Pejuang Anti Apartheid Sebelum Nelson Mandela

nokutela

dok.BBC NOKUTELA DUBE

Nama Nokutela Dube mungkin kurang akrab terdengar di telinga. Padahal seabad sebelum Nelson Mandela meneriakan anti rasial dan persamaan hak, ia telah mendahului bersama suaminya, yang kemudian mendirikan partai paling berpengaruh di Afrika Selatan saat ini, Kongres Nasional Afrika (ANC).

“Tuan Presiden, Saya datang untuk melaporkan kepada anda kalau Afrika Selatan telah merdeka sekarang.” Demikian pidato Nelson Mandela menggema, usai memenangkan pemilihan umum paling demokratis di Afrika Selatan, setelah rejim apartheid lengser, tahun 1994.

Kemenangan Mandela, tak lepas dari nama John Dube. Ia adalah pendiri partai ANC, yang kemudian menjadi gerbong politik Mandela. Namun saat nama Dube banyak diingat orang Afrika Selatan sekarang. Nama tersebut sebenarnya tak bisa dilepaskan dari ingatan mengenai istrinya, Nokutela Dube.

Nokutela Dube, dikenal dengan nama lahir Nokutela Mdima. Ia lahir tahun 1873, di daerah Inanda, dekat kota Durban di timur Afrika Selatan. Setelah lulus sekolah, ia kemudian bekerja sebagai guru dan menikahi John Dube tahun 1849. Pasangan itu kemudian pindha ke Amerika Serikat (AS), meneruskan pendidikan misionaris mereka di Institut Brooklyn, New York.

“Ia terlihat muda, dengan mata hitam yang berbinar, kulit coklat yang halus,” urai sebuah artikel di New York Tribune, menggambarkan sosok Nokutela, pada tahun 1898.

“Ia juga berbicara dengan bahasa Inggris yang lancer, juga menampakan daya tariknya dengan suara yang lembut. Kesopanan menjadi kelebihan tersendiri darinya,” tambah artikel itu lagi.

Ketika di New York, pasangan suami istri itu kemudian terinspirasi pendapat Booker T Washington, seorang pendidik yang berargumentasi kalau orang kulit hitam baru bisa membuat kemajuan politik, bila telah membuat kemajuan ekonomi.

Setelah kembali ke rumah mereka di Inanda, pasangan ini kemudian menjadi orang kulit hitam pertama yang mendirikan sekolah di Afrika Selatan. Pada tahun 1900 mereka meresmikan Institut Ohlange yang masih berdiri hingga sekarang.

“Keluarga Dube menciptakan spirit nasional yang dibawa oleh murid-murid mereka diseluruh negeri, dibawah atap yang sama,” kata Prof Cherif Keita, Direktur Studi Program Afrika di Carleton College, Minnesota.

“Mereka menciptakan generasi pemimpin,” tambah Keita lagi.

Kesuksesan sekolah Ohlange tak lepas dari peran serta Nokutela. Menurut Keita meskipun banyak sumber menyebut pendiri sekolah Ohlange adalah John Dube, namun nama Nokutela tak bisa dilepaskan begitu saja.

“Banyak sumber mengatakan kalau pendiri sekolah Ohlange hanya John Dube seorang. Itu tidak betul. John dan Nokutela Dube tak akan bisa membuat sekolah itu tanpa bekerjasama satu sama lain,” urai Keita.

Rekan kerja Keita, Prof Heather Hughes, sejarawan dan pembuat biografi tokoh Afrika Selatan bercerita kalau Nokutela memulai karir sebagai guru dengan membuka kelas musik. Kelas musik itu menghasilkan murid yang bisa komposisi musik dan membuat paduan suara. Selain itu ia juga membuka kelas memasak, menjahit dan merawat rumah.

“Pakaian yang dibuat anak-anak disekolah itu, tak kalah dengan baju-baju yang dijual di Durban,” kata Heather.

Kemampuan artistik dari Nokutela diklaim sebagai kunci menuju penguatan keseluruhan kesadaran akan politik dan persiapan terhadap kaum intelektual baru Afrika,” tambah Heather.

Mereka kemudian membuat surat kabar, dan membaut buku mengenai lagu suku nenek moyang orang Afrikas Sealtan, Zulu. Mereka juga mempopulerkan lagu Nkosi Sikelel’ iAfrika atau Tuhan Memberkati Afrika, yang kemudian menjadi bagian dari lagu kebangsaan negara Afrika Selatan sekarang.

Keluarga Dube setidaknya dua kali bolak-balik ke AS, untuk mencari dana setelah pendirian sekolah itu. Biasanya mereka memainkan lagu tradisional suku Zulu, dengan menggunakan piano dan harpa.

Pada tahun 1912, reputasi John Dube sebagai pendidik membuatnya memimpin Kongres Nasional Orang Asli Afrika Selatan, yang kemudian menjadi partai ANC. Tujuan organisasi tersebut melakukan protes melawan diskriminasi rasial dan meminta keadilan untuk persamaan hak.

Sayangnya saat John menjadi pemimpin organisasi itu, mereka akhirnya berpisah ranjang. Banyak rumor yang disebutkan menjadi sebab perpecahan tersebut. Termasuk Nokutela yang dikatakan mandul, setelah 20 tahun perkawinan mereka. John kemudian diisyukan memiliki anak dari perempuan lain yang tak sah secara pernikahan.

Nokutela kemudian memilih meninggalkan John dan berdiam di region Transvaal. Ia kemudian membaktikan diri sebagai biarawati, sampai kemudian penyakit karena ginjal membunuhnya.

Film mengenai keluarga Dube, menurut rencana akan dibuat melalui pencarian data yang dilakukan Prof Cherif Keita. Nantinya film tersebut juga akan diputar pada ajang Festival Film Perancis, Cannes sebelum akhir tahun 2014 ini. (bbc/sulung prasetyo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s