Charlie Hebdo Menafikan Perbedaan

PARIS – Muka takut ditampilkan Sigolene Vinson. Perempuan setengah baya itu terjebak diantara rentetan tembakan. Dua orang tiba-tiba menyerang kantor mereka. Redaksi Charlie Hebdo, yang bermarkas di Paris, Prancis.

Hari itu, 7 Januari 2014 menjelang pukul 11:30 siang, semua cerita tiba-tiba berubah menjadi kemurungan. 10 orang tewas seketika, hampir keseluruhan laki-laki. Semua kartunis, yang biasa menggambar untuk kepentingan majalah satir sosial dan agama, Charlie Hebdo. Sigolene satu yang selamat hanya karena ia perempuan.

“Tenang saja,” kata salah seorang penembak, saat menatap Sigolene. “Saya tidak membunuh perempuan.”

Ucapan itu dibuktikan penembak tersebut. Ia tak melanjutkan aksi tembak menembak brutalnya. Sigolene hanya bisa berdiam, matanya terus menatap salah satu dari dua bersaudara Kouchi itu. Berharap mereka tak menemukan seorang staf Charlie Hebdo lain, yang bersembunyi tepat diseberang Sigolene.
Sayangnya senapan AK-47 yang dibawa kedua pemuda itu kembali menyalak. Di ruang lain, korban kembali berjatuhan. Sigolene hanya bisa berbaring dan terisak. Saat semua tiba-tiba menjadi hening, wanita berambut pirang itu beringsut pelan mencari telepon genggam. Panggilan pertolongan pertama dari redaksi Charlie Hebdo, kemudian tertulis dikepolisian setempat datang dari namanya.
“Saya masih ingat apa yang dikatakannya. Kau harus memikirkan apa yang kamu lakukan. Apa yang kau lakukan itu jahat. Sekarang saya menantang kamu, kamu harus membaca Qur’an,” urai Sigolene menceritakan apa yang diucapkan para pelaku penembakan.
Sigolene dan sebagian besar redaksi Charlie Hebdo bukan tak tahu apa-apa. Mereka mengerti konsekuensi apa yang dilakukan, bila nekat menggambar muka nabi Muhammad saw, yang disucikan umat Islam. Beberapa tahun yang lalu mereka pernah melakukan hal itu juga, dan jutaan protes dilontarkan umat Islam sejagad bumi.
Untuk umat Islam sendiri, menggambar wajah nabi Muhammad jelas dilarang. Siapa saja yang berani melakukan hal tersebut, hukuman mati imbalannya. Karena dianggap melecehkan nabi Muhammad dan umat Islam secara keseluruhan.
Rasis Agama
Baru dua hari setelahnya, dua bersaudara Kouchi kemudian berhasil dilumpuhkan. Setelah melalui dua hari drama pengejaran disekitar kota Paris. Terakhir Kouchi bersaudara berhasil menyandera pengunjung sebuah supermarket di pusat kota. Namun akhirnya berhasil ditembak mati, dan membuat Paris seperti tergores luka baru.
Gelombang protes hadir bertubi-tubi paska aksi penembakan terjadi. Ribuan orang rela berdesakan dipusat kota Paris, meneriakan kata-kata mengenai kebebasan berpendapat, dan aksi sentimen terhadap Islam.
Untuk Charlie Hebdo sendiri, kejadian ini seperti tak membuat jera. Tepat hari Rabu (14/1/2015) kembali mereka menerbitkan majalah dengan karikatur wajah Muhammad di sampul muka. Kali ini Muhammad terlihat bersedih, membawa kertas bertuliskan “Saya Charlie” dan sebuah slogan besar dengan kata-kata “Semua Dimaafkan”.
Renald Luzier, sang pembuat gambar kartun tersebut menjelaskan makna gambar itu dengan terisak. Pada konferensi pers yang dilakukan di Paris, Luz menggambarkan dunia kini sudah kehilangan rasa humor.
“Ini hanya sebuah gambar karikatur. Tugas kami menghilangkan jarak tersebut, antara satir dan humor yang kini mulai pudar dikomunitas manusia bumi,” urai Luz.
Tapi ego redaksi Charlei Hebdo kembali menampilkan karikatur wajah Muhammad, seperti mengulang kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Banyak kalangan muslim mengecam hal tersebut, terutama datang dari area Timur Tengah.
Harian di Yordania, Al-Dustuor mengatakan Hebdo melanjutkan provokasi. Sementara sebuah harian di Aljazair, Echourouk menuliskan jelas Hebdo melakukan tindakan melawan umat muslim.
Stasiun televisi Iran, IRINN menjelaskan kartun baru yang menjadi sampul depan Charlie Hebdo hanya akan menumbuhkan makin banyak kebencian. Begitupun media di Turki, Yeni Akit mengatakan secara umum Charlie Hebdo dan media barat bersembunyi dibalik kepengecutan kaum zionis Israel, untuk menyerang muslim dunia.
“Kebebasan berekspresi jangan melewati batas, apalagi menyerang orang dengan keyakinan lain. Melecehkan agama lain itu sama saja dengan rasis,” tulis Idris al-Driss, di harian Arab Saudi, Al-Watan.
Di Tiongkok, pemerintah memerintahkan agar semua media tak menampilkan karikatur tersebut. Menurut pemerintah Tiongkok, itu tindakan yang tidak perlu untuk memprovokasi umat Islam. Sementara editorial di tabloid Global Times menuliskan kalau kartun tersebut tak seharusnya menjadi prioritas.
“Jikalau Charlie Hebdo membuat kartun itu untuk memperkuat isu melawan Islam, mungkin itu hanya akan membuat pemerintah Prancis dalam posisi sulit,” imbuh editorial tersebut.
Kalangan pengamat anti teror yang diwawancara Global Times juga menyayangkan apa yang diputuskan Charlie Hebdo, ketika akhirnya menampilkan kembali wajah kartun nabi Muhammad dalam edisi terbaru mereka.
“Kebanggaan pada diri sendiri dan arogansi tak sepadan dengan realitas, bahwa kita hidup di komunitas multi kultur,” kata para pengamat di Global Times.
Apa yang dilakukan Charlie Hebdo jelas menafikan perbedaan. Menyamakan hal-hal yang jelas tidak sama, dan menganggap semua hanya humor belaka. (BBC/Guardian/Slate/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s