Myanmar Menuju Kemerdekaan Ketiga

JAKARTA – Sejarah Myanmar yang dahulu bernama Burma, penuh dengan intrik pergantian kekuasaan. Bahkan hingga kini konflik sebenarnya terus terjadi, turun menurun dari ayah hingga anak cucu. Menjelang akhir 2014, gerbang kontitusi baru akhirnya makin didekati. Pemilihan melalui bentuk referendum dilakukan, setelah 60 tahun kekuasaan militer membungkam demokrasi Myanmar. Akankah kemerdekaan ketiga yang digaungkan kembali akan tercapai?

Catatan mengenai Burma dimulai saat abad ke 11. Saat itu Raja Anawratha mempersatukan Burma dibawah kekuasaan monarki, pada tahun 1044. Kepercayaan pada agama Buddha membuatnya membangun berbagai candi dan pagoda di ibukota negara Burma, yang dulu bernama Pagan. Hingga akhirnya kekuasaan Raja Anawartha runtuh oleh Kyanzitta, melalui perang panjang antara tahun 1084-1113.

Setelah terjadi perang pergantian kekuasaan hingga tiga kali, baru akhirnya pemerintah kolonial Inggris berhasil menguasai Burma, pada tahun 1886. Puluhan tahun berikutnya Inggris terus berkuasa, hingga akhirnya mulai ada protes dari kaum terdidik dan biksu pada tahun 1920. Protes lanjutan terjadi tahun 1935, kali ini dipimpin oleh seorang mahasiswa hukum bernama Aung San.

Saat perang kedua dunia pecah, Aung berhasil hampir membawa Burma menuju kemerdekaan. Saat tahun 1947, Aung berhasil berunding dengan Inggris, agar memberikan kemerdekaan secara penuh ke pihak Burma. Sayangnya saat persiapan kemerdekaan berlangsung, Aung San dan beberapa orang pendukungnya tewas mengenaskan, setelah diberondong senapan saat melakukan rapat.

Setelah itu kekuasaan militer menguasai pemerintahan Burma, yang kemudian berganti nama menjadi Myanmar. Tanggal 4 Januari 1948 kemudian dijadikan waktu yang tepat untuk memproklamasikan keberhasilan kudeta junta militer, dan lepasnya negara Burma dari pemerintah kolonial Inggris.

Hingga kini kemudian Myanmar berada dibawah kekuasaan junta militer. Dibawah kepemimpinan Jendral Ne Win, rezim diktator dijalankan secara keras. Termasuk dengan membatasi warga untuk berkumpul, mengeluarkan pendapat dan melakukan pemilihan umum.

Aung San Suu Kyi, anak perempuan dari Aung San berusaha berontak dengan kondisi tersebut. Tapi sampai sekarang ia terus dikurung dalam rumah, agar tak bisa memberontak terhadap kekuasaan.

Kemerdekaan Ketiga

Tantangan terbesar yang dihadapi Myanmar selain meraih demokrasi secara penuh, juga harus menyatukan kaum minoritas etnis yang terus berkonflik hingga sekarang. Menurut sejarawan Jerman, Hans Berd-Zoolner yang mendalami literatur Myanmar, kini negara tersebut memasuki gerbang kemerdekaan ketiga.

“Myanmar saat ini hanya sebuah negara, dan bukan sebuah kesatuan. Tak ada identitas umum yang bisa dijadikan pedoman. Apa yang kita lihat sekarang di Myanmar adalah perang nasional ketiga untuk kemerdekaan nasional,” papar Zoolner, pada sebuah kesempatan.

Kemerdekaan pertama saat terbebas dari sistem monarki purba. Kemerdekaan kedua saat telepas dari kekuasaan kolonial Inggris. Bilamana kemudian referendum yang digulirkan Presiden Thein Shein benar terjadi, maka Myanmar akan memasuki gerbang kemerdekaan ketiga. Saat negara tersebut bebas dari kekuasaan rezim junta militer.

Masa menuju kemerdekaan ketiga itu tampaknya terus menunjukan prospek cerah. Terbukti dengan kabar terakhir mengenai percobaan pemilihan pemimpin kota Yangon, pada akhir Desember 2014. Nantinya hasil percobaan pemilihan akan dijadikan pedoman untuk melakukan proses pemilihan umum sebenarnya, yang akan dilakukan pada November 2015 mendatang.

Adanya pemilihan tersebut menunjukan Myanmar menuju proses demokrasi yang diharapkan. Meskipun dimata banyak orang seperti melihat mimpi yang menjadi kenyataan.

“Sangat sulit mengharapkan ekspektasi yang besar dari proses pemilihan yang baru pertama kali terjadi setelah 60 tahun lamanya,” kata Khin Maung Tun, penduduk yang tinggal di daerah Thaketa, Yangon.

Meskipun pemilihan masih dilakukan secara terbatas, dimana satu rumah hanya memiliki satu suara, kebijakan tersebut dianggap angin segar perubahan. Dimana mereka bisa memilih diantara 300 kandidat, untuk menduduki 115 kursi posisi wakil rakyat.

Meskipun banyak pemilih yang merasa ragu. Namun gerbang ketiga kemerdekaan semakin dekat teraih, dimana proses demokrasi tampaknya akan menjadi poros masa depan Myanmar. (DW/AFP/Aljazeera/Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s