Mati, Hidup dan Mati Lagi di Palestina

Seorang bayi dapat hidup selamat, setelah dikeluarkan dari rahim ibunya, yang tewas akibat serangan bom Israel ke Palestina. Sayang hidupnya hanya enam hari, hanya karena Israel mematikan pasokan listrik untuk ruang hidupnya.

Entah apa yang ada diingatan Shayma, seorang bayi berumur delapan bulan. Ia sempat hidup dalam rahim, saat ibunya telah dinyatakan tewas. Ibunya, Shayma al-Sheiks Qanan tewas dalam sebuah serangan bom di kota Dier al-Bala. Kota dibagian selatan Gaza tersebut, terus dibombardir pasukan Israel beberapa hari terakhir ini. Ribuan orang tewas diantara reruntuhan, termasuk ibu Shayma.

Dokter memperkirakan Shayma masih hidup, saat ibunya dibawa ke rumah sakit di kota Khan Yunis. Namun mereka juga khawatir adanya gangguan pada otak Shayma, karena sempat beberapa waktu hidup dalam kandungan orang yang telah mati.

“Bayi itu menderita karena kurang oksigen didalam rahim, setelah jantung ibunya berhenti,” kata Fadi Al-Khrote, dokter yang menyelamatkan nyawa.

“Kurangnya oksigen bisa mengakibatkan gejala gangguan otak pada bayi, dimana otak sempat berpikir kalau tubuhnya telah mati,” ujar Fadi menjelaskan, Rabu (30/7) lalu.

Merupakan keajaiban baginya, saat berhasil mengeluarkan bayi Shayma, dari tubuh ibunya yang telah meninggal. Tak ada keputusan terbaik menurutnya selain melakukan operasi Caesar, agar sang bayi bisa selamat.

Kedua orang tua Shayma tewas satu hari sebelumnya. Saat dikonfirmasi setelah kelahiran Shayma, dokter menyatakan bisa saja bayi Shayma hidup terus, tergantung dari pasokan kehidupan yang ada di rumah sakit.

Shayma, yang berkelamin perempuan kemudian hidup dalam inkubator. Dengan selang masuk ke dalam mulutnya. Namun terlihat bersih dan tanpa dosa. Direncanakan ia akan hidup di inkubator setidaknya tiga minggu lamanya.

Nenek Shayma, Mirfat Qanan dengan haru menemani Shayma selama di rumah sakit. Dengan sedih ia selalu bilang kalau serangan ke kediaman mereka, merupakan tindakan biadab.

“Anak saya Shimah meninggal, tapi sekarang saya memiliki seorang anak perempuan,” kata Mirfat.

Kabar mengenai Shayma kemudian cepat menyebar melalui media sosial. Dalam tautan di Twitter banyak orang berharap kehidupan Shayma dimasa mendatang, tak akan tragis seperti orang tuanya.

Saat dukungan terus berdatangan melalui media sosial. Kabar buruk kemudian datang menerpa. Setelah lima hari berjuang hidup di inkubator. Bayi Shayma kemudian menghembuskan nafas terakhir.

Kontan makin banyak komentar pedih menyertai kematian bayi itu. Termasuk kebiadaban Israel , yang dianggap sebagai biang kematian Shayma, saat didalam inkubator. Pasalnya listrik yang memasok kebutuhan hidup Shayma di inkubator tiba-tiba mati, karena Israel memutuskan pasokan listrik ke rumah sakit Khan Younis.

“Pasokan listrik yang berkelanjutan memainkan peran penting, karena incubator merupakan tabung oksigen yang tak akan bekerja secara benar saat listrik mati,” urai Fadi lagi.

Karena putusnya pasokan listrik itu, kemudian tim dokter melakukan upaya resus itasi secara manual beberapa kali, agar hidup Shayma tetap berlanjut. Sayangnya upaya tersebut menemui kegagalan, dan Shayma kemudian meninggal.

Shayma kemudian dimakamkan disamping kuburan ibunya. Diantara ribuan dentuman bom yang masih terus menghujam. Hujan serangan tersebut kemudian dianggap yang paling kejam dari sebelumnya. Dalam sehari ribuan warga sipil Palestina tewas. Bahkan sekolah PBB yang didirikan sebagai kamp penampungan juga dibombardir. Banyak anak-anak tewas dalam serangan tersebut.

Yusuf Abu Rish, dari Kementerian Kesehatan Palestina dengan haru menyatakan kalau situasi perang sekarang merupakan bencana kemanusiaan. Terutama taktik pemutusan listrik ke rumah sakit secara sengaja yang dilakukan pihak Israel .

“Rumah sakit telah lebih dulu kesulitan oleh kurangnya bahan bakar untuk menyalakan generator. Kita menghadapi tragedi kemanusiaan disini, yang melanda kehidupan ribuan pasien didalamnya,” kata Rish.

Mereka berharap Israel segera menghentikan serangan, dan melihat kembali nurani mereka terhadap hak hidup masing-masing orang didunia ini. (BBC/AFP/RT/Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s