Pohon Aren Solusi Konflik Gajah Manusia

Pohon aren yang kuat dan memiliki kulit duri, bisa menjadi solusi konflik antara gajah dan manusia. Penelitian baru tersebut berhasil dilakukan di Srilanka, dimana konflik sudah membunuh setidaknya 50 orang dan 160 gajah.

Konflik antara satwa dan manusia, sudah terjadi sejak lama. Mungkin dimulai sejak manusia terus merambah hutan dan membuka daerah baru. Kemudian beberapa area yang sebelumnya dianggap dikuasai oleh satwa tertentu, juga dianggap dimiliki manusia. Konflik terjadi saat manusia dan satwa sama-sama saling mengakui area tersebut, karena adanya kepentingan masing-masing makhluk hidup itu. Seperti misalnya area yang semula menjadi tempat harimau minum, bila kemudian dimiliki manusia, membuat harimau sulit mencari minum karena sumber airnya terus dijaga oleh manusia. Contoh lainnya merupakan satwa gajah, yang memiliki perilaku menjelajah. Bila satu saat area jelajah mereka dimiliki manusia, konflik akan meruncing, karena banyak kepentingan gajah tersebut yang dihalangi manusia.

Di Srilanka konflik antara manusia dan gajah juga sering terjadi. Menurut berbagai penelitian konflik terjadi lantaran seringnya terjadi kekeringan disana. Kekeringan membuat terjadinya perebutan makanan dan sumber air makin tinggi. Sehingga banyak upaya dilakukan untuk memperkecil terjadinya konflik tersebut.

Salahsatu usaha yang dilakukan adalah dengan membuat pagar tanaman hidup. Pohon yang dipilih merupakan salah satu jenis palem, yang di Indonesia dikenal sebagai pohon aren. Terakhir upaya tersebut sudah membuahkan hasil memuaskan. Sebab bisa menjadi solusi yang bernilai efektif, tahan lama dan berkelanjutan.

“Biaya menanam aren tak terlalu besar, dan tidak memerlukan perawatan setelah berusia tiga tahun, tapi bisa hidup sampai 100 tahun,” kata Ranasighe Perera, Kepala Program Aksi Praktik di Srilanka, pertengahan Agustus 2014 lalu.

Perera mengakui pengetahuan tersebut didapatkan dari pengetahuan tradisional setempat. Dimana sangat diketahui gajah sangat sulit merubuhkan pohon aren. Karena akarnya yang kuat dan adanya duri diseluruh permukaan batang.

Berdasar pengetahuan tersebut, Perera kemudian memodifikasi lokasi dan pertumbuhan pohon aren. Dengan percobaan seperti membuat pagar tinggi secara zig zag dari pohon aren, ternyata mampu menghalangi gajah, merusak sebuah area tertentu.

Bagian batang berduri aren, mampu membuat gajah menjauhinya. Sehingga bisa dimodifikasi seperti jalur jalan gajah menuju arah yang diinginkan manusia. Selain itu pagar dengan tumbuhan seperti ini, jelas lebih bisa dianggap ramah lingkungan.

Namun meski begitu, waktu tumbuh pohon aren yang cukup lama, menjadi kelemahan sistem ini. Diperkirakan oleh Perera, perlu waktu sampai minimal delapan tahun sampai pohon aren dapat dikatakan kuat berdiri.

“Bila menggunakan pagar listrik, hanya bisa bertahan antara 10-12 tahun, tapi dengan pagar alami pohon aren bisa lebih lama lagi umur pagar itu bertahan,” tambah Laffir Mohammed, Direktur Proyek yang mengepalai program tersebut.

Biaya menanam aren dan merawat hingga siap, sebenarnya berbanding seperlima lebih murah daripada pagar listrik. Mengingat biaya perawatan dan bahan bakar juga diperlukan untuk mengaktifkan pagar listrik itu.

Janathakshan, organisasi yang terlibat dalam proyek ini mengatakan kalau penanaman pohon aren tak hanya bisa menghentikan gajah. Tapi juga menambah pemasukan bagi masyarakat sekitarnya.

Menurut penelitian mereka, dari satu kilometer pohon aren yang tumbuh bisa menyediakan 270 metrik ton buah aren. Buah tersebut juga bisa diberikan kepada gajah, untuk memperkecil konflik karena perebutan makanan. Selain itu aren juga diketahui bisa diolah untuk berbagai macam makanan dan minuman manusia.

Salhsatu kelemahan dari aren hanya tingkat hidup pohon aren kecil yang sangat rendah. Diperkirakan hanya 20-30 persen aren yang dapat terus hidup, bila dibandingkan dengan total yang ditanam. Para peneliti berharap peningkatan teknologi pertanian, bisa memecahkan masalah ini. (BBC/sulung prasetyo)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s