Perang Harga Minyak Tak Berakhir Sampai Natal

DENVER – seperti perang di Rusia dan Timur Tengah, tampaknya perang harga minyak dan gas akan terus terjadi hingga perayaan Natal tahun ini. Sementara itu harga gas di Amerika Serikat (AS) dikabarkan mengalami penurunan, Senin (1/12/2014).

Seperti mengemuka sebelumnya, dorongan produksi gas alam yang dikeluarkan AS, telah membuat harga minyak terus turun. Banyak penyebab selain hal tersebut, termasuk produksi minyak yang makin tinggi diluar organisasi negara penghasil minyak (OPEC).

Meskipun akhirnya OPEC memutuskan tidak akan menurunkan tingkat produksi, untuk mendongkrak harga minyak, namun banyak pengamat memperkirakan fluktuasi harga minyak tetap akan terus terjadi hingga Natal tahun ini.

OPEC berpendapat harga minyak akan menemui penyesuaian pada akhirnya nanti. Setelah pasar, pemasok dan pemakai menemukan keseimbangan harga baru. Namun dengan kondisi yang ada saat ini diperkirakan harga minyak maksimal hanya akan mencapai angka US$ 90 per barrel. Naik tak terlalu banyak dari harga terakhir yang berkisar sekitar US$ 70 per barrel.

Meskipun harga tersebut menjadi yang terburuk setelah Juni 2014 lalu, namun anggota OPEC berpendapat harga itu tak perlu dikhawatirkan. Itu karena sebelumnya pernah juga harga minyak jatuh hingga kurang dari US$ 40 per barrel dari sebelumnya US$ 150, pada akhir tahun 2008 dan memasuki 2009.

Salah satu kesalahan OPEC menurut analis seperti Bob Brackett dari Sanford C. Bernstein merupakan pembiaran pengembangan gas alam dari AS terjadi. Menurutnya perkembangan tersebut sebenarnya bisa dihambat, dengan strategi khusus dari OPEC. Bukan dengan maksud mencurangi, namun hanya menghambat hingga harga minyak mendapatkan nilai yang sesuai.

Hal itu juga yang kemudian diperdebatkan oleh negara-negara produksi minyak kecil di OPEC, seperti Iran, Venezuela dan Brasil. Mereka sebelumnya berharap OPEC mau menurunkan tingkat produksi minyak, sehingga harga bisa terdongkrak naik. Sayangnya kebijakan tersebut tak disepakati oleh negara-negara besar penghasil minyak di OPEC, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Ditengah kontroversi harga yang menimpa industri minyak dunia, dikabarkan dari Denver, AS harga gas justru turun dari sebelumnya. Kini harga gas di AS turun hingga US$ 2,75 per gallon.

Kabar tersebut jelas menggembirakan bagi para pemakai gas. Stan Dempsey, Presiden dari Asosiasi Petrokimia Colorado mengatakan kabar turunnya harga gas itu seperti hadiah yang ditunggu-tunggu pada akhir tahun.

“Tapi sangat sulit memperkirakan harga energi saat ini. Apalagi dengan kondisi pasar yang terus berubah,” ujar Dempsey.

 Menurutnya juga, harga yang makin turun ditingkat pemakai itu merupakan kabar yang baik bagi ekonomi AS. Sebab berarti pemasukan AS juga berkurang, dan biaya operasional terus bertambah tinggi. (Wall Street Journal/7News/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s