Positif Negatif Posisi Indonesia di G20

JAKARTA – Keterlibatan Indonesia dalam forum internasional G20 kembali dipertanyakan banyak pihak. Selain minimnya keuntungan yang pernah didapat, partisipasi Indonesia di G20 juga disebut hanya sebagai penggembira saja. Padahal menurut pandangan yang lain, banyak nilai imateril yang didapatkan dari kunjungan Jokowi ke Brisbane , Australia tersebut.

Menjadi anggota G20, merupakan bentuk perhatian Indonesia terhadap isu internasional. Juga berindikasi keinginan untuk turut aktif, dalam memperoleh posisi penting dikalangan dunia.  Mengingat tak banyak negara berkembang ikut serta dalam forum tersebut, selain Argentina, Brasil dan Tiongkok. Sementara tak ada satupun negara berekonomi kuat di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand yang diajak ikut serta.

Saat berada dibawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia aktif mengambil keuntungan dari pertemuan multilateral tersebut. Termasuk saat mensukseskan perdagangan karbon, untuk memitigasi perubahan iklim.

Tapi kurangnya, Indonesia belum menajadi negara yang bisa menggerakan dan mengguncang panggung G20. Serta tampaknya kesertaan Indonesia dipandang sebatas menjaga keseimbangan antar negara anggota, antara kelompok utara dan selatan, yang pada akhirnya bertujuan menjaga stabilitas kekuatan ekonomi semata.

Hikmahanto Juwana, pakar masalah hukum internasional dari Universitas Indonesia (UI) mencermati masalah ini dengan kacamata kritis. Menurutnya Presiden Jokowi seharusnya berpikir ulang mengenai keterlibatan Indonesia di forum G20. Mengingat partisipasi Indonesia tak lebih seperti hanya sebagai penggembira saja.

“Kalau tidak ada perubahan ekonomi yang lebih baik, atau bahkan jika Indonesia dirugikan, maka lebih baik kita keluar saja,” ujar Hikmahanto, Senin (17/11).

Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP), Susi Pudjiastuti mengajukan opsi lebih keras. Meminta Indonesia mundur dari keanggotaan G20. Mengingat tak ada keuntungan ekonomi signifikan yang didapatkan Indonesia dalam pertemuan tersebut.

Sebelumnya, Susi mengatakan banyak kerugian yang didapat Indonesia , terutama sektor perikanan. Menurut Susi, impor hasil perikanan dan kelautan Indonesia dibebani tarif 14 persen. “Gara-gara G20, kita tidak mendapatkan fasilitas 0 persen,” katanya kepada Tempo, akhir pekan sebelumnya.

Keuntungan Imateril

Namun semata pandangan kritis tak hanya diungkapkan para pengamat dibidang ini. Ada juga yang menganggap kesertaan Indonesia dalam forum G20, tetap memiliki nilai penting setidaknya bagi Indonesia sendiri.

Seperti diungkap Colin Brown, pakar dari Griffith Asia Institute yang bermarkas di Universitas Griffith, Australia dalam artikelnya yang dimuat The Conversation, Colin mengungkapkan Indonesia mendapatkan keuntungan imateril dari pertemuan G20.

“Untuk Indonesia , kelebihan dari sisi imateril mungkin bisa mengkompensasi kehadiran sisi materil, seperti putaran investasi dan kesempatan dagang, yang tampaknya sulit diperoleh negara tersebut dalam forum G20,” urai Colin.

Pertemuan puncak para kepala negara tersebut memberi keuntungan bagi Presiden Jokowi untuk bertukar ide dan bermain peran dalam sesi politik photografi. Pertemuan G20 juga memberi kesempatan Jokowi untuk berbicara langsung dengan para pemimpin negara lain, seperti Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Mengigat keduanya memiliki nilai strategis di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pertemuan dengan beberapa kepala negara yang sudah dilakukan Jokowi, terlihat tingginya interes asing di Indonesia . Pertemuan dengan kepala negara Jepang, Rusia, Turki dan Jerman memberikan indikasi posisi penting Indonesia dimata dunia.

Meskipun Jokowi sempat berkelit saat diundang datang ke pertemuan G20 oleh Perdana Menteri (PM) Australia, Tony Abbot usai pelantikan sebagai Presiden Indonesia, Oktober 2014 lalu. Saat itu Jokowi jelas tak ingin terlalu memfokuskan diri pada masalah internasional, mengingat masih tingginya masalah internal di Indonesia. Namun Jokowi juga tahu kalau pertemuan tersebut memberikan citra baik di mata dunia internasional, selain juga melakukan minimalisasi biaya pertemuan dengan para pemimpin dunia.  (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s