10 Hari Tersesat di Sahara

des sables1

dok.bbc.co.uk

PISA – Impian Mauro Prosperi menjadi juara di kejuaraan lari lintas gurun Sahara , berubah menjadi neraka, saat ia menyadari telah tersesat. Total 10 hari ia harus bertahan hidup di gurun tandus gersang, tanpa manusia. Minum kencingnya sendiri, makan kelelawar, reptile dan ular menjadi santapan tiap hari. Usai dihantam badai pasir, akhirnya ia menemukan jalan pulang, karena mengingat puisi rakyat setempat.

Mauro sudah berusia 39 tahun, saat mengambil keputusan mengikuti lomba Marathon des Sables, tahun 1994. Pria kebangsaan Italia itu akan mengikuti kejuaraan melintas gurun Sahara sejauh 250 kilometer (km), selama enam hari. Sudah terkenal kalau kejuaraan ini salah satu yang terberat dikelasnya. Melintas dibawah terik gurun, malam hari yang dingin, badai pasir yang mampu membutakan mata, dehidrasi karena kekurangan air, kaki melepuh, kulit terbakar, dan yang terparah menderita penyakit heat stroke, karena tubuh mengalami panas terlalu berlebihan. Bahkan saking kerasnya, peserta harus mau menandatangani surat tak akan menuntut secara hukum, bila mereka harus pulang dalam kantung jenasah.

Istri Mauro, Cinzia pikir suaminya telah gila. Lomba itu sangat tinggi resikonya, mereka masih punya tiga anak yang harus diurus. Namun Mauro menenangkan istrinya, dengan mengatakan, “Tenang saja sayang, saya paling hanya akan terbakar kulit disana.”

Ketika tiba di Maroko, Mauro segera mendaftar ulang kesertaan. Pada tahun itu hanya 80 orang yang mau ikut sebagai peserta. Beda dengan sekarang, yang bisa sampai 1.300 peserta. Jadi kalau dulu resiko lebih besar, karena antar para peserta satu sama lain bisa sangat berjauhan. Sehingga potensi tersesat bisa kapan saja terjadi.

Sampai hari keempat kejuaraan, semua berjalan sesuai dengan yang direncanakan Mauro. Ia selalu lebih awal tiba ditempat finish etape per hari. Pada etape hari keempat seperti itu juga, meskipun etape ini dikenal sebagai yang tersulit dan terjauh.

des sables2Memasuki hari ke lima, Mauro memulai lomba dengan cuaca berangin. Pasir gurun mulai beterbangan sedikit-sedikit. Makin siang, hembusan angin makin besar. Menjadikan badai pasir yang tiba-tiba datang. Mauro tercekat dengan kedatangan badai tersebut. Hidung dan pandangan matanya tersumbat. Namun ia memutuskan tetap maju ke depan, mencari pos pemberhentian berikutnya.

Hingga malam, baru Mauro menyadari ia telah tersesat. Badai pasir membawanya entah kemana. Namun sebelum tidur ia masih berpikir mengenai perlombaan, dan berpikir esoknya akan bangun lebih pagi untuk segera mencapai finish pada hari ke enam.

Tapi hari berikutnya ia mulai menyadari masalah besar berada didepannya. Tak ada arah yang bisa dijadikan patokan untuk meneruskan perjalanan. Meskipun kemudian ia memutuskan berjalan, tapi sebenarnya tanpa arah.

Sesekali dalam pencarian, Mauro menyimpan air kencing yang dikeluarkannya. Ia ingat cerita kakeknya yang pelaut, kalau kadang-kadang ia suka meminum urin sendiri, kalau kehabisan air minum dilaut. Selain juga untuk berjaga-jaga karena cadangan air miliknya juga makin tiris.

Untungnya untuk mengikuti kejuaraan Marathon des Sables, peserta diwajibkan membawa peralatan bertahan hidup dalam ransel. Ia juga membawa pisau, kompas, kantung tidur, dan makanan kering. Tapi apesnya itu tak ada banyak air, karena biasanya dipasok oleh panitia.

Hari kedua tersesat, ia sempat melihat helikopter melintas. Meskipun kemudian ia menyalakan suar asap, helikopter tersebut melintas tanpa melihatnya. Frustasi makin menghantui Mauro. Baru malam kemudian ia menemukan sebuah bangunan yang ditinggalkan pemiliknya. Ada tiga gedung disitu, tapi tak ada satu orang pun didalamnya. Ia memutuskan bermalam digedung itu, dan membentangkan bendera Italia di puncak bangunan bilamana ada tim pencari yang melihatnya.

Saat dipuncak bangunan ia melihat banyak kelelawar tidur menggantung. Kemudian ia menangkap beberapa untuk diminum darahnya. Ia kemudian juga sempat memakan dagingnya, Mauro ingat ada 20 kelelawar habis dihisap darahnya dan dimakan dagingnya.

Ia tinggal dibangunan itu selama beberapa hari. Sempat juga mendengar ada pesawat melintas, tapi saat membakar semua yang ada agar asapnya terlihat besar. Pesawat itu tetap hanya melintas saja. Baru kali itu Mauro mengalami frustasi luar biasa. Ia berpikir sudah akan mati. Ia memikirkan istrinya yang akan sulit mendapatkan jaminan pensiun, karena tubuhnya sulit ditemukan. Menurut aturan Italia, tubuh seseorang baru dianggap meninggal setelah 20 tahun tak ditemukan jasadnya.

Bangun dihari selanjutnya Mauro tersentak karena tak juga mati. Tuhan belum menginginkannya. Tiba-tiba ia merasa tak takut lagi pada kematian. Mauro memutuskan segera bergegas untuk menyelamatkan dirinya. Ia seorang atlit yang kuat, masih memiliki otak untuk keluar dari masalah.

Saat kemudian akan melanjutkan perjalanan lagi, ia kembali bingung mau pergi kemana. Hingga tiba-tiba ia teringat puisi milik mayarakat asli setempat, kaum Tuareq. “Jikalau kau tersesat, pergilah ke arah awan yang terlihat berada di garis horizon saat sore hari. Disana kau akan menemui kehidupan.”

Mauro memutuskan mengikuti petunjuk itu. Ia memakan semua reptile, dan ular yang ditemuinya diperjalanan. Ia telah kembali pada sifat natural manusia. Hari kedelapan tersesat, Mauro sempat menemui sebuah oasis kecil. Usai minum-minum sepuasnya, ia melihat jejak manusia dipinggir oasis. Rupanya kehidupan sudah tak jauh lagi. Benar saja, tak lama ia melihat seekor domba saat mengikuti jejak tapak kaki manusia itu. Penggembala domba cilik sangat takut saat melihat Mauro pertama kali. Ia segera berlari mencari ibunya. Mauro akhirnya diselamatkan ibu dari penggembala itu. Memberinya susu dan makanan yang segera ia muntahkan kembali setelah dimakan dengan terburu-buru.

Baru kemudian polisi membawanya. Ternyata ia telah melintas hingga Aljazair. Berjalan dalam kesesatan sejauh 291 km. Saat akhirnya bisa menelepon istrinya, Mauro hanya berkata, “Apakah kamu sudah melakukan upacara kematianku?”. Karena upacara itu, di Italia biasa dilakukan setelah 10 hari seseorang dikatakan meninggal. (BBC/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s