Kuburan Tanpa Nama Serdadu Rusia

Olga Ivshina tak akan pernah melupakan cerita seorang prajurit berusia 21 tahun, bernama Khasan Batyrshin. Khasan hilang pada tahun 1943. Tiap tahun keluarganya terus menanyakan kepada pemerintah, mencari informasi mengenai keberadaan Khasan. Tapi jawaban dari pemerintah selalu sama. “Tak ada data ditemukan. Ia tentara hilang dalam perang.”

Tapi keluarga Batyrshins tak pernah putus asa. Berulang kali ibunya yang berusia 105 tahun berkata: “Ia akan kembali. Ia berjanji kepada saya. Dia bahkan bisa memindahkan gunung sekalipun.”

Olga kemudian menemukan Khasan, tahun 2013 lalu didekat daerah Nevskaya Dubrovka. Tubuhnya hanya tinggal tengkorak. Ia tubuh terakhir yang hari itu ditemukan. Olga menemukannya melalui ID tag nama yang terkubur bersamanya. Sesuatu hal yang sepertinya merupakan mukjizat. Sebab tak banyak tentara lain yang memiliki ID card seperti Khasan.

Dulu ID card tentara bukan berbentuk kalung nama seperti sekarang. Tapi serupa selongsong kecil, yang berisikan kertas bernama tentara yang membawanya. Nama yang tertera pada kertas itu, yang memastikan bahwa jasad Khasan telah ditemukan.

Saat keluarganya menerima berita tersebut, hal pertama yang mereka lakukan adalah mengunjungi makam ibu mereka, untuk memberitahu berita itu. Ibunya Khasan meninggal setahun sebelum berita itu datang.

Namun setidaknya Khasan menepati janjinya. Kembali meskipun hanya tinggal nama. Mungkin juga nasib itu tak seberuntung banyak tentara lainnya. Sebab dari perkiraan 70 juta tentara yang terbunuh pada perang dunia kedua, 26 juta diantaranya tewas di peperangan garis depan timur. Dimana saat itu tentara Nazi Jerman, sedang berupaya melebarkan invasi, hingga ke garis tengah Uni Soviet. Daerah seperti St Petersburg yang kini dikenal dengan nama Leningrad, merupakan salah satu ajang pertempuran besar.

Khasan juga tewas di medan pertempuran Nevskaya Dubrovka, dekat Leningrad. Sementara jutaan yang lain mungkin masih terkubur dibawah lapisan tanah. Tak terurus dan menanti tangan untuk menjemput mereka, mendapatkan acara pemakaman sebagaimana layaknya manusia.

Olga yang kemudian menggagas upaya pencarian para mayat prajurit tersebut. Bersamanya ada Marina Koutchinskaya dan Ilya Provokiev. Mereka bahu membahu bersama terus mencari selama 12 tahun terakhir.

“Kadang kami menemukan mereka tak jauh dari lapisan humus atas tanah. Bahkan ada yang masih hanya tertutup daun. Mereka masih terbaring seperti saat mereka jatuh terakhir. Para tentara itu menanti kedatangan kita, menunggu kesempatan akhirnya bisa kembali ke rumah mereka,” urai Olga.

Mereka bekerja di daerah dekat kota Lyuban, 80 kilometer (km) selatan Leningrad. Pada sebuah area hutan seluas 10 km persegi (km2), diperkirakan 19.000 tentara Uni Sovyet terbunuh di lokasi itu, pada beberapa hari peperangan di tahun 1942. Sejauh ini mereka bertiga sudah menemukan 2.000 jasad disana.

Satu-satunya lelaki dalam kelompok pencari itu adalah Ilya. Ia yang dianggap paling berpengalaman, sebab merupakan lulusan dari sekolah tentara di Rusia juga. Lengkap dengan kumis lebat dibawah hidungnya, ia pertama kali menemukan jasad tentara sekitar 30 tahun lalu.

“Saya menemukan jasad di rawa saat tak sengaja menemukan sebuah sepatu bot keluar dari lumpur. Kemudian tak jauh dari sepatu itu, ditemukan helm tentara Soviet. Saat menyibakan humus terlihat muka tengkorak seorang tentara,” cerita Ilya.

Itu sekitar tahun 1983, katanya. Berada hanya 40 km dari Leningrad, terbaring tubuh-tubuh pejuang perang dunia kedua yang tak pernah terkubur sempurna.

“Kemudian baru kami sadari kalau ada banyak kasus serupa seperti itu, terus dan terus makin bertambah banyak dan dalam skala massif,” tambah Ilya.

Menyadari tingginya harapan dari keluarga yang ditinggalkan, kemudian dibentuk tim penggali untuk mencari seluruh tentara yang belum dikuburkan di Rusia, karena perang dunia kedua. Ada 600 grup yang kemudian terpecah diseluruh penjuru Rusia untuk menggali lokasi-lokasi perang. Sampai terakhir sudah sekitar 500.000 jasad tentara dikebumikan dengan layak.

Tim pencari ini menamakan diri sebagai ‘penggali putih’. Berbeda dengan jenis ‘penggali hitam’ yang mencari jasad tentara hanya untuk gigi emas, medali, senjata, koin yang mungkin masih terkubur bersama tentara-tentara itu.

“Tentara-tentara itu pasti punya keluarga, mungkin ada yang punya anak, mereka juga pasti pernah merasakan jatuh cinta,” ujar Ilya. “Menjadi yang tak diketahui bukanlah hal yang bisa dibanggakan. Kami datang untuk membuat mereka menjadi diketahui,” tambahnya.

Pihak pemerintah Rusia, yang paling bertanggung jawab dalam hal ini mengatakan kalau wajar bila banyak tentara tak dikuburkan dengan sempurna. Sebab sangat tak banyak waktu untuk mengubur, ditengah panasnya gejolak perang saat itu.

“Dalam waktu hanya tiga bulan, tentara Jerman sudah dapat menginvasi daerah seluas 2.000 km milik Uni Sovyet waktu itu. Sangat banyak personil tentara merah yang tewas, atau hilang. Jadi mustahil memikirkan masalah penguburan, pada saat kondisi serupa itu,” imbuh Valery Kudinsky, pejabat dari Kementerian Pertahanan Rusia yang bertanggung jawab terhadap masalah penguburan saat perang.

Setelah perang usai, prioritas selanjutnya adalah membangun kembali kota yang hancur, katanya. Namun Valery tak dapat menjelaskan mengapa upaya pembersihan lokasi perang tak dilanjutkan, dan mengapa para tentara yang mati tak diidentifikasi dan dikuburkan dengan layak. (bbc/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s