Perdagangan Harimau ke Tiongkok Meningkat

sumatran_small

Harimau sumatera. dok.tigerincisis

MONG LA – Perdagangan satwa liar seperti harimau dan kucing liar dari Myanmar ke Tiongkok terindikasi terus meningkat tahun terakhir ini. Demikian hasil penelitian selama dua dekade yang diluncurkan Senin (22/12/2014).

Laporan tersebut berdasarkan data yang dikumpulkan dari kota Mong La, yang berada diperbatasan antara Myanmar dan Tiongkok. Kota Mong La diketahui memiliki pasar perdagangan satwa liar sejak delapan tahun lalu.

Dari survey yang berhasil dikumpulkan, jenis satwa yang diperdagangkan sebanyak 80 persen merupakan harimau. Dari prosentase tersebut sebanyak  200 harimau telah diperjualbelikan selama ini. Sementara dari jenis macan tutul, diperkirakan mencapai 480 ekor telah diperjualbelikan.

Hasil penelitian ini juga kemudian telah dipublikasikan dalam Jurnal Konservasi Biologi, bulan Desember 2014 ini. Diklaim pasar satwa liar Mong La merupakan lokasi perdagangan satwa liar terbesar yang ada di bumi saat ini, bahkan lebih besar daripada yang ada di Afrika sekalipun.

“Mong La telah menjadi pasar yang terus berkembang untuk perdagangan satwa liar,” kata Chris Shepherd dari Traffic, sebuah organisasi jaringan monitor perdagangan satwa liar internasional.

Menurutnya pihak otoritas di Myanmar luput menjalankan fungsi kontrol pada perdagangan satwa liar dikota tersebut. Bahkan terindikasi pasar satwa liar di Myanmar dijalankan dengan perjanjian tersembunyi antara aparat dan pemerintahan disana.

Sebenarnya pihak Myanmar telah melarang organ tubuh satwa liar seperti Harimau dan Macan Kumbang disana. Aturan tersebut didasarkan pada kesepakatan internasional mengenai jenis satwa liar yang hampir punah (CITES). Namun sepertinya aturan tersebut telah dilanggar mengingat kondisi yang kini sebenarnya terjadi.

Thomas Grey, dari WWF Internasional mengatakan kebanyakan dari produk yang diperdagangkan, seperti daging dan tulang harimau hanya bisa dinikmati di Mong La dan tidak dimasukan ke Tiongkok. “Tapi diperkirakan banyak kulit harimau yang diimpor masuk ke Tiogkok,” urai Grey.

Kini hal yang paling dibutuhkan menurutnya merupakan pengetatan penjagaan perbatasan di Myanmar dan Tiongkok. Sehingga turis-turis dari Tiongkok tidak dapat membawa bagian satwa liar tersebut masuk ke negaranya.

Tiongkok hingga kini diperkirakan masih menjadi pasar terbesar perdagangan satwa liar, seperti Harimau. Sementara pemerintah Tiongkok terus dikritik karena tak melakukan banyak kebijakan pengetatan dari perdagangan tersebut. Bahkan awal tahun ini pemerintah Tiongkok mengatakan tak melarang adanya perdagangan kulit harimau disana, namun melarang perdagangan daging dan tulang harimau.

Di alam kini kondisi harimau terus berkurang. Diperkirakan hanya tersisa 3.000 ekor harimau kini masih hidup di bumi. Jumlah tersebut hanya sekitar 5 persen dari total populasi harimau pada abad lalu. Kebanyakan harimau yang ditangkap kemudian dijual, untuk dijadikan pajangan atau obat tradisional. Pasar tradisional Asia yang terindikasi banyak menjual satwa liar berada di Thailand dan Myanmar. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Oxford pada awal tahun 2014 menemukan setidakanya 3.300 gading dan 49 cula badak, dijual secara bebas di Mong La. Sementara survey pada tahun 2009 menemukan 25 kulit gajah disana. Pada tahun 2013 dan 2014, jumlah tersebut meningkat hingga 1.050 lembar. (BBC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s