Rusia Coba Selamatkan Rubel

MOSKWA – Pemerintah Rusia berencana memberlakukan kebijakan baru, untuk menstabilkan nilai rubel yang terus menurun. Para pengamat mengatakan hanya ilusi bila mengharapkan Rusia jatuh, hanya gara-gara persoalan tersebut.

Angka nilai rubel kini terus turun hingga ke titik terendah. Hingga Rabu (17/12/2014), nilai US$ 1 menjadi seharga 62 rubel, setelah sehari sebelumnya mencapai 79 rubel. Menurut pihak Rusia penyeimbangan simpanan mata uang asing, menjadi cara agar nilai rubel kembali menguat.

“Nilai tersebut menggambarkan perlunya keseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar bursa luar negeri, dimana akan bisa membantu menstabilisasi rubel lebih cepat,” kata Ksenia Yudayeva, Deputi Pertama Gubernur Bank Sentral Rusia.

Penurunan nilai rubel dipercaya karena jatuhnya harga minyak mentah dunia, dan sanksi yang diberikan dunia barat serta Uni Eropa (UE). Untuk mengurangi dampak negatif dari turunnya rubel, pemerintah Rusia mengatakan sedang menyiapkan paket kebijakan tertentu.

Deputi Menteri Keuangan Rusia, Alexei Moiseyev mengatakan Rusia akan mulai menjual mata uang asing, yang berada disimpanan mereka. “Kebijakan menjual mata uang asing itu bisa menjadi ide bagus, dalam konteks keamanan keuangan dalam negeri,” kata Alexei.

Neil Shearing, analis ekonomi dari Capital Economics lebih pesimis dengan kebijakan baru yang dilakukan pemerintah Rusia. Menurutnya semua tindakan yang diperlukan dipersilahkan untuk dilakukan, namun apapun itu tak akan bisa menjamin bisa memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.

“Sulit untuk kembali ke titik awal, namun pihka otoritas bisa melihatnya sebagai langkah untuk mengurangi resiko makin menurunnya sektor perbankan,” imbuh Neil.

Sementara itu Perdana Menteri (PM) Rusia, Dmitry Medvedev sebelumnya menyatakan rasa optimisnya akan kebangkitan kembali nilai rubel. Medvedev mengatakan hal tersebut diharapan para pengusaha dan menteri lainnya.

“Bank sentral dan pemerintah tengah mengerjakan paket kebijakan yang bertujuan untuk menstabilisasi kondisi tersebut. Apa yang terlihat saat ini lebih karena adanya permainan emosi didalamnya,” kata Medvedev.

Salah satu cara yang menurutnya akan dilakukan adalah memberikan perintah langsung di pasar, agar tiap orang berusaha menghentikan instabilitas tersebut. Namun pada saat yang sama harus diberlakukan regulasi yang kuat, seperti yang pernah dilakukan pada masa lampau. “Kami akan menggunakan perangkat-perangkat di pasar sebaik-baiknya,” tambah Medvedev.

Banyak pihak juga kemudian optimis bila Rusia bisa kembali menaikan harga rubel. Meskipun banyak pihak yang juga memperkirakan akan potensi penurunan ekonomi Rusia, pada tahun mendatang. Apalagi ditambah dengan sanksi baru yang diberikan Amerika Serikat (AS) kepada Rusia, belum lama lalu.

Namun menurut Ketua Koordinasi Pemerintah Jerman untuk Rusia, Gernot Erler memang harus diakui adanya penurunan ekonomi karena harga minyak, namun tidak karena sanksi yang diberikan UE. Hanya ilusi menurutnya bila mengharapkan kejatuhan ekonomi Rusia hanya karena hal-hal tersebut. (BBC/AFP/Xinhua/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s