Apai Janggut, Menjaga Hutan Untuk Kehidupan

Akhirnya Apai Janggut mau juga jalan bersama melihat hutan adat mereka. Sebelumnya ia terlalu sibuk dengan urusan di rumah betang. Dengan membawa Mandau khas miliknya, kami berjalan bersama menuju jalan raya.

Setelah berjalan lima belas menit dijalan raya berbatu, tiba-tiba Apai Janggut membelok ke kanan. Ia kemudian melompat sungai kecil, dan mengajak kami masuk ke dalam hutan. Humus terasa tebal dan basah menutupi kaki. Sepatu yang dipakai sampai terasa lembab. Sementara lumut bertebaran disana-sini. Warna hijaunya memenuhi batang-batang akar yang mencuat, hingga ke batang besar pepohonan.

Di dalam hutan yang lembab, Apai bercerita banyak mengenai hutan. Pandangan orang-orang adat mengenai hutan. Bagaimana ia sejak kecil sudah diajari menjaga hutan oleh orang tuanya, yang mantan tetua adat Dayak Utik juga.

“Anak muda seharusnya selalu ingat akan kebutuhan untuk melindungi kelestarian hutan. Sebagai perbandingan, hutan itu ibarat nafas kehidupan sementara tanahnya adalah dagingnya,” kata Apai Janggut, sambil mengayun-ayunkan mandaunya.

Tangan keras Apai Janggut kemudian tampak mengayun kencang. Mandau ditangannya melibas batang pohon kecil, dan menancap di akar besar pohon Jelutung. Tampak getah putih cair kemudian merembes keluar. Getah itu turun merembes melewati daun-daun kecil disela lumut.

“Hutan adalah sumur dunia. Dari hutan ada banyak air keluar, tanah juga terjaga. Tanpa tanah kita bukan apa-apa,” ujar Apai Janggut.

Apai Janggut yang saya lihat sekarang, bukan seperti perkiraan mengenai gestur orang Kalimantan yang gemar mengayau kepala. Tubuhnya tak terlalu gemuk, tapi kukuh. Dengan beberapa tattoo bunga terung ala Dayak Iban menghias ditubuhnya.

Apai Janggut terkenal karena memang janggutnya panjang. Putih dan panjang. Dengan rambut agak bergelombang, tapi putih juga. Apai sendiri artinya bapak atau tetua di rumah panjang Dayak Utik, Kalimantan Barat.

Kata Apai Janggut, ia lahir tahun 1914 dulu. Nama aslinya Bandi. Hanya satu suku kata, seperti umumnya nama orang di Kalimantan . Kini Apai Janggut bertugas sebagai tetua adat di rumah panjang Dayak Utik itu. Karena urusannya sebagai tetua adat itu juga, membuat Apai Janggut kerap mengurus masalah-masalah adat, dengan pemerintah dan perusahaan.

Salah satu urusan yang paling serius merupakan hutan adat milik mereka. Pasalnya hutan adat seluas 9.605 hektare (ha) tersebut, terancam keberadaannya oleh perusahaan penebangan kayu yang tumbuh subur disekeliling mereka. Tercatat ada tiga perusahaan penebangan kayu kini mengepung kawasan adat mereka. Tiga perusahaan tersebut adalah PT Benua Indah, PT Bumi Raya Utami WI, dan PT Landjak Deras Jaya Raya. Perusahaan yang terakhir diklaim merupakan investasi oleh investor dari Malaysia , dan mengirimkan kayu-kayunya ke Malaysia .

Karena itu ia merasa sedih, bila banyak saudara-saudara mereka yang mau merelakan tanahnya dibeli, untuk diambil kayunya. Sebab menurutnya semua pohon dan satwa didalam hutan adalah penjaga kehidupan. Tanpa mereka, maka suku Dayak Utik tak akan bisa makan apa-apalagi.

“Seperti udara bersih yang dihasilkan hutan alami. Kalau udara itu bersih, maka hidup kita akan lebih lama. Kalau udara kotor penuh polusi, hidup akan lebih singkat,” kata Apai Janggut memberikan filosofi akan kebutuhan mereka terhadap hutan.

Untuk kawasan hutan lindung sama sekali tidak boleh ditebang, untuk menjaga sumber air, alam dan kualitas udara di wilayah adat Sungai Utik, kata Apai Janggut.

‘”Hutan memberi kami air bersih, sehingga darah kami bersih. Tanah kami utuh, tanah menua dan tidak dibabat. Hutan kami menangkap karbon, gas yang beracun sehingga kami terlindung dan kami tidak terkena penyakit”.

Jika sungai tercemar, menurut Apai Janggut, Suku Dayak Iban yang akan menderita.

“Pencemaran lingkungan sungai, tanah, kayu, tapi siapa yang akan mengatasi limbah. Limbah merkuri mengalir memalui sungai dari puncak sampai kaki gunung, dimakan masyarakat, siapa nanti yang bisa bertanggung jawab ?”

Berbagai alasan itu pula yang membuat suku Dayak Iban di kawasan Sungai Utik menolak tawaran investor untuk mengubah hutan adat menjadi perusahaan kayu, yang banyak dibuka di kawasan perbatasan Sarawak Malaysia itu.

Apai Janggut juga kerap berhadap-hadapan dengan pihak perusahaan penebangan kayu yang ingin mencuri kayu di hutan adat mereka. Bila ketahuan mereka tak segan untuk memperingati dan mengusir pencuri tersebut. Bila terus dilakukan akan diberikan hukuman secara adat. Bila tak mempan juga, maka penghuni rumah betang Utik siap menghunus Mandau dan berkonfrontasi dengan perusahaan kayu tersebut.

Hingga saat ini untungnya tak ada konflik serius pernah terjadi dengan perusahaan kayu. Masalah yang pernah terjadi biasanya selesai sebatas hukuman adat. “Dan itu pernah terjadi,” kata Apai.

Karena kekukuhan menjaga adat, termasuk hutan milik mereka tersebut orang-orang Dayak Utik pernah mendapatkan penghargaan dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan Kementerian Kehutanan.

Namun lebih dari penghargaan tersebut, ternyata ideologi menjaga hutan bahkan telah dimiliki oleh kalangan masyarakat adat, sejak jaman dulu. Tak berubah, dengan penjaga-penjaga seperti Apai Janggut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s