Tragedi Tiananmen Bisa Terulang di Hong Kong

Pemimpin Hong Kong, Leung Chun-ying menolak bertemu dengan utusan demonstran mahasiswa pro demokrasi, Selasa (23/9/2014). Leung memutuskan melengos pergi, saat demonstran akan mengajukan petisi tuntutan, dihadapan wartawan.

“Kalian dapat melihat sendiri, ia tak memiliki perhatian untuk berbicara dengan mahasiswa,” kata Alex Chow, Ketua Federasi Pelajar Hong Kong.

Menurut Chow, tindakan tersebut akan meningkatkan eskalasi aksi protes, bila Leung tetap memutuskan menolak dialog hingga 48 jam kedepan.

Menurut penjelasan juru bicara Leung, melalui kantor berita Hong Kong (RTHK), Leung awalnya berniat bertemu dengan utusan mahasiswa. Namun ia berubah pikiran saat kondisi dirasa makin kacau. Sehingga ia memutuskan meninggalkan lokasi.

Situasi di Hong Kong memang terus memanas, setelah mulai awal minggu ini puluhan ribu mahasiswa melakukan demonstrasi menentang kebijakan Tiongkok terhadap pemilihan pemimpin di Hong Kong . Menurut mahasiswa keputusan Tiongkok jelas tidak mewakili keinginan warga Hong Kong , dimana pemimpin akan dipilih berdasarkan suara di pusat. Mahasiswa pro demokrasi berharap adanya pemilihan pemimpin secara mutlak dilakukan oleh warga Hong Kong sendiri.

“Para pegawai pemerintah, legislatif, dapat melihat kami melalui jendela memanggil untuk demokrasi yang sesungguhnya,” kata Ester Wong, mahasiswa jurusan politik Universitas Tiongkok, kampus Hong Kong .

Ester bersama ratusan temannya, sudah semalam melakukan demonstrasi. Mereka mendirikan tenda di lapangan universitas.

“Seseorang harus mengambil kepemimpinan dan menunjukan kepada pemerintah bahwa mereka salah, dan sekarang semuanya tergantugn kepada mahasiswa,” kata Ryan Lo, mahasiswa sastra yang juga turut berunjuk rasa.

Penyelenggara acara demonstrasi mengatakan sekarang setidaknya sudah ada 13.000 mahasiswa berkumpul untuk berdemonstrasi. Mereka datang dari berbagai jurusan dan universitas di Hong Kong . Selain mahasiswa, para akademikus dan civitas akademika juga turut tergabung dalam unjuk rasa.

“Kami melawan keputusan pemerintah Tiongkok yang ingin membatasi kemerdekaan warga Hong Kong yang seharusnya diterima,” tambah Ryan.

Keadaan yang terus memanas diperkirakan beberapa pengamat akan membawa Hong Kong pada situasi sebelum tragedi serupa di Tiananmen terjadi. Saat itu puluhan ribu mahasiswa Tiongkok juga berdemo untuk pro demokrasi. Namun pembantaian massal justru terjadi.

“Demonstrasi yang berkembang sangat pesat membangkang Tiongkok hanya akan menghasilkan pembantaian massal seperti di Tiananmen terulang kembali,” kata Hu Jia, pengamat politik dari Tiongkok.

Sehari sebelumnya, Presiden Tiongkok Xi Jinping menekankan keputusan terhadap Hong Kong tidak akan berubah. Dimana prinsip dasar dan kebijakan “satu negara, dua sistem” tetap akan dijalankan.

Hong Kong kembali kepada Tiongkok pada 1997, dari tangan Inggris. Salah satu perjanjian merupakan pemilihan umum mutlak pada tahun 2017 mendatang. Namun Tiongkok memberlakukan pemilihan pemimpin secara tak langsung, melalui persetujuan anggota partai di pusat pemerintahan Tiongkok. (AFP/BBC/Xinhua/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s