Rubel Rusia Terus Melemah

MOSKWA – Nilai mata uang Rusia, Rubel terus dikabarkan menurun bila disandingkan dengan dollar Amerika Serikat (AS). Penurunan itu diperkirakan lantaran jatuhnya harga minyak mentah dan sanksi pihak barat dan Uni Eropa (UE) terhadap keberadaan Rusia di Ukraina.

Hingga Selasa (16/12/2014) nilai rubel sudah mencapai 60, bila ditukarkan dengan US$ 1. Kondisi tersebut secara umum telah mengakibatkan halangan psikologis, bagi perkembangan Rusia mendatang.

Nilai rubel itu menurut beberapa pengamat terus menurun dari nilai sebelumnya. Kalau ditelusuri nilai rubel sebelumnya mencapai penurunan 45 persen, dari saat nilai sekarang.

Bank Sentral Rusia sebenarnya telah mengambil beberapa tindakan untuk mengurangi dampak dari penurunan mata uang rubel tersebut. Salah satunya dengan membeli sebanyak-banyaknya rubel yang berada dimasyarakat. Sayangnya upaya tersebut hanya sempat menaikan nilai rubel sebesar 10,5 persen saja. Sebelumnya akhirnya jatuh kembali terhadap nilai dollar AS.

Penurunan tersebut menurut Banks Sentral Rusia disebabkan lantaran jatuhnya harga minyak mentah dunia. Padahal Rusia diketahui merupakan salah satu pengekspor minyak mentah terbesar di dunia.

Masalah lain lantaran adanya sanksi dari pihak barat dan UE. Sanksi tersebut pada akhirnya membuat pasokan ekspor barang-barang dari Rusia ke Eropa menjadi lemah. Selain itu juga membuat sektor perdagangan terus turun hingga ke titik terendah.

Menurut pihak otoritas Rusia, tingkat inflasi sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Harga-harga menurut mereka akan naik hingga 10 persen, menjelang akhir tahun nanti.

Pada November lalu, Bank Sentral Rusia sebenarnya telah melakukan intervensi penting untuk keluar dari masalah ini. Termasuk dengan menjual bebas rubel kepada pihak luar negeri. Diharapkan dengan penjualan rubel, maka bisa menaikan nilai mata uang karena berada diluar negeri. Tapi sayangnya jumlah penjualan telah melewati limit, hingga malah membuat nilai tukar makin lemah saja.

Upaya lain adalah dengan mengintervensi nilai rubel terhadap mata uang asing di pasar modal. Tercatat dana senilai US$ 4,53 miliar sudah dikucurkan, tapi tetap saja nilai rubel tak terdongkrak naik.

Turunnya nilai mata uang Rusia, tak bisa lepas dari rendahnya harga minyak mentah saat ini. Penurunan haraga minyak itu diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa bulan mendatang.

Awal minggu ini, nilai minyak mentah dari bursa Brent, jatuh hingga hanya senilai US$ 60 per barrel. Harga terburuk setelah lima tahun lamanya. Nilai terbaik yang bisa diraih diperkirakan hanya sebesar US$ 61 per barrel.

Organisasi pengeekspor minyak (OPEC) tetap bersikeras untuk tidak memotong jumlah produksi, untuk menaikan harga minyak. Sebab menurut mereka melimpahnya produksi minyak saat ini bukan berasal dari melubernya pasokan produksi dari OPEC. Sehingga yang seharusnya menurunkan produksi minyak bukan mereka, melainkan organisasi pengekspor minyak selain OPEC. (BBC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s