Demonstran Hong Kong Hadapi Krisis Kepercayaan

Setelah dua minggu berdemonstrasi di Hong Kong, kelompok pro demokrasi akhirnya seperti menemui tembok tebal untuk dihancurkan. Meskipun pemimpin protes tetap meneriakan sikap perlawanan, namun massa mulai menghadapi krisis kepercayaan.

“Saya pikir gerakan itu terlalu lama terjadi,” kata Leona Wu, guru piano di Hong Kong , Kamis (8/10/2014). “Mungkin orang-orang sudah mulai kehilangan kesabaran,” tambahnya.

Demonstran memang sudah mulai menghilang. Ratusan ribu orang yang sebelumnya memenuhi pesisir utara pulau Hong Kong kecil, kini mulai menghilang. Beberapa memang masih ada yang menghampar tertidur. Namun sebagian besar sepertinya kembali ke rumah masing-masing, dan meninggalkan jalanan kembali lengang seperti biasa.

“Seperti tak pernah terjadi apa-apa dan kondisi ini merupakan titik balik,” kata Stephen Lee, yang lahir di Hong Kong dan sekarang pindah ke Amerika Serikat (AS).

Terakhir Lee dan kawan-kawannya masih mendengarkan ada aktivis mahasiswa, yang meminta para pemrotes kembali turun ke jalan.

Tak tik pemerintah Hong Kong untuk membiarkan demonstrasi berjalan dan mati sendiri, merupakan langkah efektif yang harus diakui keberadaannya. Ketimbang menggunakan penyemprot atau gas air mata, dan pentungan yang malah meningkatkan reaksi dukungan. Membiarkan demonstrasi mati sendiri, malah akan menguntungkan pemerintah. Sebab warga pasti akan gerah, dan menganggap permintaan mahasiswa adalah tindakan sia-sia belaka.

Fandui, fandui – saya menolak aksi itu,” ucap Tai Cho Chi, penduduk yang bekerja sebagai sopir taksi di Kowloon dalam bahasa Mandarin.

“Saya kehilangan HK$ 200 perhari setelah protes dimulai. Istri dan anak saya perlu makan,” tambahnya. “ Hong Kong sudah merdeka dan berkembang. Saya hanya butuh pekerjaan, itu sudah cukup. Apa bagusnya pemilihan umum secara langsung?” tanyanya.

Menyadari makin berkurangnya dukungan, kalangan demonstran tak memiliki pilihan lebih baik selain sepakat melakukan dialog dengan pemerintah. Menurut rencana dialog akhirnya akan dilakukan pada Jumat (10/10) mendatang.

“Dialog akan membicarakan implementasi legal dari reformasi politik,” kata Lau Kong-wah, Sekretaris Pemerintah Hong Kong.

Menurut rencana pejabat senior pemerintahan akan hadir dalam dialog tersebut. Termasuk Kepala Sekretaris Kabinet, Carrie Lam Cheng Yuet-ngor dan Sekretaris Konstitusional dan Masalah Kepulauan Besar, Raymond Tam Chi-yuen. Dialog direncanakan mulai pukul 16:00 waktu setempat.

Lester Shum, salah seorang pemimpin demonstran mengatakan ia tak sabar menunggu proses dialog berlangsung. Namun ia juga merasa kecewa dan marah dengan sempitnya pembahasan yang akan didiskusikan.

Joshua Wong, pemimpin demonstran yang lain mengatakan agar para pengunjuk rasa segera kembali ke jalan. Semua yang ditawarkan pemerintah dalam dialog menurutnya hanya akan bersifat kebohongan semata.

“Saya pikir tak mungkin pemerintah tiba-tiba akan menyetujui semua yang dituntut selama ini,” kata Wong.

Gelombang demonstrasi kini dipahami banyak pihak sebagai upaya yang terlalu merugikan. Bursa saham menurun dan rugi hingga US$ 50 milyar, pendapatan pasar penjualan di Hong Kong juga turun hingga 45 persen.

Bagi demonstran hal tersebut tak bisa mereka anggap sebagai hal main-main. Ronald Chan, salah seorang demonstran mengatakan paham kalau aksi mahasiswa membuat tak nyaman banyak orang. “Tapi kami memiliki alasan melakukan hal tersebut. Semoga orang-orang mengerti,” katanya. (BBC/Quartz/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s