Negara Maju Pimpin Pemotongan Emisi Perubahan Iklim

LIMA – Konferensi para pihak Badan Dunia Perubahan Iklim (UNFCCC) di Lima, Peru akhirnya menemui kesepakatan, Minggu (14/12/2014). Kesepakatan tercapai setelah proses persidangan konferensi ditambah dua hari, dari jadwal sebelumnya.

Termasuk dalam kesepakatan dijelaskan mengenai cara negara dunia menghadapi perubahan iklim. Nantinya kesepakatan itu akan diresmikan pada konferensi tahun mendatang di Paris, Prancis.

Banyak pihak menyatakan adanya kemajuan dari kesepakatan yang disetujui. Padahal sebelumnya sempat terjadi perpecahan, dengan adanya kubu negara berkembang dan kelompok negara maju. Masing-masing pihak tak mau mengalah, mengenai siapa sebenarnya yang seharusnya berkontribusi besar dalam masalah perubahan iklim.

Menteri Lingkungan Hidup Peru , Manuel Pulgar-Vidal yang memimpin persidangan mengatakan “Teks dalam kesepakatan itu mungkin tak sempurna, tapi didalamnya memasukan kertas posisi dari masing-masing pihak.”

Sementara Miguel Arias Canete, dari Komisioner Aksi Iklim dan Energi Uni Eropa (UE) mengatakan kalau pihaknya menginginkan keluaran yang lebih ambisius. Namun ia tetap percaya kalau kesepakatan yang terlahir tetap membawa para pihak menuju kesepakatan global yang akan diresmikan di Paris, Prancis tahun depan.

Menteri Perubahan Iklim Inggris, Ed Davey mengatakan mereka tak ingin hanya berjalan-jalan atau berwisata saja di Paris tahun depan. “Kesepakatan internasional yang dihasilkan di Peru merupakan langkah penting untuk menuju Paris ,” imbuhnya.

Dalam teks kesepakatan yang disebarkan disebutkan kalau maing-masing negara memiliki tanggung jawab bersama, namun perlakuan berbeda dalam menghadapi perubahan iklim.

“Kita mendapatkan apa yang kita inginkan,” kata Menteri Lingkungan Hidup India , Prakash Javedekar.

Menurut Prakash dalam persetujuan tersebut negara maju akan menjadi pemimpin, dalam pemotongan emisi penyebab perubahan iklim. Kesepakatan itu juga menjanjikan adanya bantuan bagi negara miskin atau berkembang untuk mendapatkan bantuan, dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Beberapa keputusan penting yang termaktub dalam kesepakatan itu termasuk pembedaan tanggung jawab dan pandangan kapabilitas tiap negara. Selain juga penyaluran dana dari negara maju untuk negara berkembang yang rentan terhadap perubahan iklim.

Sementara dari pihak lembaga swadaya masyarakat (LSM), kesepakatan yang terjadi sebenarnya tak cukup memuaskan. Isi dari kesepakatan menurut kalangan LSM tak menujukan perubahan aksi yang berarti.

Sam Smith dari WWF Internasional mengatakan kalau keputusan itu datang dari jiwa yang lebih, yang ditujukan ke para pihak yang lebih lemah, dan melahirkan keputusan sangat lemah.

Semmentara Jagoda Munic, Kepala Friends of the Earth International mengatakan kekhawatiran mengenai adanya kesejangan antara harapan dan kenyataan. Jurang pemisah itu diperkirakan bisa menjadikan keputusan bersifat tak akurat. (AFP/Xinhua/BBC/slg)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s