Larangan Impor Naikan Harga Makanan di Rusia

Larangan impor makanan yang diterapkan Rusia, mulai terlihat dampaknya didalam negeri mereka. Menurut beberapa media setempat, hingga Selasa (19/8/2014) harga makanan lokal menjadi makin mahal.

Seperti diungkapkan harian bisnis Kommersant, disebutkan harga daging babi di Moscow , naik sebanyak enam persen dari sebelumnya. Sementara di St Petersburg, harga makanan melonjak sebanyak 10 persen.

Anatoly Kotov, Kepala Kebijakan Ekonomi Pemerintah St Petersburg mengatakan harga daging babi disana bahkan sudah naik sebanyak 23,5 persen dari sebelumnya.

“Sementara harga daging ayam naik 25,8 persen,” ungkapnya.

Pada hari sebelumnya Perdana Menteri (PM) Rusia, Dmitry Medvedev mengatakan ia tak mengharapkan harga-harga barang di Rusia menjadi naik, karena kebijakan larangan impor makanan dari Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS). Selain itu ia juga berharap larangan impor yang diperkirakan akan dijalankan selama setahun itu, dapat segera dicabut.

Nina Oding, pakar ekonomi dari Leontief Center mengkritisi kebijakan politik dalam negeri, yang tidak mengantisipasi lonjakan harga tersebut. Ia mengatakan kejadian ini mengulangi kebijakan sebelumnya saat Rusia masih menjadi Uni Soviet.

“Kita menghadapi pilihan yang ketat, makin banyak permainan kekuasaan secara monopolistic, harga-harga akan naik dan kita sudah melihat proses itu berjalan,” kata Nina pada situs bisnis internet Rusia, RBK.

Di wilayah-wilayah Rusia lain, kenaikan harga juga tidak tertanggulangi, seperti di region Primorye dan pulau Sakhalin, harga keju naik 10 persen, dan daging naik 15 persen. Yang paling menyakitkan harga ayam naik sampai 60 persen disana.

Sementara di Primorye, harga apel dari Tiongkok dikabarkan naik tiga kali lipat dari sebelumnya. Sementara harga daging naik sebanyak 26 persen, dan ikan naik 40 persen.

Sementara itu pihak pemerintah Rusia tetap bersikukuh menjalankan larangan impor tersebut. Bahkan menurut beberapa pengamat, Rusia bisa menambah jumlah larangan impor dari sebelumnya hanya makanan, menjadi ke bidang otomotif juga.

Menurut laporan harian Vedomosti, Rusia bisa menjalankan larangan bidang otomotif lantarang tingginya angka penjualan didalam negeri. Dalam catatan 27 persen penjualan mobil di Rusia, terjadi hanya dalam waktu enam bulan pada tahun 2014 ini.  Diklaim impor truk naik menjadi 46 persen, dan bus naik menjadi 13 persen.

 Bila benar Rusia akan melarang impor otomotif, maka yang akan terdampak merupakan perusahaan yang telah menanamkan modal di Rusia, seperti Ford dan Volkswagen.

Menurut Vedomosti rencana larangan impor otomotif tersebut sudah ada di meja Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun keputusan belum bisa dilakukan, karena masih melihat kemungkinan larangan impor dari bidang industri kapal laut dan pesawat terbang.

Dari pihak EU yang terdampak paling berat dari larangan impor makanan ke Rusia, menyebutkan akan menggelontorkan dana mencapai 125 juta pound sterling, untuk menolong para petani yang terdampak.

Komisioner Pertanian UE, Dacian Ciolos mengatakan semua petani yang mengalami dampak dari kebijakan Rusia, bisa mengambil pasar dalam negeri dan luar negeri lain yang sebelumnya tidak diperbolehkan,” ujarnya.

Rusia memberlakukan larangan impor makanan, untuk membalas sanksi yang dijatuhkan pihak UE dan AS, terkait dengan konflik yang terjadi di Ukrainia. (BBC/Cityam/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s