Mencari Masa Depan Energi Indonesia

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan pasokan energi yang mencukupi. Namun pemakaian energi fosil yang berlebihan, bisa menyebabkan kerusakan bumi makin menjadi. Untuk masa depan yang lebih baik, Indonesia harus mencari solusi sumber energi terbaik, yang ramah lingkungan dan sepadan dengan pembangunan berkelanjutan. Demikian salah satu kesimpulan yang didapatkan pada pembukaan acara Sustainable Development Solutions Network (SDSN) Workshop, di Jakarta, Rabu (26/11/2014).

Mari Elka Pangestu, Ketua Konsil SDSN Indonesia mengatakan SDSN telah menginisiasi proyek jalan menuju karbonisasi untuk melakukan penelitian dan analisa.  “Gunanya untuk memahami dan menunjukan bagaimana sebuah negara bisa bertransisi ke perkembangan ekonomi rendah karbon,” kata Mari.

Hal tersebut dibenarkan juga oleh John Thwaites, Kepala Konsil SDSN internasional.  Menurutnya bagi Indonesia sendiri bentuk transisi sumber energi nasional tersebut bisa dalam berbagai bentuk. Namun tetap diarahkan pada bentuk energi terbarukan, seperti geothermal, angin, udara dan biomassa.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia (RCCC-UI), Jatna Supriatna, efisiensi energi diperlukan guna mencapai target Indonesia mengurangi emisi penyebab gas rumah kaca. Indonesia sendiri mengatakan bisa mengurangi emisi penyebab gas rumah kaca sebesar 26 persen, dan bahkan 41 persen bila dibantu dengan dunia internasional.

Namun menurut Jatna, target pengurangan emisi tersebut bisa tak tercapai bila sumber energi nasional yang ada saat ini tetap mengutamakan dari batubara. Menurut catatan Jatna, pemakaian batubara sebagai sumber energi di Indonesia terus bertumbuh tinggi. Pada tahun 2006 hanya memakai sekitar 50.000 ton. Tahun 2010 naik menjadi 80.000 ton, dan diperkirakan tahun 2015 naik lagi menjadi 140.000 ton.

“ Indonesia kini menetapkan enam target solusi sumber energi masa depan. Termasuk didalamnya pemakaian energi terbarukan, pembangunan gedung ramah lingkungan, menggunakan transportasi bersih, memanajemen air dengan lebih baik, memanfaatkan sampah, dan mengurangi alih fungsi lahan hutan,” papar Jatna.

Sementara itu Putera Parthana, Penasehat Senior Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan kini semua hal tersebut memerlukan investasi untuk perkembangan. “Termasuk investasi untuk sumber energi, produksi dan transmisi,” kata Putera.

Pemerintah dalam hal ini menurutnya akan mendukung melalui pengurangan bea tariff, terutama bagi pengembangan sumber energi kecil. Dukungan tersebut diharapkan bisa mengembangkan, mengonstruksi dan mengoperasikan instalasi sumber energi terbarukan.

SDSN merupakan hasil keputusan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), pada konferensi APEC yang diadakan pada tahun 2013 lalu di Bali . Indonesia terpilih sebagai pusat jaringan SDSN di negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s