Cinta di Neraka Israel Palestina

Seperti kisah Romeo dan Juliet, mereka sengsara justru karena cinta. Di neraka perang Israel Palestina, cinta hadir tanpa bisa dikira. Haruskah angkara membelah rasa paling dihargai manusia?

Osama Zatar, seorang muslim Palestina dan Jasmin Avissar, perempuan keturunan Yahudi Israel tak pernah mengira akan ada cinta di antara mereka. Di pusat penyelamatan satwa di perbatasan Israel dan Palestina, kasih mereka hadir.

Meskipun tahu akan mendapatkan tentangan dari banyak pihak. Tak ada yang bisa menahan rasa itu. Bukan langkah mudah bagi Osama yang muslim, mengambil Jasmin yang berbeda keyakinan sebagai pendamping hidup.

Jasmin menjalani hidup sebagai penari klasik. Usianya sudah mendekati 25 tahun. Osama, satu tahun lebih tua. Osama bekerja sebagai pemahat. Hingga satu saat mereka bertemu pada sebuah penampungan satwa di Jerusalem , dan memutuskan hidup bersama.

Jelas tak mudah, karena muslim Palestina melarang pernikahan beda keyakinan. Sementara pemerintah Yahudi Israel menolak kehadiran suami muslim, di wilayah mereka.

“Kami seperti hidup dalam situasi yang digambarkan Kafka. Kami hanya ingin hak untuk hidup bersama sebagai pasangan,” ujar Jasmin.

Keinginan mereka untuk hidup bersama ditolak oleh kedua negara, yang terus bertikai tersebut. Meskipun kini Jasmin hidup bersama Osama di West Bank , namun tiap hari ia harus melintas batas negara, agar bisa bekerja di Jerussalem.

“Otoritas berwenang selalu berusaha memisahkan kami,” urai Osama. “Padahal kami saling mencintai dan berencana hidup bersama sampai tua, itupun kalau kami masih bisa memilikinya.”

Pasangan itu kini menghadapi persidangan di Pengadilan Tinggi Israel . Mereka mengajukan banding agar pemerintah memberikan kebebasan untuk hidup bersama, baik di teritori Israel maupun Palestina.

Kesempatan mereka untuk menang, sebenarnya tak pasti atau bahkan tipis terwujud. Apalagi pemerintah Israel pernah mengeluarkan peraturan, melarang hak untuk hidup ditanah Israel , bagi orang Palestina yang menikahi perempuan Israel .

Michael Sfard, pengacara mereka tak kehabisan akal, untuk mengajukan pledio pembelaan. Sfard mengutip kata-kata Shakespeare dalam drama romantis tragis. Mencoba mengkomparasi antara kebingungan keluarga Capulet dan Montague di drama Romeo dan Juliet, dengan kondisi di Israel dan Palestina.

“Menjadi musuh, membuatnya tak memiliki daya untuk bernafas sebagaimana layaknya pecinta yang telah bersumpah. Dengan cintanya yang besar, ia seperti memiliki arti saat menemui kekasihnya dimanapun berada,” tulis Sfard dalam pledoinya.

Kemudian baru Sfard memunculkan pendapat, bahwa di bawah deklarasi PBB tentang hak asasi manusia, pasangan tersebut memiliki hak dasar untuk hidup sebagai keluarga dan kebebasan memilih pasangan.

Sayangnya pihak Israel tak bergeming dengan permintaan tersebut. Seorang juru bicara Israel, yang tak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa di bawah hukum Israel, Osama Zatar tidak memenuhi syarat untuk mengajukan permohonan izin tinggal di Israel.

Menjadi Film

Kisah memilukan tersebut kemudian diangkat menjadi sebuah film dokumenter. Dengan judul “Cinta Diantara Perang”, sutradara Gabriella Bier mencoba menceritakan kembali kisah tersebut.

Film tersebut jelas menggambarkan mengenai kerumitan birokrasi. Perjuangan tanpa akhir yang harus dihadapi pasangan tersebut. Bersamaan dengan berbagai tekanan yang datang dilokasi dimanapun mereka sekarang tinggal.

Namun sayangnya Bier, yang berasal dari Swedia itu kurang menggambarkan mengenai latar belakang kisah cinta tersebut. Dalam film memang digambarkan mengenai keluarga mereka, melihat bagaimana hukum membatasi, mendengar satu sama lain saling berbicara mengenai masalah yang ada.

Tapi Bier tak menceritakan bagaimana mereka bisa bertemu pertama kali, bagaimana hubungan mereka berlanjut, dan bagaimana mereka menikah. Yang ada hanya potongan-potongan gambar, yang menggambarkan keseharian pasangan tersebut dalam keterpisahan. Menjadi manusia yang tak diharapkan, tetap berusaha namun frustasi menghantui. (Telegraph/JewishWeek/Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s