Interpol Bidik Pelaku Kejahatan Lingkungan

PARIS – Sembilan pelaku kejahatan lingkungan paling berbahaya di dunia, kini sedang dicari Interpol. Menurut keterangan yang disebarkan Selasa (18/11) di Paris, mereka dipastikan terlibat dalam penangkapan ikan secara illegal, pembalakan kayu dan perdagangan satwa liar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan perdagangan satwa liar bisa mencapai nilai US$ 213 miliar per tahun. Target individu yang kini dilakukan Interpol, diklaim merupakan yang pertama kali.

Tim investigasi mengeluarkan daftar nama tersebut, dalam pertemuan 12 negara anggota Interpol, Oktober 2014 lalu. Mereka berkumpul untuk berbagi informasi dari tersangka pelaku kejahatan lingkungan. Operasi ini disebut ‘Infra Terra’, dengan mengirimkan telik sandi keberbagai penjuru dunia, untuk mencari lokasi pelaku berada sekarang.

“Meskipun hanya bentuk bukti kecil, yang sekiranya berhubungan, memiliki potensi penting untuk memecahkan kasus kejahatan lingkungan yang kini sedang ditangani kepolisian juga,” kata Ioannis Kokkinis, dari Interpol.

Tambah Ioannis kadang kala diperlukan mata yang lebih jernih untuk mendapatkan momentum baru dari proses investigasi. Bukti tersebut akan menjadi petunjuk yang hilang untuk mendapatkan lokasi individu yang dicari. “Beberapa diantaranya mungkin sudah berkelit dari keadilan selama beberapa tahun terakhir,” urai Ioannis lagi.

Salah satu nama yang disebutkan adalah Feisal M Ali. Ia dituduh sebagai pemimpin dari penyelundupan cula badak di Kenya . Menurut data yang ada, Feisal diperkirakan telah menyelundupkan 314 cula, yang total memiliki berat hingga 2 ton.

Nama lain merupakan Ahmed Kamran, yang dijadikan tersangka karena melakukan penjualan gelap 100 satwa liar hidup. Termasuk yang pernah dijualnya adalah jerapah dan impala, yang dikirimkan ke Qatar dengan menggunakan pesawat militer.

Ada juga nama Adriano Jacobone, yang dicari karena menjadi pemburu satwa liar. Ia juga dituduh memiliki senjata tanpa ijin. Sementara Ariel Bustamante Sanchez, dicari kepolisian karena melakukan penangkapan ikan tuna secara illegal di Kostarika.

Daftar pencarian juga memasukan nama Nicolaas Duindam. Ia dicari karena perannya dalam organisasi kriminal yang mengatur perdagangan satwa liar dari Brasil.

Aksi penegakan hukum bidang lingkungan tersebut kemudian disambut baik oleh Konvensi Internasional untuk Perdagangan Spesies Terlarang (Cites). Mereka menekankan para pelaku tersebut tak hanya menimbulkan dampak lingkungan yang makin rusak, juga bisa mengganggu stabilitas politik.

“Banyak negara kini memiliki satwa liar yang makin rentan punah, dan kita tak bisa memutar ulang kelestarian alam, selain menumpas siapapun yang mencoba merusaknya,” kata Ben Janse van Rensburg dari Cites.

Publik, menurut Ben memiliki peran penting untuk penegakan hukum ini. Mata dan telinga mereka banyak berada dilapangan. “Pertolongan dari masyarakat bisa memperkuat proses penegakan hukum dan memenjarakan siapa saja yang terlibat didalamnya,” tambah Ben.

Masyarakat yang merasa mengetahui keberadaan orang-orang tersebut, diharapkan segera menghubungi Interpol atau kepolisian daerah setempat. Informasi juga bisa diberikan tak hanya masalah kejahatan lingkungan, namun juga masalah kriminal lain yang harus dihentikan. (BBC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s