Nestapa Janda Sherpa

Manuka Magar-Gurung hanya bisa termenung. Bersama anak lelakinya yang masih kecil, ia menceritakan apa yang pernah terjadi pada suatu pagi yang dingin di Nepal. Ketika longsor menimbun 16 orang Sherpa, saat membantu pendakian ke pucuk gunung tertinggi dunia, Everest.

Suaminya, Aash Bahadur Gurung adalah salah satu Sherpa yang tertimbun. Untungnya jenazah Bahadur bisa ditemukan. Tidak sesial tiga teman lainnya, yang masih tertimbun tanpa diketahui jasadnya.

“Saya masih merasakan dia hidup,” kata Manuka lirih.

Mukanya kemudian terlihat sedih. Ia berusaha mengontrol tangisnya. Sementara anak lelakinya, Anish Gurung (10 bulan) hanya menunjukan muka tak mengerti.

“Sebelum pergi ke Everest, dia bilang ini terakhir kali ia bekerja menjadi pemandu.

“Dia ingin pergi ke Amerika. Ia ingin bekerja disana dan menghasilkan uang dan hidup kami akan lebih baik,” cerita Manuka lagi.

16 orang pemandu gunung, yang berasal dari suku Sherpa, Nepal tewas pada 18 April 2014 lalu. Mereka tertimbun longsor saat menyiapkan pendakian, di daerah Khumbu Glacier. Lokasinya tak jauh dari kemah induk pendakian, terkenal sebagai daerah yang rawan longsor. Hingga terakhir kali masih ada tiga pemandu, yang belum ditemukan jasadnya.

Anita Lama, janda dari Asman Tamang, yang juga tewas tertimbun mengaku shok mengalami kejadian tersebut. Bersama anak perempuan yang masih berumur 11 bulan, ia bilang tak tahu bagaimana harus menjalani hidup selanjutnya.

“Dia mulai bekerja di gunung sejak empat tahun lalu kalau tak salah.

“Sebelum kejadian dia bilang akan kembali setelah dua bulan. Dia berencana akan membangun rumah kami setelah dua tahun pernikahan kami,” urai Anita.

Setelah tragedi itu terjadi, pemerintah Nepal segera mengeluarkan pernyataan akan memberikan kompensasi dan paket asuransi bagi keluarga para korban, yang berjumlah sekitar US$ 15.000. Namun kebanyakan keluarga korban keberatan dengan jumlah kompensasi tersebut.

Nimi Sherpa, yang merupakan bibi dari Phurba Ongyal Sherpa, yang juga tewas dalam kejadian itu mengatakan kalau pemberian yang diberikan pemerintah tak sampai sebesar itu. Ia mengatakan kalau pemerintah Nepal hanya memberikan uang sebesar US$ 400.

“Kami diperlakukan seperti pengemis saja,” kata Nimi.

“Kami yang paling akan menderita dari kejadian itu, itulah mengapa banyak orang Sherpa memutuskan pindah dari negeri ini,” ujar Nimi.

Orang Sherpa dipercaya berasal dari migrasi penduduk timur Tibet, ratusan tahun lalu. Hingga sekarang, populasi orang Sherpa diperkirakan mencapai 112.000 orang, berdasarkan Sensus Populasi dan Rumah Nepal 2011.

Kata “Sherpa” kini diidentikan sebagai orang Nepal yang membantu atau memandu pendakian gunung di Himalaya. Padahal tak semua pemandu gunung sebenarnya tak berasal dari suku Sherpa, yang banyak berdiam di daerah Solukhumbu.

Berdasarkan data dari Asosiasi Pendaki Gunung Nepal (NMA),s ekitar 9.000 Sherpa terdaftar sebagai pekerja untuk pemandu dan pembantu pembawa barang untuk pendakian gunung. Perkirakan nilai gaji yang diberikan sekitar US$ 5.000 – 7.000 per satu musim pendakian. Gaji tersebut diklaim lebih tinggi beberapa kali lipat, daripada pendapatan penduduk Nepal pada umumnya.

Tapi pekerjaan Sherpa sebenarnya mengandung resiko tinggi. Karena harus menyiapkan peralatan dan jalur pendakian, sebelum pendaki memulai perjalanan. Seperti pada kejadian longsor itu, kebanyakan yang tewas berasal dari kalangan Sherpa. Saat mereka menyiapkan pendakian di pagi hari.

Nima Sherpa, yang kehilangan anak lelakinya, Ang Kaji Sherpa pada longsor itu merasa cemas pada masa depan enam cucunya.

“Ia pergi ke gunung untuk menghasilkan uang, untuk membeli makan harian keluarga, juga membuat rumah. Sekarang siapa yang mengambil alih tugas itu?” Tanya Nima.

Cucunya yang paling besar, Chhechi Sherpa baru berusia 19 tahun. Chhechi juga masih harus sekolah di Kathmandu. Tapi setelah kematian ayahnya, Chhechi sebagai anak tertua tampak harus merelakan pendidikannya, untuk bekerja dan menghasilkan uang mengganti tugas ayahnya. (bbc/sulung prasetyo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s