Wabah di Kongo Bukan Ebola

Setidaknya 70 orang tewas di utara Republik Demokrasi Kongo, hingga Jumat (22/8/2014). Namun Badan Dunia Kesehatan (WHO) menampik kematian orang-orang tersebut diakibatkan virus Ebola, melainkan hanya terkena penyakit Hemorrhagic gastroenteritis.

Dalam laporan yang dilangsir WHO, ada sekitar 592 telah terjangkiti penyakit tersebut. Kemudian 70 orang diantaranya meninggal. Lima orang merupakan pekerja kesehatan setempat, termasuk satu dokter diantaranya.

“Tapi penyakit itu bukan merupakan Ebola,” kata juru bicara WHO tersebut kepada kantor berita Reuters.

Seorang pendeta setempat mengatakan penyakit tersebut sekarang menyerang beberapa desa disana, dan diperkirakan bisa menyebabkan kematian hingga 100 orang mendatang.

Presiden Kongo, Kinshasa berencana akan segera mengirim Menteri Kesehatan Kongo, Felix Kabange Numbi, sebagai tim ahli medis pada Kamis sebelumnya setelah menerima laporan adanya kematian tersebut.

Kematian terjadi di provinsi Equateur, dimana kasus pertama Ebola pertama kali dilaporkan pada tahun 1976 lalu. Sampai kemudian Ebola terus merebak ke penjuru Afrika barat, dan telah membunuh sampai 1.350 orang sampai saat ini.

Gejala penyakit tersebut disinyalir mirip dengan Ebola. Dimana sakit perut atau diare dan pendarahan di organ dalam tubuh menjangkiti pasien. Diperkirakan perbedaan dari dua penyakit ini, hanya sekitar 12 persen berbanding 60 persen.

Tim dari WHO sendiri telah mendampingi tim ahli dari pemerintah Kongo. Mereka akan mengambil empat sampel darah dari para pasien di kota Boende, dan akan diterbangkan ke pusat kota .

Sampai saat ini Ebola dipercaya telah merebak ke berbagai negara. Diantaranya Liberia, Guinea, Sierra Leone dan Nigeria . Penyakit tersebut dianggap berbagai pihak terus menyebar dengan tanpa adanya tindakan pencegahan yang memadai.

Berbagai negara kemudian turut serta dalam usaha pencegahan dan pencarian obat dari penyakit Ebola tersebut. Diantaranya negara Rusia dan Tiongkok. Rusia diketahui turut mengirim tim khusus ke Guinea untuk membantu mencari solusi masalah. Sementara Tiongkok melarang siapapun di negara itu untuk melakukan terapi tradisional pengobatan Ebola, tanpa ijin dari pemerintah.

Sementara pemerintah Liberia di ibukota Monrovia mengatakan para tentara disana sedang berusaha mengatasi para demonstran yang meminta karantina para pasien, agar penyebaran virus Ebola dapat tertahan.

Di Vietnam, bandara nasional setempat memberlakukan sistem pengamanan darurat bagi pendatang, khususnya dari negara Afrika. Mereka memeriksa kesehatan para pendatang ke Vietnam tersebut dengan berbagai upaya pencegahan. Termasuk menahan orang-orang yang dicurigai sedang tidak sehat, dan membawa infeksi penyakit tersebut. (Xinhua/BBC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s