Tiongkok Akui Berdagang Kulit Harimau

Tiongkok untuk pertama kali mengakui adanya penjualan kulit harimau kepada publik. Namun mereka menyatakan melarang penjualan tulang harimau. Demikian diungkapkan delegasi Tiongkok, dalam pertemuan konvensi internasional untuk melindungi satwa langka (CITES), di Jenewa, Jumat (11/7/2014).

“Delegasi dari Tiongkok mengatakan, tidak melarang penjualan kulit harimau tapi mereka melarang penjualan tulangnya,” ujar seorang partisipan dalam pertemuan tersebut.

Pernyataan tersebut juga dikonfirmasi kebenarannya oleh pihak sekretariat CITES. Namun pihak Tiongkok menolak memberikan pernyataan terbuka.

Diperkirakan sekitar 5.000 – 6.000 harimau hidup dalam penangkaran di Tiongkok. Sementara kalangan aktivis konservasi satwa liar telah lama meminta penghentian penjualan kulitnya. Para pakar satwa liar percaya kalau peternakan harimau di Tiongkok, hanya akan memicu pertambahan permintaan, yang pada akhirnya memicu perburuan dan perdagangan satwa liar dilain tempat. Mereka dengan aklamasi meminta pertemuan CITES, untuk menekan Tiongkok mengurangi praktik penangkaran harimau itu. Sebeb menurut beberapa laporan terpercaya, praktik tersebut juga melegalkan penjualan harimau hidup dan bagian-bagiannya untuk perdagangan internasional.

Shruti Suresh, pengkampanye hidupan satwa liar dari Environment Investigation Agency (EIA) menyatakan apa yang dikatakan pihak Tiongkok membuktikan adanya transaksi berskala komersial terhadap satwa liar.

“Klarifikasi tersebut sangat diperlukan karena selama ini pihak Tiongkok selalu berkata kalau transaksi tersebut tidak dalam skala komersial,” ujar Suresh.

Sehingga diperkirakan apa yang dilakukan Tiongkok dapat dibenarkan banyak pihak. Karena bisa saja transaksi tersebut dipergunakan untuk kepentingan umum, seperti untuk isi museum, atau penelitian.

Sebuah laporan terbaru mengatakan kalau setidaknya sejak tahun 2000 sudah 1.600 harimau yang dibunuh untuk perdagangan. Semua harimau tersebut berasal dari penangkaran dan yang hidup liar di alam.

Sementara Tiongkok diinformasikan menjadi pasar paling potensial. Sehingga banyak negara Asia Tenggara lain menjadi tertarik menjadi pemasoknya, termasuk Indonesia .

SP Yadav, Deputi Inspektur Jendral dari Otoritas Nasional Perlindungan Harimau India mengatakan kalau pengakuan dari Tiongkok tersebut akan membuka jalan baru. Sebab pembohongan yang selama ini dilakukan, jelas tidak membawa efek baik bagi perkembangan pelestarian satwa liar seperti harimau.

Negara seperti India memang menjadi korban dari kebijakan adanya perdagangan satwa. Diperkirakan sekitar 3.000 harimau di India harus dibunuh, untuk dijual pada pasar yang diarahkan ke negeri Tiongkok. Tahun 2013 lalu, setidaknya 42 harimau di India harus tewas untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Menurut Yadav, banyak permintaan satwa harimau bukan hanya untuk dipelihara saja. Tapi juga tupangnya untuk pengobatan, sementara kulitnya dijadikan hiasa. Banyak pejabat yang menggunakan kulit tersebut untuk diberikan kepada atasannya, agar diberikan jabatan yang lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s