Gambar Terakhir Korban Ontake

141015045gunungontakeLetusan gunung Ontake yang tanpa peringatan, mengakibatkan banyak korban nyawa melayang. Korban termasuk para pecinta pendakian gunung yang berasal dari perusahaan asuransi besar di Jepang. Anggota klub pecinta alam yang sedang mempelajari tanaman liar. Seorang manajer konstruksi yang sempat mengambil 100 foto, untuk ditunjukan kepada istrinya yang tak ikut mendaki, karena harus bekerja pada hari kejadian.

Terakhir sudah 56 orang dinyatakan tewas akibat letusan gunung Ontake. Gunung tersebut dikenal sebagai lokasi pendakian popular di tengah Jepang. Namun tiba-tiba meletus pada 27 September 2014, dan menjadi letusan gunung paling mematikan setelah kejadian serupa pada saat Perang Dunia II.

Menurut data yang ada pada hari itu, tergambar kalau para pelancong merupakan pendaki yang berniat rekreasi pada akhir minggu di Jepang. Beberapa tercatat masih anak-anak dan penduduk dewasa, namun kebanyakan berusia tengah baya dan sedang menikmati minggu pertama musim semi disana.

Kebanyakan korban berusia antara 30-59 tahun, dan tinggal tak jauh dari lokasi gunung berada. Korban berusia anak-anak berjumlah tiga orang, dan hanya lima orang yang berusia 60 tahun atau lebih.

“Musim pendakian terbaik baru saja dimulai, cuaca seharusnya sangat cerah, dan kejadian itu terjadi pada akhir minggu, saat orang-orang sedang makan siang,” kata Masahito Ono, petugas wisata di Prefektur Nagano .

Mendaki gunung menjadi salah satu olahraga favorit di Jepang. Sebagian besar pecintanya merupakan pemanjat tebing paruh baya dengan berbagai pengalaman. Tapi akhir-akhir ini tumbuh golongan baru pendaki, yang merupakan wanita paruh baya dengan gaya yang lebih modern dan dikenal sebagai ‘perempuan gunung’. Diperkirakan jumlah pendaki di Nagano mencapai 730.000 orang pada akhir tahun lalu, sebuah peningkatan sebanyak 30 persen dari lima tahun sebelumnya.

Mendaki gunung Ontake menurut para pendaki yang pernah melakukannya, bukan jenis yang sulit dan berat. Dengan kondisi yang landai dan adanya fasilitas tali disepanjang jalur, membuat gunung berketinggian 3.067 meter diatas permukaan laut (mdpl) itu menjadi salah salah satu gunung yang paling mudah didaki di region tersebut. Banyak yang merekomendasikan bisa mencapai puncaknya hanya dalam waktu seharian bagi para pendaki pemula.

Hingga kemudian meletus pada pukul 11:52 waktu setempat, dipercaya ada ratusan orang yang sedang berada dipuncaknya pada saat itu. Hingga Senin (13/10) sudah ditemukan 65 jasad korban didaerah sekitar puncak. Namun diperkirakan masih ada lusinan orang yang dinyatakan hilang.

Hideomi Takahashi (41) merupakan salah satu dari sembilan pendaki yang berasal dari salah satu perusahaan asuransi besar di Jepang, Sompo Japan Nipponkoa Holdings Inc. kesembilan pendaki tersebut bekerja di dua region berbeda dekat Tokyo . Hanya tiga dari sembilan orang itu yang selamat.

Pada saat pemakaman Takahashi, keluarganya memperlihatkan gambar-gambar terkahir yang berhasil diambil Takahashi melalui iPhone miliknya. Setidaknya da enam foto yang diperkirakan diambil saat terakhir ia hidup. Sebuah gambar bunga kapuk yang terbang di antara langit biru, sebuah jembatan, gambar teman-temannya sedang berusaha mendaki. Satu foto yang lain merupakan gambar Takahashi sedang berdiri dipapan petunjuk sudah berada di puncak gunung.

“Ketika saya lihat iPhone yang dimiliki Takahashi masih hidup, saya pikir itu adalah sebuah mukjizat,” kata Hiroyuki, teman Takahashi yang selamat.

Takahashi terlihat berdiri senang dan menunjukan dua jari tanda kemenangan. Namun ia seperti menyembunyikan senyumnya. “Mungkin karena ia melihat tanda-tanda gunung akan meletus,” kata Hiroyuki lagi.

Korban lain bernama Izumo Noguchi (59). Ia diketahui sedang mendaki sendirian saat kejadian. Teman mendaki setianya, yaitu istrinya yang bernama Hiromi tidak ikut serta, karena sedang bekerja.

Kata Hiromi kepada kantor berita NHK, kamera yang dibawa suaminya tampak sudah terbanting, tapi penyimpan memori didalamnya masih berfungsi baik. Hiromi kemudian mencetak 100 gambar yang ada didalamnya. Salah satunya menggambarkan dahsyatnya letusan berbentuk abu menggumpal yang keluar dari kawah.

“Ini foto-foto yang luar biasa. Tapi saya berdoa ia meninggal dengan tenang saat mengambil gambar-gambar ini. Saya lebih memilih ia kembali,” kata Hiromi.

Kemudian Hiromi juga berharap bisa mendaki ke gunung itu juga nanti. “Mungkin 10 tahun nanti. Saya ingin melihat apa yang dilihat suami saya,” katanya lirih.

Yasuo Ito (54) merupakan korban lain. Yasuo diperkirakan tewas sebelum ia memakan makan siangnya. Istrinya, yang juga bernama Hiromi mengatakan kalau Ito merupakan pegawan pada sebuah perusahaan penjualan rumah. Yasuo pergi mendaki bersama enam orang lain yang berasal dari grup sukarelawan konservasi alam setempat. Dari ke tujuh orang itu, hanya tiga orang yang selamat.

Hiromi mengenali jasad Yasuo tak lama setelah ia berhasil dievakuasi dari puncak gunung. Kemudian ia juga menerima ransel yang dipakai suaminya. Ia kemudian mengeluarkan kotak makanan didalamnya, dan membuka isinya. Roti isi telur yang dibuatnya belum disentuh suaminya.

“Sayang, seharusnya ia sudah memakan roti itu. Sekarang ia pasti kelaparan di alam sana .” (AP/Japan Times/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s