BIsnis Wangi Para Penatu

JAKARTA – Pertumbuhan kelompok masyarakat menengah yang makin tinggi, membuat perubahan perilaku gaya hidup terjadi. Satu sisi menciptakan peluang bagi usaha kreatif, namun disisi lain justru menghilangkan nilai-nilai sosial yang pernah ada.

Kenaikan jumlah kelompok menengah di Indonesia bukan keniscayaan. Beberapa bukti menyebutkan hal tersebut. Seperti diungkapkan sebuah penelitian Bank Dunia, dimana disebutkan penduduk kelas menengah di Indonesia tumbuh hingga dua kali lipat, dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun.
Berdasarkan data dari Bank Dunia, pada tahun 2003 kelompok menengah di Indonesia baru berjumlah 37,7 persen. Jumlah tersebut kemudian meningkat pada tahun 2010, mencapai 56,5 persen atau sekitar 134 juta jiwa.
Peningkatan tersebut diprediksi terus bertambah pada beberapa tahun mendatang. Seperti diungkapkan Boston Consulting Group (BCG), dimana pertumbuhan kelas menengah di Indonesia diperkirakan akan meningkat hingga 68,2 persen pada tahun 2020.
Lalu sebenarnya siapakah yang dapat disebut kelas menengah di Indonesia? Sebuah sumber dari Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan mereka yang memiliki pengeluaran per hari diatas US$ 2 dapat disebut sebagai kelas menengah ke bawah. Sementara yang memiliki pengeluaran hingga diatas US$ 4 per hari dapat dikategori sebagai kelas menengah yang sebenarnya.
Jika dikonversi dengan nilai mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) saat ini, kelompok yang disebut kelas menengah merupakan orang-orang yang mengeluarkan uang antara Rp 26.000 – 52.000 per hari.
Perubahan Perilaku
Kenaikan jumlah kelas menengah tersebut pada dasarnya terjadi karena adanya penambahan jumlah pendapatan. Dari semula dianggap miskin, kemudian meningkat menjadi lebih baik.
Peningkatan jumlah pendapatan tersebut pada akhirnya merubah gaya hidup seseorang, seperti diungkapkan Melly G Tan, seorang pakar sosiologi dari Universitas Indonesia (UI). Menurutnya perubahan perilaku terjadi karena kebanyakan kelompok menengah baru ini memiliki kemampuan daya beli tinggi, dan bersifat konsumtif.
“Kelompok kelas menengah ini berada diantara kelompok atas dan bawah. Dan yang sedang terjadi di Indonesia sekarang adalah lapisan menengah yang dulunya merupakan lapisan kecil, sekarang makin membesar, karena adanya peningkatan dalam bidang ekonomi,” analisa Melly pada sebuah diskusi dipertengahan 2012 lalu.
Jumlah kelas menengah yang makin besar ini, bila tidak dikelola dengan baik, maka bisa jadi bumerang bagi kehidupan di Indonesia. Salah satunya disebabkan lantaran adanya pergeseran gaya hidup masyarakat.
Seperti misalnya dulu hanya cukup berpakaian bersih, kini harus mengikuti model terbaru. Kalau sebelumnya tak harus merasakan kehidupan malam, kini makin menggila. Kalau dulu cukup minum kopi di warung-warung pinggir jalan, sekarang paling tidak harus ngopi di kedai-kedai mall. Peralatan komunikasi terbaru harus terpegang, dan kendaraan pribadi harus dimiliki. Kenaikan kelas pendapatan jelas berkorelasi dengan perubahan perilaku gaya hidup.
Itu juga yang dialami Reki Putera Jaya, lelaki asal Palembang yang kini bekerja di Jakarta. Ia mereka-reka apa saja gaya hidupnya yang berubah. Salah satu yang diakui adalah meninggalkan kebiasaan mencuci baju sendiri, dan menyerahkan tugas tersebut kepada laundry kiloan yang kini banyak menjamur.
“Malas rasanya mencuci itu. Mencuci sih mudah saja, karena sekarang ada mesin cuci. Yang paling tidak sempat dikerjakan itu menyetrika,” imbuh Reki.
Namun ia menampik bila kebiasaan memberikan cucian itu lantaran ikut-ikutan gaya baru, atau biar disebut modern. Memang ada perubahan gaya hidup, tapi itu karena difasilitasi oleh lingkungan juga, menurutnya.
Peluang Usaha
Bagi sebagian orang, kenaikan kelas pendapatan dan perubahan perilaku gaya hidup tersebut ternyata memiliki sisi menguntungkan. Seperti disebutkan sebelumnya, kelas menengah memiliki daya beli tinggi dan bersifat konsumtif. Fenomena itu pada akhirnya menciptakan peluang bagi banyak pihak.
Pada sektor perbankan, pembengkakan kelas menengah ini menjadi peluang untuk pasar produk-produk bank, investasi pasar modal dan properti. Sektor lain seperti pembuat produk perangkat elektronik, fashion, makanan dan gaya hidup modern juga kebagian pasar baru itu.
Selain itu pemanfaatan potensi kelas menengah atau consumer class ini juga mendorong kalangan wirausahawan meningkatkan potensi bisnis mereka.
Seperti juga diakui Fendi Wibowo, seorang pengusaha kecil menengah dalam bidang laundry cuci kiloan. Dengan jargon Umbah-Umbah, ia mengembangkan usaha tersebut berdasarkan peluang yang ada disekitaran Kukusan, Depok.
“Potensi tinggi dari kalangan mahasiswa UI, yang bisa berjumlah ribuan hidup di daerah pinggiran kampus seperti di Kukusan,” urai Fendi, yang ditemui pada Rabu (24/6).
Menurut Fendi, faktor perubahan gaya hidup memang mendasari tumbuhnya peluang cuci laundry kiloan. Sempitnya waktu dan kemampuan pendanaan, membuat banyak orang memilih memberikan pakaian mereka untuk dicuci orang lain.
“Kebanyakan bilang tidak sempat, atau malas saat ditanyakan mengapa ingin mencuci ditempat usaha kami,” tambah Fendi, yang memulai usaha tersebut sejak tahun 2011 lalu.
Satu hal yang menurutnya berkembang saat ini merupakan perubahan pangsa pasar pengguna jasa laundry kiloan. Potensi dari kalangan mahasiswa itu ternyata justru makin menurun, sementara pengguna dari kalangan keluarga kecil dengan pendapatan kelompok menengah justru meningkat.
“Sekarang setengah dari pengguna jasa laundry kami berasal dari kalangan keluarga. Naik lebih besar dari empat tahun lalu, dimana kebanyakan pengguna jasa laundry dari kalangan mahasiswa,” analisa Fendi.
Perubahan Sosial
Fenomena perubahan pasar itu kalau dicermati sebenarnya juga mengandung nilai perubahan sosial didalamnya. Ajang-ajang mencuci bersama di sungai seperti banyak keluarga-keluarga lakukan dulu, kini tak ada lagi. Berarti intensitas pertemuan makin berkurang dan komunikasi antar keluarga juga berkurang.
Minimnya komunikasi menciptakan kesenjangan antar individu dalam komunitas. Menciptakan jurang-jurang dalam antara satu keluarga dengan keluarga lain. Menciptakan keluarga-keluarga individualistis, yang tak ingin atau tak kenal dengan tetangga-tetangga mereka.
Perubahan lain merupakan hilangnya pembelajaran mengenai nilai kemandirian, dan penjagaan pada hal-hal pribadi, serta penghematan biaya. Nilai yang sebenarnya baik tersebut bisa saja hilang, karena terus digerus hal-hal kecil seperti ini. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s