Buruh Berperan Hadapi Perubahan Iklim

LIMA – Kaum pekerja dan buruh diminta untuk lebih mengambil bagian dalam proses pembuatan kebijakan mengenai perubahan iklim. Salah satunya dengan memaksa peralihan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan dalam dunia industri. “Buruh dan pekerja bukanlah hanya berada dibelakang meja,” kata Bruce Hamilton, Presiden Amalgamated Transit Union (ATU), Rabu (10/12/2014).

Bruce berbicara dalam sesi sampingan di Konferensi Para Pihak Badan Dunia Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) ke 20, di Lima , Peru . “Buruh harus juga merencanakan transisi energi,” tambah Bruce.

Menurutnya kini utusan dari kaum buruh selalu datang pada tiap pertemuan Konferensi UNFCCC per tahun. Namun kehadiran tersebut menjadi sia-sia karena utusan dari buruh tidak berpartisipasi dalam negoisasi.

Anabella Rosemberg, penasihat dari International Trade Union (ITU) menambahkan selain masalah partisipasi, para wakil dari buruh juga seharusnya memperkuat proteksi sosial terhadap dampak perubahan iklim.

“Proteksi sosial tersebut harusnya juga mengakomodasi sektor energi bersih,” urai Anabella.

Pekerja menurut Anabella bisa berkontribusi dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Salah satunya adalah dengan memperbaiki proses ekstraksi gas dan minyak, dan konstruksi saluran pipa distribusi. Dengan memperbaiki hal tersebut maka bisa menjadi kesempatan untuk mengarahkan ke transisi energi bersih.

“Realitasnya sekarang kita tak melihat tindakan investasi untuk membuat peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan,” imbuhnya.

Oleh karena itu menurutnya perlu dibuat kebijakan yang mengarahkan investasi, untuk perbaikan infrastruktur industri, agar bisa lebih ramah lingkungan.

Sejauh ini Bank Dunia dan Program Pangan Dunia (WFP) juga menganjurkan adanya keseimbangan, dalam pendanaan terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kabar terakhir akhirnya terkumpul dana hingga lebih dari US$ 10 miliar, dalam skema Green Climate Fund (GCF). Australia dan Belgia menjadi negara terakhir yang turut menyumbang dana. Belgia menyumbang sebesar 51,7 juta euro, sementara Australia menyumbang hingga AUS$ 200 juta.

“Dengan dana sumbangan terakhir tersebut, maka target pengumpulan dana GCF telah terpenuhi,” kata Hela Cheikhrouhou, Direktur Eksekutif GCF mengatakan pada kesempatan berbeda.

Menurut keterangan yang disebarkan Australia akan menyalurkan dana GCF guna pembangunan sektor swasta. Termasuk investasi dibidang infrastuktur, energi, dan program pengurangan emisi dari kehutanan.

Sementara itu Menteri Kooperasi Pembangunan Belgia, Alexander De Croo mengatakan sumbangan tersebut akan dipergunakan untuk memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya negara berkembang dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim. (Aljazeera/UNFCCC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s