Teknologi Pencari Air Asia Milik Negara Tetangga

JAKARTA – Misi internasional dilakukan untuk mencari pesawat Air Asia QZ 8501, yang akhirnya diketahui jatuh di selat Karimata. Negara seperti Singapura, Malaysia, Australia dan Amerika Serikat (AS) turut ambil bagian dalam misi tersebut.

Kapal laut dan pesawat dengan teknologi canggih dan mampu melaju cepat menjadi pilihan. Salahsatunya yang dimiliki Australia. Melalui sambungan langsung ke Presiden Jokowi, Australia melalui Perdana Menteri (PM) Tony Abbot meminta izin pesawat pencari milik angkatan bersenjata mereka, turut membantu mencari lokasi jatuhnya pesawat yang membawa 162 penumpang tersebut.

“PM Abbot mengatakan akan membantu upaya pencarian yang bersifat kemanusiaan,” urai keterangan yang disebarkan Kementerian Luar Negeri Australia, Minggu (28/12/2014).

Pesawat pencari yang dikirimkan Australia berjenis P-3 Orion. Berbadan besar dan membawa banyak teknologi pencarian dan pelacakan didalamnya. Pesawat tersebut menurut situs angkatan bersenjata Australia mampu melakukan pelacakan area maritim. Pesawat itu juga bisa digunakan untuk menghancurkan kapal selam dan kapal perang. Selain juga bisa menjadi pendukung untuk kapal induk, serta operasi pencarian dan penyelamatan.

Pesawat jenis tersebut terbukti berhasil menuntaskan berbagai macam misi di dunia. Tercatat misi yang berhasil diselesaikan sebanyak 2.400 kali, dengan 3.500 orang personil yang pernah merasakan turut serta dalam misi tersebut.

Kelebihan pesawat tersebut adalah memiliki banyak jenis sensor pencari. Termasuk radar digital multi-mode, perangkat pendukung elektronik, detektor elektro-optik yang berteknologi infra merah dan visual, detektor anomali magnetik, sistem identifikasi dan detektor akustik.

Dengan kemampuan tersebut, pesawat P-3 Orion diklaim bisa melakukan upaya pencarian sendiri saja, atau disatukan dengan armada kapal laut. Pada misi saat perang, P-3 Orion mampu mencari lokasi dan menyerang kapal selam musuh. Tapi kali ini, Orion jelas akan digunakan untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan, selain juga bisa membantu pasokan barang kebutuhan pencarian melalui angkasa.

Beda lagi dengan Amerika Serikat (AS). Pada pengumuman yang dikabarkan Pusat Informasi Angkatan Laut AS, Senin (29/12) mereka akan mengirimkan jenis kapal perang bertipe penghancur yang mampu meluncur cepat.

Pengiriman kapal tersebut dilakukan setelah pemerintah Indonesia mengajukan permintaan bantuan pencarian. Pihak Angkatan Laut AS menjelaskan akan mengirimkan USS Sampson (DDG 102) ke area pencarian hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501.

“Otoritas setempat tetap menjadi pemimpin upaya pencarian dan penyelamatan. Angkatan Laut AS bekerja bersama dengan pemerintah Indonesia untuk mengidentifikasi wilayah permukaan laut, atau mengerahkan juga armada udara yang ada di USS Sampson untuk pencarian tersebut,” urai keterangan yang diberikan Angkatan Laut AS.

USS Sampson sendiri berpangkalan di San Diego, dan bertanggung jawab terhadap wilayah Pasifik Barat. Kapal tersebut memiliki berat hingga 9.200 ton, dan memiliki panjang sampai 155,30 meter (m). Dengan empat turbin pembangkit tenaga, USS Sampson mampu melaju pada kecepatan lebih dari 55 kilometer per jam (km/jam).

Selain itu USS Sampson juga dilengkapi dengan dua helikopter Sea Hawk SH-60. Dua helikopter tersebut bisa saja digunakan, dengan radius pencarian hingga 600 km disekitar USS Sampson.

Radar pencari berjenis AN/SPY-1D yang menghasilkan tampilan 3 dimensi, juga ditanam pada USS Sampson. Pada kapal perang tersebut juga terdapat radar navigasi dan sonar pencari daerah permukaan laut, untuk memudahkan upaya pencarian.  

Selain Australia dan AS, negara tetangga Indonesia seperti Singapura dan Malaysia juga turut ambil bagian dalam upaya pencarian tersebut. Menurut keterangan pihak Malaysia mengirimkan sebuah pesawat Hercules C-130. Kemampuan pesawat berbadan lebar tersebut sudah tak diragukan lagi. Selain mampu menempuh jarak panjang, juga bisa membawa beban berat yang dibutuhkan untuk upaya pencarian itu.

Selain Malaysia, negara Singapura juga mengirimkan dua pesawat Hercules C-130. Pesawat tersebut akan dikirimkan, bersama dua kapal perang jenis fregat dan satu jenis corvette. Kapal jenis fregat yang dikirimkan berjenis kapal pengangkut tank, bernama RSS Persistence dan RSS Supreme. Sementara satu kapal jenis corvette, berkode RSS Valour.

Pada hari Minggu jam 23.55 waktu setempat, Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing melepaskan ketiga armada laut tersebut. Menurut Chan pemerintah Singapura juga sebenarnya telah menyiapkan kapal selam bila diperlukan.

“Saya percaya dengan hubungan baik yang selama ini ada antara Singapura dan Indonesia, kami berharap bisa membantu proses pencarian dengan lebih efektif,” kata Chan, melalui keterangan yang diberikan Kementerian Luar Negeri Singapura.

Otoritas Penerbangan Sipil Singapura mengatakan telah mengirimkan petugas, untuk membantu koordinasi dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) Indonesia. Sementara Biro Investigasi Kecelakaan Transportasi Udara Singapura telah menawarkan kepada pihak Indonesia, dua tim spesialis untuk membantu proses investigasi. Selain itu mereka juga menawarkan alat detektor pencari lokasi bawah air, untuk dipergunakan melakukan pencarian. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s