Jelang Seabad Lepasnya Korea dari Jepang

SEOUL – Sejarah Korea Selatan yang panjang, pada akhirnya membawa pada berbagai cerita didalamnya. Hingga menjelang seabad lepasnya Korea Selatan dari penjajahan Jepang, masih tersisa cerita pedih wanita penghibur dan konflik perbatasan mewarnainya.

Riwayat Korea telah berumur paling tidak 500 tahun lamanya. Mulai saat lahirnya Kerajaan Korea, yang dibangun oleh Dinasti Joseon antara tahun 1392-1910. Hingga akhirnya mengakui turut dalam kerajaan Tiongkok, bersama Dinasti Ming dan Dinasti Qing.

Hingga akhirnya Kekaisaran Jepang kemudian berkuasa di Korea. Kekuasaan Jepang di Korea kemudian dianggap berakhir sekitar tahun 1919. Saat itu terjadi revolusi 1 Maret, yang kemudian dianggap sebagai hari kemerdekaan rakyat Korea dari kekuasaan Jepang.

Pada masa perang dunia kedua, meski Jepang berhasil menginvasi sebagian besar wilayah timur laut Tiongkok. Namun Korea tetap berdiri dengan tanpa intervensi dari negara manapun. Hingga kemudian Amerika Serikat (AS) memutuskan perang dengan Jepang pada 1941, maka Korea turut membantu karena Tiongkok memutuskan bergabung sebagai sekutu.

Sayangnya kondisi geopolitik internasional yang memecah pada dua kubu, membuat Korea akhirnya harus terbelah menjadi dua. Keputusan lahirnya negara Korea Selatan dan Korea Utara terjadi pada tahun 1945.

Konflik Perbatasan

Hingga awal minggu terakhir Februari 2015, gelombang demonstran kembali ada di ibukota Korea Selatan, Seoul. Buat para demonstran, mereka berunjuk rasa selain turut memperingati 96 tahun lepasnya Korea dari Jepang, juga mempertanyakan masalah konflik perebutan pulau diperbatasan kedua negara.

Bagi demonstran, pulau yang mereka sebut Dokdo merupakan milik Korea. Sementara Jepang juga mengakui pulau tersebut, dan menyebutnya dengan nama Takeshima, dan memasukan dalam bagian Prefektur Shimane.

“Kami berharap Jepang bisa menghadapi kenyataan sejarah, sehingga bisa menjalani sejarah baru dengan Korea Selatan sebagai mitra selama paling tidak 50 tahun mendatang,” kata Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye mengenai konflik tersebut.

Jepang yang sudah kadung mengakui pulau tersebut, bahkan telah menyiapkan buku pelajaran bagi murid-murid di pulau tersebut mengatakan menyadari adanya perhatian lebih pada pulau tersebut.

Menyikapi maslah tersebut, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga menyatakan mereka berupaya memahami posisi kedua negara.

“Kami masing-masing memiliki isu sendiri. Kami berusaha untuk memuaskan keinginan warga kami dan memahami kondisi orang lain,” kata Suga.

Masalah kepemilikan pulau sudah terjadi puluhan tahun lamanya. Pihak Korea menganggap pengakuan Jepang merupakan tindakan ekspansi. Untuk menghindari hal tersebut mereka akan segera mendistribusikan berbagai literature, peta dan foto mengenai keberadaan pulau tersebut sebagai kepemilikan Korea.

Pada kenyataan yang ada saat ini, sejarah menyatakan penduduk pertama yang ada di pulau tersebut merupakan nelayan yang pindah tahun 1965. Sekarang di pulau itu sudah ada dua mercusuar dan penjaga, ditambah dengan 37 polisi Korea yang menjaga.

Wanita Penghibur

Selain masalah perbatasan dengan Jepang, ternyata ada juga masalah mengenai wanita penghibur Korea pada masa perang yang dimanfaatkan Jepang. Menurut Presiden Park, kini saatnya pihak Jepang setidaknya menyampaikan maaf mengenai apa yang terjadi pada wanita-wanita tersebut dahulu.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Senin (2/3), Presiden Park kembali mengungkit masalah sejarah kelam tersebut. Ia meminta pihak Jepang memperbaiki masalah sejarah tersebut, secepat yang mereka bisa.

“Tak banyak lagi waktu yang bisa dilakukan untuk menghormati perempuan-perempuan itu,” kata Park.

Menurut Park kini umur para perempuan penghibur yang disediakan untuk memuaskan nafsu pihak Jepang pada saat perang dunia kedua sudah makin tua. Diperkirakan jumlah yang tersisa hanya sekitar 90 orang, dimana 53 diantaranya sudah menjelang ajal. (VOA/The Economist/ Asahi Shimbun/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s