belum masuk data, yakni Desa Ke’ene dan Bulapa. Sementara itu, enam desa lainnya sudah diakui, yaitu Desa Gamagai, Bunapa, Ugimba, Teteopa, Dokendupa, dan Pigabu.

Setelah negosiasi tercapai, upacara pengibaran bendera akhirnya dilakukan dengan sederhana. Tampak Kepala Distrik Ugimba, Kornelis Kobogau, memimpin upacara. Seperti upacara di sekolah-sekolah dan instansi pada umumnya, acara berisi pengibaran bendera, menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, pembacaan Pancasila, dan mengheningkan cipta.

Kornelis yang bertubuh agak gempal agak kecewa dengan sikap penduduk desa karena tetap memberlakukan aksi pencegatan dan meminta uang buka palang pintu bagi wisatawan yang datang ke sana. Padahal menurutnya, apabila Ugimba ingin dibangun, urusan palang pintu seharusnya dihilangkan.

Di sela upacara berlangsung, tampak beberapa penduduk masih berlari-lari di sekitar lokasi. Tampaknya mereka tak ikut dalam upacara bendera, mengindikasikan mereka tak ingin ikut serta atau memang tak diajak bergabung.

Babi ditandu untuk dimasak bakar batu.

Babi ditandu untuk dimasak bakar batu.

Kornelius menjelaskan, situasi sebenarnya aman apabila wisata ingin dikembangkan di wilayah tersebut. Apalagi, daerah itu merupakan salah satu jalur alternatif pendakian menuju puncak gunung tertinggi di Indonesia, Carstensz Pyramid.

Di antara kegamangan usai upacara, acara adat bakar batu tetap dilakukan. Setidaknya, ada 10 babi ditombak, lalu dibakar sesuai acara adat. Setelah itu, babi itu dimakan ramai-ramai, lengkap dengan ketela dan sayuran.

Saat makan bersama, Maximus mengungkapkan, perdamaian telah tercapai. Penduduk akan mendukung program pariwisata yang hendak dikembangkan. Sebagai bukti perdamaian tersebut, barang-barang yang sebelumnya disita, yaitu kamera, telepon genggam, dan jam tangan dikembalikan pada malam harinya. (sulung prasetyo)

One response to “Upacara Kemerdekaan di Kantong Bintang Kejora

  1. Ping-balik: Menggamit Empat Puncak Salju Indonesia | Jurnal Bumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s