Dilema Batubara Australia

shark_gratbarrier reefGreat Barrier Reef terbentang sejauh 2.500 kilometer (km) di timur pesisir Queensland, Australia. Luasnya sama seperti bila negara Inggris, Swiss dan Belanda digabungkan menjadi satu. Disana hidup 3.000 makhluk hidup di karang laut, pulau, muara dan pantai. Rumah bagi lebih dari 1.500 spesies ikan yang berbeda satu sama lain, 400 spesies karang, 4.000 spesies moluska dan ratusan jenis burung.

Kini wilayah terumbu karang terluas sedunia itu terancam kehancuran. Pasalnya pertambangan batubara baru akan dibuka, didekat satu-satunya area hidup yang bisa dilihat dari angkasa tersebut.
Seperti diketahui, bagian Queensland merupakan salah satu penghasil batubara terbesar di Australia . Dari ujung utara, hingga timur bagian Queensland merupakan gundukan bukit berdeposit batubara.
Juli 2014 lalu, pemerintah Australia menyetujui pembangunan proyek pertambangan batubara baru di region Basin Galilee, di tengah Queensland . Perusahaan Carmichael Mine, yang dimiliki konglomerat India, Adani akan mengambil alih proyek tersebut. Proyek tersebut diperkirakan akan menghabiskan dana hingga US$ 16 milyar. Batubara yang dihasilkan sebanyak 60 juta ton per tahun, yang keseluruhan akan di ekspor ke India , selama 60 tahun.
“Apabila ada bagian di dunia ini yang membutuhkan batu bara, kami akan menyediakannya,” kata Michael Roche, Kepala Eksekutif Konsil Sumberdaya Queensland, Rabu (22/10/2014).
“Jikalau kami tak mau menyediakan, ada ratusan negara lain di dunia ini yang juga memproduksi batubara akan masuk menggantikan,” tambahnya.
Australia sendiri sebenarnya sudah mengekspor jutaan ton batubara ke seluruh dunia tiap harinya. Repotnya jalur lalu lintas kapal batubara, tepat berada di Great Barrier Reef.
Apabila melihat dari terminal Hay Point Coal, dekat Mackay maka kita bisa melihat ratusan kapal kargo batubara melintas keluar masuk tepat diatas Great Barrier Reef .
Bagi kalangna pecinta lingkungan, keadaan tersebut jelas tak menguntungkan bagi kehidupan makhluk hidup disana, dan lingkungan juga. Bahkan beberapa mengatakan banyak sedimen dari batubara yang terjatuh dan masuk ke dalam karang-karang di Great Barrier Reef.
“Pada daerah yang sering dilintasi kapal pengangkut batubara, kami menemukan jumlah penderita penyakit karang lebih banyak dua kali, daripada daerah lainnya,” kata Joe Pollock, dari Pusat Studi Terumbu Karang Universitas James Cook, Australia.
“Terumbu karang juga membutuhkan sinar dan makanan untuk bertahan hidup, lintasan kapal pengangkut batubara menyebabkan dampak bagi terumbu karang dari dua sudut, kepekaan dan kekurangan sinar matahari. Kepekaan karena suara bising yang dihasilkan kapal pengangkut akan terdengar lebih keras dibawah air. Sementara kekurangan sinar matahari membuat terumbu karang tak bisa berfotosintesis.
“Sementara tingkat sedimen yang makin banyak menutupi tubuh terumbu karang bisa berdampak pada kemampuannya dalam mengambil makanan,” kata Joe lagi.
Menyikapi tekanan tersebut, kini pemerintah daerah Queensland mengajukan proposal untuk proses pembuangan sedimen batubara didahulukan di darat daripada di lautan. Meskipun keputusan mengenai lokasi buangan itu, belum jelas hingga kini.
map_coal_great barrier reefSementara dari pihak industri pertambangan mengatakan kalau isu mengenai bahaya buangan limbah terlalu dilebih-lebihkan. Mereka berargumentasi kalau kuantitas sedimen yang lebih baik akan dibersihkan secara alami oleh lautan.
“Jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat-red),” kata Michael Roche lagi.
“LSM hanya menaruh karangan cerita tentang karang laut. Mereka tidak berusaha untuk menyelamatkan karang laut. Mereka hanya ingin menutup industri pertambangan,” tambah Michael.
Namun kenyataan dilapangan berbicara lain. Bukan berarti suara dari LSM menjadi pemenang. Namun kebijakan pemerintah saat ini yang paling berpengaruh untuk memenangkan sisi produksi batubara.
“Batubara baik untuk kemanusiaan, batubara juga baik untuk kesejahteraan, batubara juga bagian penting untuk ekonomi masa depan, batubara itu ada disini di Australia dan banyak ditempat lain didunia ini,” kata Perdana Menteri (PM) Australia, Tony Abbot.
Pernyataan tersebut jelas membuat Abbot kini menjadi sosok yang dibenci kalangan pencinta lingkungan Australia .
David Hannan, kameramen bawah ait yang telah mendokumentasikan terumbu karang di Great Barrier Reef selama puluhan tahun mengatakan adanya perubahan kondisi terumbu karang diwilayah tersebut bukan isapan jempol belaka.
“Sama saja bunuh diri bila terus membiarkan kondisi yang ada di Great Barrier Reef didiamkan seperti saat sekarang. Sebab kehilangan pada terumbu karang, berarti akan makin minimnya pasokan makanan dari laut bagi manusia,” kata David mengingatkan.
Apa yang diucapkan David masuk akal secara jangka panjang. Tapi kalah penting bila diposisikan dalam struktur pemikiran jangka pendek. Sebab batubara jelas telah sangat meningkatkan ekonomi Australia . Dari daerah Queensland saja, investasi dari industri batubara yang telah ada mencapai AUS$ 40 milyar. Selain itu telah menyediakan ribuan lowongan tenaga kerja baru.
Industri batubara juga jelas bukan satu-satunya penyebab rusaknya terumbu karang di Great Barrier Reef . Tapi menurut organisasi dunia seperti Unesco, dampak dari ekspansi ekspor batubara Australia berkontribusi pada naiknya status Great Barrier Reef menjadi ‘terancam’ dalam daftar Situs Warisan Dunia.
“Tak pernah separah ini,” kata David Booth, Profesor Ekologi Laut dari Universitas Teknologi di Sydney.
“Secara pelan tapi pasti karang mengalami degradasi. Setengah dari jumlah karang sekarang, sudah musnah dalam dekade terakhir,” kata David.
Cuaca ekstrim diklaim juga menjadi penyebab kerusakan terumbu karang. Ditambah peningkatan karbon di atmosfir membuat air laut mengalami pengasaman, yang membuat karang laut menjadi kering dan memutih. Saat ini kebanyakan karang di Great Barrier Reef berubah warna menjadi abu-abu, remuk dan gundul. (BBC/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s