Dana GCF untuk Indonesia Dikritisi

LIMA – Dana sebesar US$ 9,7 miliar yang berhasil dikumpulkan negara maju dan disalurkan ke program Green Climate Fund (GCF), menurut rencana baru akan dipergunakan mulai Juni 2015 mendatang.

“Sampai Juni 2015 kami masih baru akan menerima proposal penyaluran dana, dan segera disetujui,” kata Tao Wang, Direktur Mitigasi dan Adaptasi GCF, pada sesi sidang tambahan di Konferensi Para Pihak untuk Perubahan Iklim ke 20, di Lima, Peru, Kamis (4/12/2014).

Menurut Tao dana dari GCF akan menyeimbangkan penyaluran kebutuhan untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Sebelumnya dana-dana tersebut dianggap tidak seimbang, karena dana mitigasi terlalu tinggi, sementara dana adaptasi teramat rendah. Padahal banyak dampak perubahan iklim telah dialami berbagai negara. Khusus untuk negara berkembang dan miskin, minimnya dana adaptasi menjadi kendala untuk bisa bertahan dari dampak perubahan iklim.

“Dana tersebut diperuntukan bagi operasional dan tahun depan baru bisa disalurkan,” tambah Tao.

Pendapat serupa juga dikeluarkan Elina Bardram, Kepala Negosiator Uni Eropa pada Konferensi Perubahan Iklim tersebut. Elina mengatakan ia berusaha agar GCF tetap berada pada lajur yang diharapkan, dan mulai menerima proposal pada kuartal pertama tahun 2015.

Dana tersebut menurut Elina diharapkan bisa membantu negara-negara miskin, untuk mengatasi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Kebanyakan dana menurut Elina bisa disalurkan untuk proyek-proyek pengambangan energi ramah lingkungan, serta mengambangkan kemampuan masyarakat dinegara miskin dalam menghadapi dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan dan kenaikan muka air laut.

Kehadiran UE di Konferensi klim ini juga terkait dengan berbagai keputusan, yang akan terhubung dengan kebijakan tersebut. Salah satunya yang menjadi pemikirannya merupakan kebijakan Jepang untuk membiayai tiga pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia .

“Kami tidak akan mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara baru. Itu hanya omong kosong akan dibangun dengan skema energi bersih. Justru penggunaan batubara bisa makin memperparah kondisi bumi karena pemanasan global,” tambah Elina.

Brandon Wu, Analis Keuangan dari Action Aid mengatakan secara teknis Jepang tidak merusak aturan apapun. Tapi ia membenarkan juga kalau dana dari GCF tidak bisa disalurkan untuk proyek semacam itu.

Sementara Jan Kowalzig, penasehat dari Oxfam Jerman mengatakan sebaiknya dana GCF memang tak disalurkan untuk program yang berisiko terhadap makin parahnya kondisi bumi karena perubahan iklim. Namun ia tak bisa menyalahkan Jepang bila memang mau menyalurkan dana untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia . “Tujuan yang paling penting adalah menemukan solusi sumber energi bersih yang paling efektif untuk sebuah negara,” ucap Jan.

Berrbagai organisasi swadaya masyarakat seperti Greenpeace, Oxfam dan WWF terutama menolak keputusan Jepang tersebut. Mereka kemudian meminta jaminan kalau dana GCF yang disalurkan tidak untuk pengembangan sumberr energi berrbasis batubara. (RTCC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s