Pantai Gading Jual Sampah Ponsel ke Prancis

_78795821_constantakim_mobilephonecollectorattherecyclingcollectioncetnreABIDJAN – Adou Felicien hanya membutuhkan ruang kecil untuk bengkel reparasi telepon selular miliknya. Di biliknya yang berada di daerah Treichville, Abidjan , Pantai Gading, Felicien menjalankan bisnis tersebut sejak tahunan silam.

Tiap lantai toko yang dimilikinya dipenuhi dengan deretan telepon genggam bekas. Selain juga deretan isi ponsel, seperti batere, layar kaca, kabel-kabel dan segala pernak-pernik. Ia menjadi salah satu dari ratusan toko serupa di Pantai Gading. Dengan biaya sangat murah, ia bisa membetulkan segala macam masalah ponsel ngadat.

Namun sejak harga telepon genggam makin murah, dan banyak ragamnya, banyak orang kini memilih membeli ponsel baru tiap ada masalah, ketimbang membenarkannya. Harga ponsel di Pantai Gading sekarang bisa hanya seharga US$ 8 saja. Sekitar kurang dari Rp 100.000 untuk jenis yang paling sederhana.

Kini masalah baru timbul dari pilihan orang-orang tersebut. Kemana sampah ponsel lama akan dibuang? Sebab jelas akan makin bertambah banyak, karena tak banyak orang mau membawanya ke reparasi.

“Mereka biasa membuangnya ke tempat sampah,” ujar Felicien, awal minggu pertama November 2014.

Jadi meskipun banyak toko reparasi ponsel di Pantai Gading saat ini. Orang-orang lebih memilih membuang ponsel bermasalah, daripada membawanya ke reparasi.

Banyak dari sampah elektronik seperti ponsel itu berakhir di Laguna Ebrie, yang berada tak jauh dari pusat kota . Maka di laguna itu berkumpul racun, seperti timbal, merkuri, arsenic, kadmium dan klorin yang berasal dari sampah ponsel. Mereka mengendap didalam air yang makin kotor.

Kalau melihat dari kejauhan, laguna tersebut terlihat sunyi dan indah. Tapi bila mendekat, kumpulan sampah berserakan dipinggir pantainya. Sampah seperti ban, tas plastik, bagian elektrik dan banyak objek-objek tak dikenal berkumpul disana. Baunya jelas sangat tak enak, bercampur antara busuk dan bau tanah.

Georger K Kouadio, Deputi Jendral Kementerian Lingkungan Pantai Gading juga menyadari masalah tersebut. Ia sangat tahu kalau sampah ponsel didiamkan, maka akan menjadi racun yang mematikan.

“Setiap sampah elektronik pasti memiliki unsur kimia didalamnya,” kata Kouadio.

“Jikalau kami tak mengurusnya dengan benar, atau menggunakannya kembali dengan baik, maka racun tersebut akan berbahaya bagi kesehatan,” tambahnya.

Tapi kini orang-orang di Pantai Gading mulai mengerti, kalau sampah ponsel sebenarnya bisa mendatangkan keuntungan. Karena sampah ponsel mereka sebenarnya bisa menghasilkan sedikit uang.

Seperti juga yang dilakukan Akim, saat menunggu diluar toko milik Felicien. Akim bekerja untuk Mesad, sebuah organisasi yang berfokus pada kesehatan, pendidikan dan pembangunan. Organisasi itu juga yang mulai melakukan aksi pengumpulan sampah elektronik seperti ponsel di Pantai Gading saat ini. Aksi mereka biasanya mulai dari toko reparasi ponsel seperti yang dimiliki Felicien.

_78795367_hi024441776“Awalnya mereka terkejut,” kata Akim.

Sebab sebelumnya tak ada orang yang mau membayar sampah ponsel. Apalagi mau membayar per kilogram, dari sampah ponsel yang berasal dari toko reparasi mereka.

“Tapi sekarang mereka senang. Memang bukan uang besar, tapi dengan cara seperti itu sampah posnel dapat dikumpulkan dengan lebih terkonsentrasi,” tutur Akim.

Sayangnya saat Felicien ditanyakan berapa jumlah sampah ponsel yang dihasilkannya tiap minggu, ia menolak menjawabnya. Ia merasa malu jika harus menyebutkan jumlahnya, karena dianggap mengambil keuntungan dari barang tak berguna.

Yang jelas kini Felicien tidak mau membuang begitu saja, ponsel yang memang sudah tak bisa dibetulkan. Selain juga karena ia mulai khawatir, ketika tahu sampah ponsel sebenarnya bisa menjadi racun bila dibiarkan teronggok begitu saja.

Biasanya Akim akan langsung mengepak semua ponsel yang akan dibuang Felicien. Bungkus ponsel rusak tersebut akan dibawanya dengan menggunakan sepeda motor. Baru kemudian dibawanya menuju pusat daur ulang.

Di pusat daur ulang telah menunggu Isobelle Gabou. Ia merupakan Direktur Proyek Sampah Elektronik Mesad. Gabou kemudian mengantarkan berkeliling. Terlihat sampah ponsel mulai dipisahkan satu sama lain onderdilnya. Mulai dari plastik pembungkus, batere, layar, perangkat elektrik dan bahan besi didalamnya. Baru kemudian setelah cukup, bagian-bagian yang terpisah tersebut dibungkus menjadi satu. Gabou menjelaskan bagian-bagian sampah itu dikirim ke Prancis untuk di daur ulang.

“Sangat penting untuk mendaur ulang sampah, karena banyak masalah ditimbulkan dari sampah yang tidak kita ketahui,” kata Gabou.

“Disini bukan negara kaya. Tapi negara sedang berkembang. Jadi buat saya hal ini menjadi sangat penting, karena mendorong masyarakat melakukan hal yang baik juga,” tambahnya.

Kiriman pertama dari sampah ponsel tersebut dimulai Juli 2014 lalu. Lalu menurut rencana, kiriman kedua baru mulai akan dilakukan pada awal tahun 2015 mendatang.

Program daur ulang ponsel ini digagas oleh perusahaan operatot telepon seluler, Orange . Dan Pantai Gading merupakan salah satu negara sasaran program, selain empat negara di Afrika lain.

Sejauh ini sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 10 ton per sekali kirim. Tapi jumlah tersebut masih terhitung kecil, karena hanya berkisar 1 persen dari total sampah ponsel yang diperkirakan ada di Pantai Gading saat ini. Namun paling tidak, secara sedikit demi sedikit sampah yang mencemari lingkungan, bisa makin dikurangi jumlahnya. (BBC/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s