Meteor Perseid Hujani Bumi

Jangan berpikir kiamat segera tiba. Hujan meteor ternyata kerap terjadi diberbagai belahan dunia. Salah satunya hujan meteor Perseid, yang kembali nyata paska purnama penuh terjadi Agustus 2014 ini.

Kilatan-kilatan cahaya dari angkasa, kadang membuat orang-orang waspada. Beberapa berpikir itu hanya bintang jatuh, dan segera melancarkan harapan-harapan. Beberapa terkesima, dan baru mengerti kalau sampah dari satelit-satelit luar angkasa juga bisa berupa seperti itu. Beberapa yang lain berpikir ekstrem, ada penghuni angkasa lain yang mendatangi bumi kembali.

Kilatan-kilatan cahaya juga seharusnya terjadi kembali tengah minggu ini. Sebab ekor komet Swift-Tuttle kembali akan bertabrakan dengan atmosfer bumi. Komet ini sebenarnya awalnya mencemaskan, karena memiliki batuan besar yang siap menghantam bumi kapan saja. Menurut perkiraan, dua kali lebih besar, daripada yang pernah menghantam bumi ratusan tahun silam. Saat itu diperkirakan masa dinosaurus punah lantaran hantaman meteor seperti Swift-Tuttle ini.

Ekor komet tersebut bila bertabrakan dengan atmosfer, juga menimbulkan gesekan yang serius. Tapi bila dilihat dengan mata telanjang dari bumi, akan terlihat indah. Sebab hanya akan seperti bintang jatuh, atau hujan kilatan diatas langit. Karena berada dekat dengan susunan rasi bintang Perseus, maka dinamakan Perseid.

“Hujan meteor Perseid merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Hanya hujan meteor Geminid yang pantas menjadi rivalnya,” kata Bill Cooke, dari Badan Lingkungan Meteorit (MEO) di Huntsville , Alabama , Amerika Serikat (AS).

Bagaimana tidak dikatakan terbaik. Bisa dibayangkan, setidaknya 100 hujan meteor bisa terjadi dalam waktu sejam saja. Dari catatan MEO, hujan meteor Perseid terbanyak terjadi tahun 2012 lalu, dimana ada 122 meteor jatuh dalam waktu satu jam.

Tahun ini, hujan meteor Perseid kembali terjadi dibumi. Menurut perkiraan para ahli, sisi dunia paling utara menjadi lokasi terbaik melihat fenomena alam tersebut. Sementara daerah khatulistiwa tak terlalu baik, dan sisi paling selatan sama sekali buruk.

Dalam pandangan kasat mata di Ibukota Indonesia , Selasa (12/8) menjelang dini hari, tak ditemukan hujan meteor tersebut. Mungkin karena mendung yang menggayut, sehingga tertutup dengan awan.

Tapi dibelahan dunia lain, hujan meteor Perseid ternyata nyata terjadi. Seperti yang ditemukan fotographer dari Inggris, Matthew Power. Dengan kemampuan fotografinya ia berhasil menangkap fenomena hujan meteor di daerah Grafhan di Cambridgeshire.

“Kondisinya indah sekali, tapi sungguh-sungguh membutuhkan keahlian untuk melihat hujan meteor itu secara langsung, dan mengambil gambarnya,” ujar Power.

Menurut pengakuannya, hujan meteor didaerahnya terjadi sekitar pukul 02:30 waktu setempat. Dibawah siraman bulan purnama yang masih penuh.

Gambar lain berhasil didapatkan fotographer di Bosnia . Ia mengambil gambar tersebut tepat diantara situs arkeologi Maculje, yang berada di dekat daerah Novi Travnik. Terlihat beberapa baris meteor melintas jatuh diantara patung-patung arkeologi besar disana.

Pengalaman lain dimiliki fotographer dari Kent , Robert Canis. Dengan menggunakan alat fotografi yang tak main-main, ia berhasil merekam 300 gambar dari angkasa pada malam itu.

Hasilnya, ia hanya mendapatkan gambar sebuah meteor Perseid yang jatuh. Meteor itu menurut beberapa ahli paling unik, karena menyajikan buntut berwarna biru. Kemungkinan warna tersebut terjadi akibat bias warna matahari yang menjelang terbit.

Menurut Tony Markham, Direktur Masyarakat Astronomi Populer (SPA), hujan meteor Perseid tak hanya terjadi dalam satu malam saja. Apa yang terjadi sebelumnya bisa jadi belum merupakan puncaknya.

“Hujan meteor Perseid sangat kaya dengan cahaya, akan lebih banyak hujan meteor lagi bila mau melihat latar belakang bulan,” tambahnya.

Markham menyarankan agar melihat ke arah rasi bintang Cassiopea, bila ingin melihat fenomena hujan meteor Perseid lebih jelas. Karena rasi bintang tersebut membelakangi bulan. Sehingga sinar bulan besar tidak akan membuat bias cahaya kilatan meteor.

Terlepas dari keindahan hujan meteor, ternyata Perseid kadang diidentikan dengan kesedihan. Karena dikaitkan dengan julukan “Tangisan Saint Lawrence”. Seorang pelaku sejarah perkembangan Kristiani, yang harus menjadi martir pada tanggal yang sama dengan jatuhnya meteor itu, tiap 10 Agustus per tahun.

Sementara Perseus sendiri merupakan perlambang pahlawan, menurut mitos Yunani. Jadi jangan sampai hujan meteor Perseid menjadi lambang kesedihan, padahal banyak kesenangan bila bisa melihatnya secara langsung. (space/cnet/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s