Daya Adaptasi Perubahan Iklim Tak Sinergi

Jakarta – Bencana bisa meruyak Indonesia bila cara adaptasi terhadap perubahan iklim tak banyak berubah dari saat sekarang ini. Sinergi diperlukan antar instansi yang terkait. Sementara bukti banyak tumbuhan alami di Indonesia yang hilang, lantaran perubahan iklim juga telah ada. Selain bencana alam yang terus makin meningkatkan jumlah korban jiwa.

“75 persen bencana alam yang terjadi saat ini, dapat dikatakan terjadi karena perubahan iklim,” kata Dody Sukadri, penasehat di Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Selasa (26/11/2014) di Jakarta.

Menurut Dody yang berbicara dalam diskusi bertema “Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Resiko Bencana”, mengatakan bentuk bencana tersebut bisa berbagai macam. Diantaranya banjir, hujan angin, puting beliung, kenaikan muka air laut dan kekeringan.

Secara mendalam penanggung jawab Kelompok Kerja (Pokja) Adaptasi Perubahan Iklim, Ari Mochamad menekankan kondisi tersebut menjadi makin parah, lantaran tidak adanya koordinasi antar berbagai instansi untuk tindakan strategis terkait adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut.

Hal itu juga dibenarkan oleh Malikah Amril, dari Badan Dunia Program Pembangunan (United Nations Development Program/UNDP). Menurut Malikah sebenarnya banyak persinggungan kepentingan antara berbagai instansi menyangkut adaptasi perubahan iklim. Namun sayangnya persinggungan tersebut belum bisa disatukan satu sama lain.

“Seperti program reduksi bencana yang dilakukan UNDP, bisa disatukan dengan program adaptasi yang dilakukan DNPI. Sayangnya persinggungan tersebut belum bisa disatukan. Padahal tujuannya sama, yaitu mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan,” imbuh Malikah.

Bila kemudian sinergi tersebut tak dapat tercapai juga, maka diperkirakan akan makin banyak bencana yang tak dapat ditanggulangi. Mengingat dampak dari perubahan iklim sudah terbukti diberbagai sektor.

Jatna Supriatna, Kepala Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia (RCCC-UI) mengatakan salah satu bukti dari perubahan iklim adalah berkurangnya pasokan pangan.

“Salah satu tumbuhan pangan yang makin berkurang adalah pisang, dimana dari berbagai jenis pisang yang asli Indonesia ternyata kini mulai hilang dipasaran, diganti oleh pisang dari Australia terutama,” kata Jatna Supriatna.

Ia juga mengkhawatirkan akan hilangnya banyak biodiversitas yang asli Indonesia yang akan punah, bila adaptasi terhadap perubahan iklim tak segera dilakukan dengan benar.

Edvin Aldrian, Kepala Pusat Penelitian Perubahan Iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan diperkirakan pada beberapa tahun mendatang iklim di Indonesia akan makin basah. Kondisi tersebut sesuai dengan perkiraan yang dibuat berdasarkan data-data tren iklim sebelumnya.

Kondisi yang makin basah itu, akan makin meningkatkan intensitas kerusakan sumber daya alam, seperti pangan dan makin tak jelasnya musim. Ia juga sependapat, bila berbagai instansi yang ada di Indonesia sekarang tak menyatukan pandangan mengenai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim, maka Indonesia harus bersiap menghadapi kerugian yang makin besar pada masa mendatang. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s