Tiongkok Larang Berpakaian Muslim

Kota Xinjiang di Tiongkok mulai menjalankan peraturan tak berpakaian seperti muslim, Rabu (6/8/2014). Para pemakai pakaian muslim atau muslimah, akan ditolak memakai transportasi publik.

Pejabat pemerintah di Xinjiang menyebarkan maklumat, agar warga setempat tidak termasuk dari lima tipe orang yang dilarang. Kelima tipe orang tersebut merupakan orang yang memakai jilbab, penutup kepala perempuan, sejenis burka, pakaian yang bergambar bulan dan bintang, serta anak muda dengan baju terusan panjang.

“Penumpang transportasi publik yang tidak mematuhi, terutama tetap memakai kelima tipe jenis pakaian tersebut akan dilaporkan ke polisi,” kata peringatan dalam keputusan pemerintah daerah tersebut.

Tindakan itu sendiri diklaim pihak pemerintah daerah sebagai upaya untuk menstabilkan keamanan masyarakat. Seperti diketahui kebanyakan warga Xinjiang merupakan suku Uighur, yang mayoritas beragama muslim.

Namun keberadaan suku tersebut kemudian diperhatikan, karena beberapa kejadian pemboman terjadi berasal dari suku tersebut. Kebanyakan anak suku Uighur memang pergi belajar mengenai Islam di Turki, yang lebih dekat dengan daerah mereka.

Salahsatu kota di Xinjiang, Karamay berada sejauh 400 kilometer (km) di utara ibukota region Urumqi . Daerah tersebut pernah dibom pada bulan April dan Mei 2014 ini, di kantor kereta api dan pasar.

Menurut laporan kantor berita Tiongkok, Xinhua terakhir sekelompok orang dengan senjata tajam menyerang kantor polisi daerah Yarkant. Ada sekitar 37 sipil dan 59 orang penyerang yang tewas pada kejadian tersebut. Menurut beberapa orang suku Uighur kejadian tersebut lantaran pemerintah Tiongkok mengeluarkan larangan berpuasa, bagi warga suku Uighur yang muslim.

Tak hanya suku Uighur yang dilarang berpuasa, pemerintah pusat Tiongkok juga ternyata memberlakukan larangan berpuasa bagi pegawai pemerintahan pusat, selama bulan Ramadhan.

Sehari setelah kejadian di Yarkant, iman mesjid terbesar di Xinjing ditemukan tewas tertusuk di Kashgar. Padahal imam tersebut, Jume Tahir dikenal sebagai tokoh yang kurang disenangi kalangan muslim Uighur. Sebab Jume berulang kali mendoakan berbagai kebijakan Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok.

Menyadari adanya ketentuan tidak boleh berpakaian ala muslim di Xinjiang, membuat sekelompok orang memberikan kritik terhadap kebijakan tersebut.

“Jadi setiap orang yang memakai jilbab, atau burka pasti teroris? Bukannya itu pakaian daerah mereka?,” ucap beberapa orang di jaringan mikro blog Tiongkok, Weibo.

Beberapa yang lain juga menyetujui kesalahpahaman tersebut. Sebab memakai jilbab atau penutup kepala bagi perempuan bukanlah menujukan diri mereka sebagai teroris. Namun bila hal tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan, maka harus dilakukan. (BBC/slg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s