Senegal Beranjak Modern

DAKAR – Ratusan tahun dalam bayang perdagangan budak, tak membuat negara Senegal kecil hati. Kini muslim Senegal terus bergerak menjadi yang terhormat di daratan Afrika, dan memimpikan kota modern, dengan dukungan sumber daya alam laut sebagai harta terpendam.

Daerah Senegal pada masa abad 18 merupakan bagian dari kerajaan Ghana. Baru kemudian berganti-ganti pemerintahan. Sempat diambil alih oleh Belanda, dan menjadikan salah satu pulau disana sebagai pengumpul budak untuk dijual ke Eropa. Pulau Goore kemudian diambil alih oleh Prancis, dan menduduki sebagian besar muara sungai Senegal.

Baru pada 4 April 1960, negara Senegal resmi diproklamirkan. Presiden pertama mereka bernama Leopold Senghor, seorang akademisi yang dihargai oleh seluruh rakyat Senegal hingga kini. Baru kemudian berganti-ganti Presiden Senegal memerintah hingga Macky Shall saat ini berkuasa, sejak tahun 2012 lalu.

heifer.org

heifer.org

Senegal dalam berbagai bahasan, terutama menunjukan kemajuan peradaban menuju modernitas. Negeri beribukota di Dakar tersebut terus berbenah diri, dengan arsitektur-arsitektur bangunan yang artistik, serta cenderung dianggap modern.

Salah satunya merupakan gedung pertemuan internasional, yang didesain berdasarkan konsep piramida namun bergaya futuristik. Arsitek Prancis Jean Francois Lamoureux dan Jean-Louis Marin yang merancang gedung tersebut pada masanya.

Karya lain adalah Independence Hotel yang berada ditengah kota Dakar. Gedung bergaya oriental kubus, dengan pelindung seperti sisik ikan diluar bangunan itu merupakan karya Henri Chomette dan Roland Depret,

Manuel Herz, kurator arsitek dari Swiss mengatakan bangunan-bangunan itu jelas menunjukan keinginan menuju modernitas. “Tapi sayangnya seperti terlewati radar sejarah desain arsitektur modern di Afrika,” tutur Herz.

Nilai modernitas Senegal tak hanya ditunjukan melalui bangunan. Terakhir demi meningkatkan kapasitas warganya, pemerintah Senegal meluncurkan program Dakar Digital City. Dimana pemerintah kota membuat sebuah wilayah dengan wifi hotspot gratis.

Presiden Shall kepada media di Senegal mengatakan penduduk dan turis dari luar negeri dipersilahkan mempergunakan fasilitas tersebut. Menurut rencana area gratis wifi terutama berada di alun-alun kemerdekaan Senegal.

Sejauh ini akses warga Senegal terhadap internet memang sangat terbatas sekali. Diperkirakan kurang dari setengah penduduk Senegal masih tanpa akses terhadap internet. Mahasiswa yang sedang memanfaatkan fasilitas tersebut mengatakan tugasnya dapat selesai dengan lebih mudah menggunakan bantuan jaringan internet.

Sayangnya pihak industri di Senegal merasa skeptic, dengan kehadiran proyek Dakar Digital City tersebut. Sebab menurut mereka keberlanjutan kadang tak diperhatikan oleh pemerintah Senegal sendiri.

Selain masih bermasalah terhadap akses internet, Senegal juga kini pusing kepala menghadapi pencuri-pencuri ikan didaerah lautan mereka. Kejadian terakhir, kapal ikan dari Rusia tertangkap tangan sedang menangkap ikan secara illegal diperairan Senegal.

greenpeace fight illegal fising in west africa senegal

Kelompok konservasi lingkungan Greenpeace melakukan aksi blokir terhadap kapal Rusia karena mengambil ikan secara ilegal diperairan Senegal. (www.greenpeace.org.uk)

Oumar Gueye, Menteri Perikanan Senegal mengatakan penangkapan ikan illegal merugikan negara hingga dua persen dari Produk Domestik Kotor mereka. “Ilegal fishing jelas merusak sumber daya laut Senegal. Para pelakunya akan mengalami masa yang sulit di Senegal bila memang tertangkap,” ujar Gueye.

Ikan diperairan mereka memang sangat kaya konsumsi, seperti tuna dan mackerel. Sekitar 60 persen, atau sekitar 450.000 metrik ton dari hasil itu dinikmati masyarakat Senegal. Sisanya diekspor ke Eropa. Sekarang sekitar 600.000 orang bekerja sebagai nelayan, dengan total penduduk sebanyak 14 juta orang di Senegal.

Januari lalu, pemerintah Senegal menangkap kapal Oleg Naydonov yang berbendera Rusia, sedang menangkap ikan secara illegal di perairan selatan Guinei Bissau. Karena bersalah kapal tersebut kemudian didenda sebesar US$ 1,2 juta.

Kini Senegal terus berbenah. Menuju perbaikan sebagai negara moden, dengan mayoritas berpenduduk muslim di Afrika. Selain pertanian yang makin menggerus lingkungan, kini lautan menjadi sasaran selanjutnya pengembangan peradaban Senegal. (CNN/BBC/Bloomberg/sulung prasetyo)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s