Dinista Ada Tapi Melegenda

Sekumpulan orang tampak khidmat berdoa. Di dalam sebuah ruang dengan semacam sesembahan diatas meja ditengah mereka. Tapi seperti perkumpulan pengajian saja layaknya, mereka menggumamkan sebuah bahasa dengan duduk melingkar. Suasana bertambah unik, karena aroma wewangian dupa memenuhi ruang itu.

Di sebuah sudut tampak seorang lelaki bergumam dengan keras. Kata-katanya mengucap bahasa yang sulit dimengerti. Mungkin bahasa daerah Kalimantan Tengah, dimana para pemeluk Kaharingan itu sedang berkumpul berdoa sekarang.

Ucapan-ucapan doa itu tiba-tiba berhenti. Masing-masing kemudian mendongakan kepala, dan mengangkat tangan. Satu sama lain memandang dan satu orang kemudian berdiri ke tengah ruangan.

Seperti imam layaknya ia mulai berbicara. Seperti menyampaikan sebuah pesan. Bunyinya seperti ini:

“Aku TUH Ranying Hatalla ike paling kuasa, tamparan taluh handiai tuntang kapuhase, tuntang kalawa jetuh iete kalawa pamlembum, ije manggare KU gangguraman area bagare HINTAN KAHARINGAN.”

Usai berceramah, akhirnya Ilo Lodoh, lelaki penceramah itu bisa ditemui. Wajahnya terlihat masih muda. Dengan alis tebal, dan muka bulat. Kulitnya bersih dan memakai ikat kepala. Ia tersenyum saja saat ditanyakan apa yang ia bicarakan tadi di depan umat.

Ia menjelaskan itu adalah sebuah ayat dalam kitab Kaharingan. Menurut Lodoh ayat itu terdapat dalam bagian Tamparan Taluh Handiai atau awal segala kejadian. Tepatnya ada di Pasal 1 ayat 3. Dalam penjelasan bahasa Indonesia, ayat itu diartikan saklak oleh Lodoh menjadi seperti ini:

“Aku INILAH Ranying Hatalla Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir segala kejadian, dan cahaya kemuliaan KU yang terang, bersih dan suci, adalah Cahaya kehidupan yang kekal Abadi, dan AKU sebut ia HINTAN KAHARINGAN.”

Ayat itu juga yang menurutnya menjadi dasar Kaharingan pantas disebut sebagai agama. Ranying Hatalla, atau disebut agama lain seperti Allah atau Tuhan ternyata ada juga didalam agama-agama lokal Indonesia. Bahkan sudah ada sebelum agama-agama langitan turun ke bumi.

Juga tidak seperti animisme atau dinamisme yang digembar-gemborkan. Kaharingan hidup sebagai dasar-dasar kepercayaan yang dijalankan orang-orang, khususnya di Kalimantan. Lengkap dengan Tuhan pemilik alam, tujuan metafisika yang bahkan agama langitan sekalipun sulit untuk menjelaskan wujudnya.

Intinya menurut Lodoh, agama Kaharingan mencakup penjelasan-penjelasan mengenai kelahiran, perkawinan dan kematian. Mereka percaya bumi dibuat pada hari Jumat, maka kelahiran yang terjadi pada hari Jumat merupakan hal yang istimewa. Sehingga perlu dilakukan ritual pemilihan nama anak. Bahkan juga dibuat ritual 7 bulanan masa kehamilan, agar anak bisa lahir hari Jumat.

???????

Salah satu bentuk peninggalan agama Kaharingan di Kalimantan Tengah, berbentuk rumah kecil yang menjadi tempat penyimpanan tulang belulang kerabat keluarga, sebelum akhirnya dikuburkan bila telah melewati ritual Tiwah. (dok.sulung prasetyo)

Lain lagi untuk penikahan. Kaharingan memenuhi peminangan dengan syarat-syarat yang berjibun banyaknya. Dalam catatan setidaknya ada syarat berupa palaku atau mahar,  pekayan atau penggantian biaya pakaian anak yang dipinang dari anak hingga dewasa, garantang atau makanan, 1 keping mas 3 gram, 1 buah ringgit perak, kain sarung panjang 3 lembar, kain hitam untuk kakek mempelai, tuak, dan biaya pesta.

Uniknya Kaharingan ternyata menyimpan persamaan hak antara perempuan dan lelaki, dalam urusan meminta perceraian. Kedua pihak sama-sama bisa meminta hak perceraian bila memang dirasa sudah tak cocok.

“Tapi siapa yang meminta perceraian duluan, maka ia yang harus membayar denda,” urai Lodoh, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Kelompok Agama Kaharingan Desa Tumbang Malohai, Kalimantan Tengah.

Satu hal yang paling menonjol dari Kaharingan merupakan upacara Tiwah, untuk mengantarkan arwah orang yang telah meninggal mencapai dunia lain. Upacara tersebut dilakukan setelah arwah mengalami Gohong Apay atau hukuman seperti neraka, dan masuk ke Lewutatau atau surga.

Menurut kepercayaan Kaharingan, tubuh mati akan ditanam dulu di tanah, hingga kemudian saat ia mendapatkan rahmat Tiwah, baru kemudian dinaikan ke sandung atau sebentuk rumah kecil. Banyak diantara mereka percaya, kalau Tiwah hanya bisa dilakukan, setelah si orang mati tersebut telah menjalani masa hukuman atas dosa-dosa di dunia.

“Ada orang yang keluarganya sangat kaya, tapi sangat lama baru bisa melakukan Tiwah. Sementara ada juga keluarga yang miskin, tapi tak lama setelah meninggal bisa melakukan Tiwah,” papar Lodoh.

Semua itu ada didalam sebuah kitab Kaharingan. Tebal, tapi sayangnya sangat sedikit adanya di Indonesia. Semua hanya karena pemerintah tak ingin mengakuinya berada ditanah nusantara.

Menanti Pengakuan

Pengakuan terhadap agama-agama lokal nusantara, seperti menjadi cerita kelam yang tak kunjung usai. Masa orde baru bahkan agama-agama itu dianggap terlarang, dan dipaksakan untuk masuk bagian negara lain.

Seperti itu juga nasib agama Kaharingan yang banyak dipercaya orang Kalimantan. Menurut catatan baru tahun 1980 ada ketentuan integrasi yang diberlakukan pemerintah untuk agama di Indonesia. Agama-agama lokal di Indonesia yang ribuan banyaknya, kemudian dipaksa menjadi bagian dari lima agama yang diakui saja.

“Saat itu Kaharingan memerlukan payung hukum, dan salahsatu yang menerima adalah agama Hindu. Jadi sejak itu nama Kaharingan menjadi Hindu Kaharingan. Meskipun kami merasa tak ada sangkut paut dan kemiripan antara agama Kaharingan dan Hindu,” ujar Lodoh.

Karena integrasi itu juga kemudian lahir upacara Basarah, yang dikemukakan pada awal artikel ini. Mulanya acara itu tak ada sama sekali dalam ketentuan Kaharingan. Namun karena ditekan untuk dilakukan, mengingat agama Hindu kerap menjalankan hal itu, maka Basarah kini menjadi ketentuan. Lengkap dengan aroma-aroma dupa didalamnya, seperti upacara umat Hindu layaknya.

Serupa juga yang dialami pemeluk agama Sunda Wiwitan di pedalaman pegunungan Salak Halimun, Jawa Barat. Mereka dipaksa memilih tidak menaruh agama yang dipeluknya, dan pasrah menjadi umat Islam hanya lantaran lima agama saja yang diakui negara.

“Tak banyak pilihan waktu itu. Kalau ingin punya KTP (Kartu Tanda Penduduk-red) kami harus memilih salah satu agama yang ada, biar aman kami pilih Islam,” kata Jajang Kurniawan, salah satu warga Kasepuhan Banten Kidul yang bermukim di desa Citorek, Jawa Barat.

Namun kini semua sudah berubah. Kondisi politik yang berubah juga merubah pemahaman mengenai status agama di KTP. Kini, bila ingin orang bisa tidak mencantumkan agama apa yang diyakininya. Namun tetap saja tak bisa memasukan agama pilihan lokal seperti Sunda Wiwitan didalamnya.

Warga Cigugur di Cirebon juga menyayangkan hal tersebut. Oleh karena itu tiap tahun mereka mengadakan ritual pertemuan antar pemeluk agama lokal. Menurut sesepuh adat disana, pertemuan itu menggambarkan luruhnya berbagai keyakinan dari seluruh penjuru bumi, saat berada di daerah adat mereka.

Dalam puncak ritual di Cigugur para pemeluk agama lokal, seperti Dayak Bumiayu, Sunda Wiwitan, Kepercayaan, Kejawen, serta Islam dan Kristen seperti datang dari berbagai penjuru bumi. Bertemu dalam satu titik, dan saling melebur menjadi satu. Hingga kemudian diakhiri dengan makan bersama, dengan tanpa perasaan saling memusuhi satu sama lain. (sulung prasetyo)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s