Harga Minyak AS Turun

NEW YORK – Harga minyak mentah di Amerika Serikat (AS) jatuh hingga hanya senilai US$ 50 per barrel. Nilai tersebut diklaim terburuk sejak April 2009 lalu.

Jatuhnya nilai minyak AS tersebut tak hanya di bursa saham setempat saja. Di bursa saham Brent Inggris pada Senin (5/1) juga mencatat nilai minyak AS hanya seharga US$ 53 per barrel. Menurut beberapa pengamat, turunnya harga tersebut disebabkan tingginya produksi minyak di AS, untuk menggenjot naiknya ekonomi.

Kini para investor mulai khawatir akan makin buruknya iklim investasi pada sektor minyak. Banyak yang menyalahkan turunnya harga minyak dunia, turut mempengaruhi makin rendahnya harga minyak di AS.

Beberapa analis lain menyebutkan turunnya harga minyak di AS, tak lain akibat dari kebijakan mereka sendiri. Dimana revolusi gas alam sebagai pengganti energi yang digembar-gemborkan AS justru menjadi bumerang, lantaran organisasi negara penghasil minyak (OPEC) tak mau menurunkan tingkat produksi untuk menaikan harga.

Informasi dari berbagai negara lain menunjukan tidak adanya keinginan untuk negara yang tergabung di OPEC, untuk menurunkan tingkat produksi. Seperti pemerintah Rusia, sebagai negara kedua terbesar pengekspor minyak bahkan sudah mengumumkan akan meningkatkan jumlah produksi dibanding pada Januari 2015.

Alasan Rusia jelas untuk mendukung negara mereka, dalam persoalan geopolitik. Seperti diketahui Rusia masih berjibaku dalam konflik mengenai krisis Ukraina. Sama seperti alasan negara penghasil minyak lain, seperti Irak yang berjibaku dengan kehadiran Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS).

Bahkan menurut kabar terakhir Irak akan menaikan jumlah produksi hingga 3,3 juta barrel minyak per hari. Catatan sebelumnya, Irak biasanya mengekspor minyak sebanyak 2,94 juta barrel per hari pada bulan Desember 2014 lalu. Jumlah produksi tersebut merupakan angka tertinggi yang pernah dilakukan Irak sebelumnya selama dekade terakhir ini.

Hingga kini para anggota OPEC tetap bertahan untuk bermain di harga minyak sebesar US$ 60 per barrel. Nilai tersebut dianggap sebagai harga keseimbangan yang tercatat aman, bila tak mau terjebak dalam masalah penurunan produksi minyak.

“Jika harga minyak dunia turun dari US$ 60 maka para produsen minyak akan menghadapi masalah besar. Jika lebih mahal dari nilai tersebut, maka pasar akan direbut oleh produsen gas alam yang siap menggantikan minyak,” ujar Tom Pugh, analis ekonomi dari Capital Economic Comodities.

Kejatuhan harga minyak terus menghantui dunia. Makin rendahnya harga minyak mempengaruhi biaya produksi, dan membuat banyak kilang minyak mengalami krisis. (BBC/IBT/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s