Seroja Layu di Taman Bunga

Ada satu cerita, seorang prajurit tua terpaksa menjadi penjaga pasar rakyat. Pada suatu pagi ia tertabrak sepeda motor. Sayangnya tak seorang pun yang menolong bisa menjamin dirinya di rumah sakit. Prajurit tua itu kemudian meninggal, saat anak-anaknya terlambat datang menolongnya.

Itu baru satu cerita dari jutaan cerita-cerita mengenai veteran tentara. Satu cerita yang terdengar pedih, diantara jutaan cerita kebahagiaan, kesenangan, ataupun pengabdian.

Kata mengenai pengabdian itu yang kembali diulang-ulang B.Elan Sutarna. Lelaki veteran tentara dengan dengan mata sipit sebelah itu, seperti menanamkan dalam-dalam dikepalanya. Seperti menjadi satu motto hidup yang tak pernah ditinggalkan.

“Itu yang ada difoto anak saya, seorang marinir yang sekarang tugas di Lampung,” kata Elan, sambil menunjuk sebuah foto yang terpajang dirumah kecilnya, yang merupakan pemberian pemerintah orde baru.

Seorang serdadu tampak menenteng senjata difoto itu. Berjalan diatas rawa berlumpur setinggi pinggang, dengan sikap siaga terhadap serangan.

“Ia yang menemukan wartawan RCTI, Ersa Siregar yang tewas di Aceh dulu,” urai Elan menjelaskan.

Ersa ditemukan disebuah rawa berlumpur dengan tubuh tertelungkup. Mereka dengan mudah menebak itu jenazah wartawan yang sebelumnya dikabarkan tersandera, sebab tertera jelas-jelas intansi dimana ia bekerja tertulis dipunggung kemejanya.

Kembali Elan mengatakan keinginan anaknya menjadi tentara merupakan bentuk pengabdian juga. Seperti dirinya, yang memulai karir menjadi tentara dengan cara tak sengaja. Mulanya ia hanya ingin menonton bola klub sepkbola idamannya, Persija Utara di Bogor. Namun saat melihat kerumunan, tak sengaja malah ikut ditarik ikut pendaftaran tentara. Usai dibotaki, ia hanya terdiam takut menunggu panggilan. Hingga orang terakhir dipanggil Elan tetap tertahan dan akhirnya baru disadari kalau Elan hanya terbawa tanpa sengaja. Untuk membalas kesalahan, tentara yang menarik Elan kemudian menawarkan menjadi tentara.

Meskipun ayahnya tak menyetujui, Elan akhirnya memutuskan mendaftar menjadi tentara atas dukungan pamannya. Ia berhasil lulus dengan nilai baik, dan dikirimkan ke Timor Timur sebagai daerah latihan perang pertama.

“Saya sepertinya dibohongi saat itu. Kami hanya diberitahu akan berlatih perang di pulau Buru. Tapi ternyata menyerang betulan di Timor Timur,” urai ayah lima anak itu.

Di arena perang Timor Timur itu, Elan menyadari hanya ada dua cara untuk bertahan hidup. Menembak untuk mempertahankan diri, atau tertembak peluru musuh dan mati.

Usai bertugas di Timor Timur, Elan meningkatkan keahlian kemiliteran dengan berlatih di korps baret merah. Namun hasil latihan itu justru seperti membuat Elan menjadi umpan bagi operasi-operasi perang yang dijalani selanjutnya.

Elan kembali bertugas di Timor Timur. Kali ini mendapat tugas lebih berat, karena harus menjadi orang pertama dalam barisan patroli tentara.  Pada sebuah patroli di gunung tertinggi di Timor Timur, ia terkena pecahan mortir yang ditembakan musuh. Sebagian besar muka bagian kanan rusak, dan ia dievakuasi menggunakan helikopter langsung ke Jakarta.

Sampai satu setengah tahun Elan dirawat. Menjalani operasi plastik, dan hasilnya kelopak matanya sebagian besar seperti menutupi mata palsunya, yang selanjutnya harus menjadi bagian baru dirinya.

“Saya bersyukur masih diberikan rumah setelah cacat menjadi tentara. Banyak yang lain justru malah tak seberuntung saya,” kenang Elan.

Usai menjadi cacat, tak mungkin bagi Elan kembali menjalani tugas seperti sebelumnya. Ia kemudian berpindah-pindah kesatuan, hingga akhirnya pensiun tahun 2002 lalu. Kini ia menyandang diri sebagai veteran seroja, alias veteran korban perang di Timor Timur, yang terkenal dengan nama sandi Seroja.

Kini nama sandi itu diabadikan menjadi kompleks perumahan bagi anggota veteran perang Timor Timur yang lain. Rumah-rumah petak kecil, berdempatan satu sama lain, dan sebagian besar tak memiliki jalan utama yang cukup untuk dua mobil berpapasan melintas.

Namun diantara keterbatasan tersebut Elan tak pernah berkecil hati. Satu hal yang terus menjadi beban pikirannya terutama mengenai perhatian yang makin teramat kurang, bagi veteran seperti mereka. Seperti untuk urusan upacara 17 Agustus, tak pernah mereka diundang untuk menghadiri di pemerintah kota Bekasi.

Satu hal yang paling menyakitkan, merupakan masalah dana tunjangan cacat tetap yang hanya terus dijanjikan sampai saat ini. “Dana itu sudah disetujui untuk diturunkan. Menurut juklak (petunjuk pelaksanaan-red) dan juknis (petunjuk teknis-red) juga seharusnya saya sudah bisa menerima. Tapi kenyataannya, dari tahun 2002 sampai sekarang, dana itu tak pernah ada. Padahal jumlahnya hanya 18 kali lipat dari tunjangan yang saya miliki sekarang,” cetus Elan.

Sulit bagi Elan memahami dekadensi moral yang ada saat ini. Semua pimpinan perwira menengah yang mengurus masalah itu, seperti lari dari tanggung jawab yang seharusnya mereka lakukan.

Dalam kekusutan masalah itu, ia masih dapat berlega hati. Sebab pada Hari Veteran yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2015 ini, ia akan memimpin defile terdepan dari barisan tentara veteran yang akan melintas didepan Presiden Joko Widodo.

Sambil terus memperhatikan foto anaknya, Elan tak banyak berharap untuk sisa hidup yang kini dijalani. Tak ada harapan lain yang ada dikepalanya, selain dapat dikuburkan di Taman Makam Pahlawan Bulak Kapal. Sebuah tempat yang secara juklak dan juknis menjadi peristirahatan terakhirnya. Namun seumur ia hidup dan melihat teman-temannya meninggal satu persatu, tak ada satupun dari mereka yang benar-benar bisa dikubur disana. Sekali lagi, hingga mati saja seorang veteran harus menghadapi kesulitan sedemikian rupa, dipersulit dan seperti tak dianggap lagi. (sulung prasetyo)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s