Regu Penyelamat Sewol Akui Kurang Sigap

Regu penyelamat mengakui tidak memiliki kemampuan atau pernah mengikuti pelatihan, mengenai pertolongan kapal terbalik. Demikian diungkapkan dalam sidang lanjutan mengenai kasus tenggelamnya kapal Sewol di Korea Selatan, Selasa (12/8/2014).

Pada sidang yang diadakan di utara kota Gwangju, pejabat penjaga pantai berbicara untuk pertama kalinya. Mereka menjelaskan apa yang dikerjakan saat pertama kali mencapai kapal yang terbalik tersebut.

Mereka bilang tadinya hanya berharap menemukan para penumpang sedang menunggu di dek kapal. Dan tidak berpikir sama sekali kalau masih ada orang-orang yang terperangkap didalam kabin yang sudah mulai penuh air.

Para petugas tersebut mengaku telah sedia mengangkat orang-orang dari air, tapi tidak memiliki peralatan atau pelatihan untuk masuk ke dalam kapal tenggelam yang terbalik. Mereka juga mengatakan kalau tidak tahu Kapten kapal yang terbalik itu, Lee Joon-seok adalah salah satu orang yang pertama kali ditolong, keluar dari kapal itu.

Lebih dari 300 penumpang di kapal Sewol akhirnya meninggal. Kapal tenggelam pada bulan April 2014 lalu, di laut selatan Korea Selatan. Sekarang 14 kru kapal disidang karena dianggap lalai dan meninggalkan tugas.

Pengacara para tersangka merasa kejadian tersebut bukan seluruhnya salah mereka. Melainkan ada andil lambatnya pertolongan dari penjaga pantai, membuat kecelakaan makin parah.

Persidangan tersebut kini terus mengalami kemajuan. Beberapa saksi dan keterangan telah dikumpulkan. Salah satu kemajuan yang ada merupakan dicabutnya berbagai tuduhan yang semula sempat ditujukan kepada bos pemilik kapal.

Kapal Sewol dimiliki oleh perusahaan Chonghaejin Marine Co. Ada indikasi kapal mengalami kecelakaan juga lantaran buruknya perawatan, kelebihan muatan pada kapal.

Yoo Byung-eun, pemilik perusahaan Chonghaejin Marine Co, kemudian juga diajukan ke pengadilan. Ia mendapatkan banyak tuntutan termasuk korupsi, pengalihan pajak, penerimaan muatan dan sistem perawatan kapal yang buruk.

Sayangnya Yoo, kemudian ditemukan tewas di sebuah kolam di utara Korea . Penyebab kematian tidak jelas diketahui, namun menurut keterangan polisi, Yoo tewas usai menghilang karena dicari-cari oleh berbagai kalangan dan kepolisian.

Pada sidang dilokasi berbeda yang dilakukan di kota Inchion, para penggugat kemudian mencabut tuduhan kepada Yoo, dengan alasan Yoo telah menemui ajal.

“Kami membuat keputusan untuk tidak melanjutkan proses penuntutan terhadap Yoo, karena ia telah mati,” kata jaksa di sidang yang dilakukan di Incheon.

Namun mesti begitu, Yoo Dae-kyun, anak tertua Yoo akan terus diajukan ke pengadilan. mengingat ia memiliki keuntungan hingga 7,3 juta Won (mata uang Korea ) dari perusahaan itu.

Cho Jung-sik, dari partai oposisi Aliansi Politik Baru untuk Demokrasi (NPAD) mengatakan agar pengadilan juga memperhatikan keinginan dan harapan dari keluarga korban dan publik pada umumnya.

“Untuk kasus Sewol seharusnya para pengambil keputusan bisa memperhatikan harapan keluarga, dan menunjukan adanya niatan untuk mencari solusi terbaik,” kata Cho.

 

Beberapa anggota keluarga yang masih marah atas kejadian itu, melakukan konferensi pers sebelumnya. Mereka meminta para anggota partai juga turut serta membantu, untuk memastikan proses investigasi yang berimbang pada kasus tersebut. (Yonhap/BBC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s