Menciptakan Anak Tanggap Bencana

Sekarang-sekarang ini sudah menjadi kata-kata normal bila orang mengatakan Indonesia sebagai laboratorium bencana. Posisi Indonesia yang berada diantara garis lempeng, membuat rentan dari bahaya gempa dan tsunami. Belum lagi bencana letusan gunung api, yang bisa terjadi kapan saja.

 Bencana juga mengintai Indonesia karena iklim yang makin berubah. Kejadian seperti kebakaran hutan, kekeringan dan banjir kerap terjadi tiap tahun. Sementara dimasa mendatang, serangan hawa panas yang mematikan bukan tak mungkin menerpa Indonesia, yang berada di iklim tropis.
 
Hal tersebut terbukti dari catatan terakhir yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menurut catatan BNPB, pada semester pertama tahun 2014 saja, sudah ada 1.559 bencana terjadi di Indonesia. Diantara ribuan bencana tersebut setidaknya ada 490 orang tewas, sementara ribuan lain harus mengungsi dan banyak dari mereka harus kehilangan keluarga, rumah dan harta benda.
 
Diantara berbagai kerentanan bencana tersebut, terdapat manusia-manusia yang sangat mudah terdampak. Kerentanan makin bertambah besar, bila dikaitkan dengan kapasitas masyarakat Indonesia yang rata-rata masih berada dibawah standar kemiskinan.
 
Badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNFPA mengklasifikasi tingkat kerentanan perempuan, anak perempuan dan remaja meningkat dalam situasi bencana. Terutama perempuan dan anak perempuan menghadapi risiko yang lebih besar terhadap eksploitasi, pelecehan seksual, kekerasan, kawin paksa, penyakit yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi, dan kematian.
Menurut catatan UNFPA lebih dari 50 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat adanya konflik dan bencana alam di dunia. Tiga per empat dari total angka tersebut adalah kelompok perempuan, anak perempuan dan remaja. Hal ini menjadikan mereka sebagai kelompok penduduk yang paling rentan dalam situasi bencana.
Banjir
Pada studi kasus bencana banjir yang terjadi di Jakarta, kerentanan perempuan dan anak-anak terbukti kerap terjadi. Seperti pada banjir besar yang terjadi pada tahun 2002 ratusan anak-anak harus menginap dipinggir-pinggir jalan, tanpa alas tidur dan atap pelindung.
Banjir besar yang kemudian makin kerap terjadi tahun-tahun berikutnya memperlihatkan kondisi yang tak banyak berubah. Terutama kaum perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak.
Pada banjir tahun 2006, bahkan pernah ada kejadian perahu milik Mapala UI yang terbalik di daerah Jakarta Barat yang berisi anak-anak dan perempuan. Penyebab terbaliknya lantaran perempuan dan anak-anak yang didalamnya tak mengerti apa yang harus dilakukan, saat berada didalam perahu evakuasi.
Oktora Hartanto, kapten kapal yang saat itu membawa perahu karet mengatakan kejadian itu begitu cepat, karena arus yang terlalu kencang dan berada di gang-gang sempit membuat perahu tiba-tiba menjadi oleng.
“Perempuan dan anak-anak yang berada didalam perahu tak bisa diam, mereka terus bergerak karena merasa takut. Ditambah arus kencang membuat laju perahu jadi tak terkendalikan,” urai Oktora saat itu.
Itu baru satu kejadian, peristiwa lain memperlihatkan anak-anak juga menjadi kelompok yang paling rentan terkena penyakit saat harus mengungsi karena banjir. Kondisi tubuh yang tak sehat, serta pasokan makanan yang tak pasti, membuat kesehatan anak-anak menjadi sangat lemah.
Letusan Gunung Api
Tak hanya bencana banjir, anak-anak juga menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak letusan gunung api. Seperti pada letusan gunung api Merapi pada tahun 2004 terlihat anak-anak harus menjadi bagian paling menderita, lantaran kehilangan orang tua dan kesehatan yang memburuk karena menghisap abu vulkanik.
Sriyono, seorang anak yang pernah mengungsi karena mengatakan ia harus menjauh dari rumahnya di kaki gunung Merbabu, karena debu vulkanik Merapi terlalu tebal.
“Sayangnya apa yang diajarkan saat disekolah tentang evakuasi sangat jauh berbeda dengan kenyataan sebenarnya,” urai Sriyono, yang ditemui akhir pekan pertama Juli 2015.
Ia juga merasa tak sreg dengan apa yang diajarkan guru-guru mengenai letusan gunung api. Menurutnya semua yang diajarkan seperti tak sesuai dengan kenyataan saat ini. Seperti tanda-tanda gunung akan meletus, diajarkan akan banyak satwa yang akan turun gunung. Tapi kenyataannya saat ini satwa di gunung-gunung sudah hampir tak ada, sehingga pertanda melalui satwa tersebut sebenarnya sudah tak sesuai dengan perubahan yang ada.
Menurutnya pula apa yang pernah dilakukan untuk menyelamatkan diri, lebih banyak berupa insting saja. Sudah jelas yang terbaik yang bisa dilakukan saat gunung akan meletus adalah bergerak sejauh-jauhnya menghindari lokasi terdampak letusan.
Indonesia harus tepat dalam mengambil tindakan ketika bencana melanda. Perlindungan terhadap kaum perempuan, anak dan remaja harus menjadi perhatian utama. Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Andi ZA Dulung, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen melindungi kelompok penduduk rentan. Ketika krisis terjadi, bantuan kemanusiaan harus cepat dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang menjadi korban. Di samping itu, perempuan, anak dan remaja memerlukan bantuan khusus. Bantuan tersebut harus dilakukan sejak awal terjadinya bencana sampai masa pemulihan. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s