Terjebak Kudeta Libya

BENGHAZI – Terjebak diantara peralihan politik, Alex Owumi melihat peta perubahan Libya  dari kacamata seorang pemain basket professional. Kepada kantor berita BBC Inggris, Owumi menceritakan kembali pengalaman itu. Tak pernah ada dipikirannya, menghadapi situasi dalam bahaya, sementara ia hanya berjuang menjadi pemain basket terbaik yang pernah ada.

Awalnya Owumi merasa senang ketika klub basket terkenal di Benghazi, Libya mau mengontraknya sebagai pemain basket professional disana. Sebagai warga negara Amerika Serikat (AS), kesempatan itu akan membuka karirnya dan meraih kesempatan pendanaan yang mencukupi.
27 Desember 2010, Owumi akhirnya mendarat di Benghazi. Kota itu merupakan kota kedua terbesar di Libya. Ia akan bermain di klub lokal bernama Al-Nasr Benghazi. Setelah malang melintang di berbagai klub Eropa, akhirnya ia merasa nyaman disana, lantaran fasilitas rumah inap yang seperti Taj Mahal layaknya.
Ahmed, penghubung Owumi di Libya mengatakan rumah inap atlit itu milik anak pemimpin Libya saat itu, Moamar Gaddafi yang bernama Mutassim Gadaffi. “Al-Nasr itu milik klub Gaddafi. Jadi kamu bermain untuk keluarga Gaddafi,” kata Ahmed menjelaskan.
Betapa senang Owumi mendengar itu. Nama Gaddafi sudah tak asing ditelinganya. Pemimpin revolusioner Libya tersebut membuat wajah Afrika berubah. Owumi sangat bersemangat bisa membantu Gaddafi, dalam memajukan olahraga dinegara tersebut.
Namun masalah mulai tercium, saat pertama kali ia datang menghadiri sesi paska pertandingan. Owumi bertemu dengan Moustapha Niang dari Senegal, yang juga direkrut untuk memperkuat Al-Nasr. Raut Moustapha seperti cemas, karena baru saja kalah dalam pertandingan. “Kami belum mendapatkan gaji, beberapa diantara pemain tersiksa secara psikologis. Jika tak menang dipertandingan berikutnya, pasti ada pemain yang akan dipukul,” urai Moustapha menjelaskan hal ihwal kecemasannya.
Awalnya Owumi melihat hal tersebut sebagai sebuah hal yang merusak. Setiap pemain olahraga pasti akan mengalami masa kekalahan. Tak ada yang selamanya selalu menang. Sangat sulit menjadi bagian tim, yang harus selalu melulu menang, pikir Owumi.
Untungnya dipertandingan pertama yang diikuti Owumi, yang juga ditonton oleh Gaddafi langsung, timnya berhasil meraih kemenangan. Kali ini tak ada tekanan psikologis atau pukulan karena kalah, tapi malah diberikan uang bonus sebesar US$ 1.000 per orang. “Dari pemimpin kami,” kata Ahmed sambil menyelipkan amplop.
Pelatih Al-Nasr, Sharif memberikan selamat kepada para pemain. Namun situasi politik yagn sedang gonjang-ganjing di Libya, membuat Sharif memberikan peringatan kepada para pemain untuk tak terlalu sering keluar malam, apalagi menghamburkan uang bonus yang baru diberikan.
17 Februari 2011, sekitar jam 09:15 pagi kerusuhan terjadi di Libya. Sekitar 200-300 orang berkumpul di depan kantor polisi. Konvoi militer hilir mudik kesana-kemari. Lalu tanpa peringatan, tiba-tiba mereka menambak. Orang-orang lalu lintang pukang, ada juga yang jatuh terkapar. Jasad yang mati tiba-tiba menjadi banyak dijalanan.
Owumi hanya bisa berdoa dan berdoa. Berharap itu semua hanya mimpi, dan hilang saat ia bangun tidur nanti. Namun itu bukan mimpi, peluru masih berkeliaran dimana-mana. Apartemen yang menjadi rumah inap-nya tiba-tiba menjadi seperti sangat rendah. Hingga akhirnya setelah setengah jam, suara tembakan melemah dan berhenti.
Tiba-tiba dipintu kamarnya terdengar gedoran. Ketika ia membuka pintu, dua orang tentara sangar meminta informasi. “Kamu orang Amerika atau Libya?”. Owumi menunjukan paspor sebagai warga negara AS, dan ia selamat. Tak berapa lama, terdengar letusan dikamar sebelah. Tak percaya rasanya, saat Owumi kemudian melihat tetangganya bersimbah darah.
Owumi masih belum bisa menutupi keterkejutannya, saat ia kemudian melihat para tentara tersebut berusaha memerkosa anak perempuan dari tetangganya tersebut. Kebencian memenuhi kepalanya, ia segera meraih AK-47 yang dibiarkan dilantai. Sayangnya ia hanya seorang pemain basket, yang tak mengerti menggunakan senjata. Senapan itu justru menyalak tanpa kendali, dan segera diambil alih lagi oleh tentara-tentara tersebut. Owumi kemudian selamat hanya karena tak bisa berbicara bahasa Libya, dan hanya berlogat Inggris Amerika. Ia kemudian hanya bisa diam, saat tentara-tentara tersebut melanjutkan aksi memerkosa ramai-ramai anak gadis tersebut.
Sekarang sudah sehari-semalam paska serangan kudeta berlangsung. Owumi merasa tak memiliki tenaga lagi. Jiwanya terasa hilang, baru kali ini ia merasakan kerasnya hidup dalam peperangan. Untungnya pelatih Sharif berhasil menjemputnya di apartemen. Sharif kemudian membawa Owumi dan beberapa pemain basket lain, menuju lokasi yang lebih aman diperbatasan Libya.
“Perlu enam jam berkendara di gurun Libya, sebelum mencapai perbatasan. Saya akan membawa kalian kesana, meskipun sangat berbahaya sekali,” kata Sharif.
Kami memutuskan segera pergi saja. Owumi hanya membawa sebuah tas kecil, dan sekitar pukul 02:08 malam ia bersama pergi menuju perbatasan. Untungnya mereka berhasil melewati berbagai penjagaan, dan melewati perbatasan. Ternyata butuh 12 jam lamanya sebelum akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan keluarga di AS. Semua merasa takjub karena Owumi berhasil lolos dari kejadian kudeta di Libya, yang kemudian menewaskan Gaddafi tersebut. Dalam pikiran Owumi sendiri, tak ada yang lebih bisa disyukuri selain keselamatan dirinya dan anak gadis tetanggnya yang diperkosa habis-habisan, tanpa ia mengerti mengapa harus dilakukan seperti itu. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s