Kalifah Islam Bukan Sekedar Fantasi

Pada bulan Juni 2014, Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) mengumumkan kelahiran kekalifahan baru. Kekuasaan kekalifahan itu mencakup wilayah Suriah dan Irak. Sebenarnya apa yang membuat ISIS membuat sistem pemerintahan tersebut?

Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi merupakan kalifah yang terpilih. Meskipun dipenuhi dengan semangat besar, namun sistem kekalifahan dianggap sebagai aksi megalomania dan fantasi pada masa lalu yang diharapkan kembali terulang pada masa mendatang.

Menurut sejarah kekalifahan terakhir terjadi pada masa Raja Ottoman, di Turki yang bertahan selama 90 tahun. kata kalifah sendiri berasal dari bahasa Arab, yang berarti pengambil alih kekuasaan.

Kekalifahan terjadi secara aklamatis setelah Nabi Muhammad SAW meninggal pada tahun 623. Dimana kemudian pemeluk Islam menganggap perlunya seorang pemimpin pengganti Nabi Muhammad, untuk terus menyebarkan dan memperkuat Islam. Maka setelah itu dimulailah sistem kekalifahan didunia Islam.

Reza Pankhurst, pengarang dari buku The Inevitable Calipathe mengatakan sistem pemilihan pemimpin kekalifahan bergantung pada unsure popularitas seseorang dimata masyarakat.

“Pilihan tetap ada pada masyarakat, dimana mereka percaya kalifah baru akan memiliki rasa tanggung jawab terhadap mereka, dan bisa mengaplikasikan hukum dan menegakannya,” urai Reza.

Namun menurut kaum Syiah, dua pemilihan kalifah setelah Nabi Muhammad SAW wafat masih dipenuhi kontroversi. Menurut mereka, tindakan Umar dan Ali, dua kalifah Islam merupakan aksi kudeta.

Namun berbeda dengan pandangan para penganut aliran Islam Sunni. Menurut mereka kekalifahan merupakan tindakan kaum feodal untuk mengambil alih kekuasaan secara mutlak.

“70 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, kekuasaan Islam masih sangat luas. Mencapai Maroko, bahkan berada juga di Spanyol dan masuk hingga ke Asia tengah dan sedikit bagian Pakistan ,” kata seorang sejarahwan, Hugh Kennedy.

Jadi menurutnya dengan kekuasaan sebesar itu, maka perlu seorang pemimpin untuk mengaturnya.

Kini masa keemasan Islam makin memudar. Namun para pengikutnya terus berharap adanya seorang pemimpin yang bisa membawa umat menuju kejayaan kembali. Harapan itu kemudian terus tumbuh dari dekade ke dekade. Kemudian menjadi dilema politik, dibalik ilmu teologi yang mengharapkan adanya kepemimpinan.

Seorang ahli teologi dari kaum Sunni, Sheikh Ruzwan Mohammed berargumentasi kalau tiba-tiba ada dua kalifah dibumi ini, dan sama-sama mengatakan sebagai wakil yang terpilih untuk komunitas muslim, kondisi tersebut jelas terasa sangat pragmatis.

Namun kondisi tersebut terbukti telah terjadi selama bertahun-tahun yang lalu. Bahkan ujung-ujungnya hanya akan menciptakan sejarah saling kudeta yang dipenuhi pertumpahan darah.

Sistem kekalifahan terbaik menurutnya terjadi saat Kemal Ataturk memimpin Turki. Kepemimpinan Kemal kemudian kemudian menjadikan Turki lebih modern dan mampu menghadapi perubahan jaman. Segala kebijakan pada jaman Kemal kemudian masih dijalankan selama 1.300 tahun di Turki.

Salman Sayyid, pengajar di Universitas Leeds-Inggris mempertanyakan apakah masih merupakan hal penting bagi umat Islam berada dibawah sebuah sistem kekalifahan? Lalu ia juga mempertanyakan bagaimana sistem pemerintahan akan berjalan.

Ia mencontohkan, pada pertengahan abad 20, pemimpin Mesir, Gamal Abdul Nasser pernah mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ideologi yang diperkenalkannya kemudian disebut sebagai Pan-Arabisme. Ia menawarkan bentuk baru dari kekalifahan, hingga kemudian ia membuat negara yang disebut Republik Arab Bersatu, dimana Mesir dan Suriah bergabung. Namun semua berubahna saat Israel kemudian menguasai daerah Palestina di timur laut Mesir. Hingga kini kemudian mimpi Gamal Abdul Nasser menjadi mentah karena kehadiran Israel .

“Pan Arabisme menggambarkan legitimasi dari fakta yang menginginkan kebesaran Arab kembali terjadi,” kata Salman. “Namun semua itu menjadi mentak kembali saat mereka kalah dalam perang enam hari pada tahun 1967, yang kini membuat Israel terus menguasai Palestina.”

Menurut Salman, saat ini kekalifahan yang disebut ISIS merupakan kelanjutan dari mimpi Gamal. Namun masalah terbesar adalah kesenjangan yang terjadi antara pemimpin kekalifahan yang diumumkan ISIS dengan para pemimpin pemerintahan negara lain.

“Satu pemikiran besar tentang kekalifahan adalah keinginan pemeluk Islam untuk mendapatkan otonomi. Ide tersebut harus dilakukan dengan menuliskan sendiri sejarah tersebut, dan saya pikir kekalifahan merupakan salahsatu cara untuk menuliskan sejarah tersebut,” urai Salman.

Namun beberapa pengamat Islam lain menganggap kekuasaan kalifah berhubungan juga dengan nilai spiritual pemeluk Islam. Pemimpin kalifah seharusnya memiliki nilai spirit tertinggi diantara kaum yang memilihnya. Namun tetap saja bila dilakukan dengan terlalu keras akan membuat konflik dibanyak pihak. Walaupun harus diakui apa yang dilakukan ISIS, meskipun bersifat megalomaniak namun mampu membangun ide yang lebih dari fantasi semata. (BBC/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s