Jumlah Berkurang Tapi Kekuatan Bencana Alam Makin Besar

JAKARTA – Sepuluh tahun lalu bencana alam maha dahsyat pernah menghantam provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tsunami meluluhlantakan daerah paling barat Indonesia tersebut. Menewaskan puluhan ribu orang, dan mengingatkan pada bahaya bencana alam yang terus mengintai manusia.

Bencana alam masih terus menghantui kehidupan manusia dibumi, pada tahun 2014 ini. Bahkan disinyalir makin bertambah berat, mengingat adanya fenomena pemanasan global. Panas suhu bumi yang terus mendaki, pada kenyataannya menimbulkan berbagai efek bencana alam yang tercipta makin hebat.

Indikator makin beratnya bencana alam, tergambar dari waktu kejadian yang makin beragam terjadi. Seperti misalnya bencana banjir, kini terekam tak hanya terjadi pada awal tahun saja, namun pertengahan hingga akhir tahun.

Selain variasi waktu yang makin beragam, nilai bencana alam juga dianggap makin besar. Seperti kasus badai siklon, yang makin kerap terjadi dengan intensitas yang makin dahsyat pula. Meskipun disinyalir jumlah badai berkurang tahun ini, namun dampak yang diciptakan ternyata tak bisa dibilang lebih kecil dari sebelumnya.

Bencana Hidrometeorologi

Seperti diprediksi pada tahun-tahun sebelumnya, pemanasan global pada akhirnya akan memicu bencana alam jenis hidrometeorologi akan meningkat. Sutopo Purwo Nugroho, dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bencana hidrometeorogi sebagai bencana yang terkait dengan cuaca dan iklim. Jenis bencana yang tercipta bisa berbagai macam, yang paling sederhana merupakan banjir yang akan makin meruyak dan bertambah besar. Maka wajar bila daerah-daerah yang sebelumnya terkena banjir, akan makin parah mengalami hal tersebut di tahun 2014 ini.

Seperti misalnya banjir yang menimpa daerah Kashmir, di utara Pakistan dan barat India. Banjir yang terjadi pada September 2014 jelas berada diluar kebiasaan. Sebab sebelumnya tak pernah banjir ekstrem terjadi diwilayah tersebut hingga sedemikian besarnya. Ratusan jiwa melayang, dan ratusan ribu warga harus mengungsi akibat kejadian ini.

Badai yang datang pada tahun 2014 ini juga bukan jenis yang bisa disepelekan. Badai Mario yang menghantam pada bulan September, hampir menenggelamkan ibukota Philipina, Manila. Sementara badai Hagupit, yang terjadi pada akhir tahun, jelas membuat seisi kota porak poranda. Meskipun kali ini lebih minim korban, dibanding dampak badai Haiyan tahun sebelumnya.

Selain badai dan banjir, akibat dari pemanasan global juga membuat lapisan salju makin mudah mencair. Daerah-daerah pemukiman manusia, yang memiliki lapisan salju tebal seperti di Himalaya diklaim akan makin menderita. Selain masalah debit air sungai yang makin tinggi karena pasokan air dari salju yang meleleh bertambah, mereka juga dihadapkan pada resiko makin tingginya kelahiran bencana seperti salju longsor.

Seperti terjadi pada bulan April 2014. Longsoran salju membuat 13 orang pemandu pendakian di gunung Everest tertimbun. Kejadian tersebut jelas menimbulkan luka mendalam, dan membuat musim pendakian di gunung tertinggi dunia tersebut dibatalkan semua pada tahun ini.

Longsoran salju dahsyat kembali terjadi di Himalaya pada bulan Oktober 2014. Dimana membuat puluhan pendaki yang sedang menikmati kaki-kaki gunung harus dievakuasi keseluruhan.

Selain membuat salju terus meleleh, makin panasnya bumi juga membuat wilayah kering makin mudah terbakar. Daerah luas padang rumput stepa seperti Australia kemudian harus menghadapi masalah serupa. Bahkan disinyalir, kebakaran hutan yang kerap terjadi di Australia dua tahun terakhir ini, dipicu oleh fenomena perubahan iklim dunia.

“Kondisi panas dan kering memiliki pengaruh besar pada kebakaran semak. Perubahan iklim membuat hari yang panas jadi lebih panas, dan gelombang panas jadi lebih lama dan lebih sering, dengan peningkatan kondisi kemarau di bagian tenggara Australia,” kata sebuah laporan yang dikeluarkan Dewan Iklim Australia, Agustus 2014.
Menurut studi itu, sampai 2030, telah diperkirakan jumlah petugas pemadam profesional di Australia setidaknya perlu dilipatgandakan, bila dibandingkan dengan 2010 untuk mengimbangi peningkatan penduduk, nilai aset, dan cuaca yang berbahaya bagi kebakaran.

Kerugian dan Adaptasi

Makin besarnya jenis bencana alam membuat orang memprediksi besaran kerugian yang tercipta. Sebuah penelitian oleh Swiss Re’s sigma mengatakan setidaknya pada tahun 2014 ini total kerugian ekonomi akibat bencana alam mencapai US$ 113 miliar.  

Swiss Re’s sigma juga memperkirakan sekitar 11.000 orang kehilangan tempat tinggal. Sementara gempa bumi, banjir dan longsor menjadi sumber bencana yang paling menyengsarakan terjadi pada tahun 2014. Namun ada penurunan jumlah korban meninggal, bila pada tahun 2013 ada sekitar 27.000 korban, sementara tahun 2014 ini diperkirakan hanya 11.000 orang terdampak bencana alam.

Sayangnya dari jumlah tersebut diklaim kebanyakan korban berasal dari negara miskin. Hal ini mengindikasikan masih adanya ketimpangan kapasitas dan kapabilitas tiap negara dalam upaya adaptasi menghadapi bencana alam.

Untungnya Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) mampu mengumpulkan dana untuk mengurangi ketimpangan tersebut. Setidaknya dana lebih dari US$ 10 miliar berhasil dikumpulkan dari negara maju, untuk digelontorkan ke negara berkembang dan miskin dalam memperbaiki dan memperkuat upaya beradaptasi menghadapi dampak perubahan iklim. Capaian itu juga menjadi salah satu hasil yang patut dihormati, pada pertemuan para pihak sidang UNFCCC ke 20 di Lima, Peru, akhir tahun ini. Sehingga setidaknya hingga tahun 2015 mendatang, orang-orang bisa lebih bersiap untuk menghadapi dampak bencana alam, yang diperkirakan akan makin beragam dan bervolume besar. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s